Istana Pelihara Buzzer?

0
1003
Istana Pelihara Buzzer?

Baru-baru ini Kantor Staf Presiden (KSP) bentukan Jokowi menuai banyak kritikan. Hal ini tak lebih dan tak kurang karena keberadaan KSP dinilai banyak orang bertabrakan dengan badan-badan yang lain. Sebelumnya sudah Setkab dan Sesneg yang fungsinya hampir sama.

Pihak istana beralasan KSP bertugas membantu presiden dalam menjalankan tugasnya yang banyak. Oleh sebab itu, presiden baru-baru ini kembali menambah 4 orang menjadi staf khusus presiden. Jadi, hari ini staf khusus presiden telah berjumlah 9 orang.

Banyaknya jumlah staf khusus yang dimiliki Jokowi ini sebenarnya malah memperlihatkan lemahnya leadership Jokowi. Terlihat Jokowi tidak memiliki kapasitas menjalankan negara, sehingga ia memerlukan staf khusus sedemikian banyak. Padahal kabinet Jokowi sebelumnya diklaim diisi oleh orang-orang yang professional di bidangnya.

KSP bentukan Jokowi ini dinilai banyak pihak dapat diselewengkan menjadi agenda setting istana untuk memuluskan langkah Jokowi di Pemilu 2019. KSP ini terkesan abuse of power.

4 tahun berjalan pemerintahan Jokowi tidak terlihat kinerja yang signifikan dari stafsus Jokowi. Malah yang banyak bermunculan adalah blunder stafsus Jokowi dalam mengelola media sosial. Sebelumnya, ada cuitan dari akun resmi negara yang digunakan untuk mengkampanyekan Jokowi. Baru-baru ini yang bikin heboh, admin twitter Jokowi malah memposting dukungannya kepada kelompok girlband tanah air, JKT48.

Baca juga  Ikan Tongkol dan ‘Ganti Presiden’, Kedewasaan Berpolitik vs Provokasi di Debat Pilkada

 

Hal ini mengindikasikan lingkungan istana sudah menjadi industrialisasi buzzer. Buzzer dikelola untuk menangani media sosial dan melakukan framing. Satu orang bisa jadi memiliki lebih dari satu akun.

Analisanya sederhana, jika admin Jokowi tidak berlaku sebagai buzzer tentu dia tidak akan salah dalam memposting berita. Apalagi postingan itu keluar dari akun Jokowi. Artinya, admin tersebut bisa jadi memiliki lebih dari satu akun.

Jika benar stafsus tersebut ditugaskan untuk menjaga media sosial dan framing seperti yang banyak diberitakan, berarti tidak salah kalau Jokowi memelihara buzzer di dalam istana. Ini artinya Jokowi melakukan peperangan dengan rakyat dari dalam istana.

Tidak salah kiranya Rocky Gerung mengatakan, “Hoax terbaik adalah hoax versi penguasa, peralatan mereka lengkap, statistic, intelijen, editor, panggung, media. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna.”

Baca juga  Pasang Ngabalin, Jokowi Mainkan Jurus Silat Sambil Becanda

Jika framing yang dibuat oleh stafsus presiden malah membuat gaduh dan kacau menjelang Pemilu 2019, tentu Jokowi harus membayar mahal itu semua. Jokowi harus siap dengan segala konsekuensinya dalam memobilisasi buzzer.

Jokowi sudah seharusnya segera membersihkan lingkungan istana dari buzzer yang setiap hari hanya mengelola medsos dan framing. Jika Jokowi toh tetap butuh orang-orang untuk menjaga medsos dan framing, Jokowi bisa menyewa ruko dan mempekerjakan mereka secara professional tanpa menggunakan uang negara.

Lebih baik uang negara digunakan untuk kepentingan rakyat yang saat ini sedang terjepit ekonominya. Daya belinya lemah, harga dollar mencapai 14.000 rupiah, harga TDL meningkat, dan banyak lagi yang lainnya.

Miftah Fajrin, Relawan Aliansi Masyarakat Bebas Berita Bohong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here