Jalan Tengah Penentu Pilpres 2019

0
266

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan politik di tahun 2004 agaknya sedikit kelabakan melihat hasil Pilpres saat itu. Dimana SBY secara mengejutkan dapat mengambil alih kekuasaan dari incumbent Megawati. Partai Demokrat yang baru seumur jagung dan koalisi kerempeng yang dibangun dengan PBB dapat mengantarkan SBY-JK menjadi kampiun.

Melihat komposisi koalisi partai pada saat itu, persaingan justru terlihat antara Megawati- Hasyim Muzadi dan Wiranto- Salahudin Wahid. Pertarungan kedua kubu ini terasa kental di permukaan, karena pada saat itu kelompok Nahdiyin masih merasa sakit hati kepada Megawati karena dianggap mengkhianati Abdurahman Wahid. Diketahui berdasarkan pernyataan Abdurahman Wahid (Gus Dur), orang yang harus bertanggung jawab dibalik pelengserannya adalah Megawati dan Amien Rais.

Dengan dinamika politik pada saat itu, maka tidak heran kita melihat anomali politik. Anomali itu terlihat ketika Golkar bersatu dengan PKB mendukung pasangan Wiranto- Salahudin Wahid. Kedua partai pendukung pasangan ini sebelumnya kerap berbenturan. Contohnya ketika mencuat soal pemecatan Jusuf Kalla dan Laksana Sukardi oleh Abdurahman Wahid, misalnya, Fraksi Partai Golkar bekerja sama dengan F-PDIP dan Fraksi Reformasi mengusung perlunya hak interpelasi. Sementara dalam rapat paripurna DPR 29 Juni 2000, FKB, F-Kesatuan Kebangsaan Indonesia (KKI), F-PDU, dan F-Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) bersikap menolak.

Golkar dan PKB yang mengusung Wiranto- Salahudin mempunyai cukup modal besar saat itu. Gabungan koalisi kedua partai ini memiliki lebih kurang 33 persen suara dewan yang lolos ke Senayan. Diketahui pada Pileg 2004 Golkar meraih suara sebanyak 23,7 sebagai partai pemenang, sementara PKB memiliki modal sebanyak 9,45 persen yang berada diurutan ketiga partai pemenang Pileg 2004.

Sementara itu, Megawati sebagai incumbent juga tidak mau kalah begitu saja. Dia mempunyai kekuasaan, mempunyai sumber daya yang mumpuni, dan memiliki koalisi yang kuat. Megawati yang saat itu maju bersama Hasyim Muzadi didukung penuh oleh PDI Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan. Artinya, koalisi dua partai ini memiliki kurang lebih 30 persen suara dewan.

Baca juga  Klaim PKS Bisa Lemahkan Gerakan #2019GantiPresiden

Pada Pileg 2004, partai besutan anak Presiden RI pertama ini meraih posisi dua dengan perolehan sebesar 19,82. Sementara PPP mendulang suara sebesar 10,55 persen dengan meraih posisi keempat di bawah PKB. Modal dukungan besar inilah yang membuat pertarungan awalnya diprediksi akan sengit antara Megawati- Hasyim dan Wiranto- Salahudin.

Namun, fakta berkata lain. Kedua pasang calon itu malah terjungkal. Wiranto- Salahudin terlebih dahulu tersingkir diputaran pertama menyisakan pertarungan head to head antara Megawati- Hasyim dan SBY-JK. Setelah itu, Megawati pun meratapi kekalahannya setelah terjungkal di putaran kedua. Megawati yang saat itu kalah, enggan menghadiri pelantikan SBY-JK dan ini dianggap banyak pihak tidak etis.

Ada beberapa hal yang membuat kenapa kenapa dua poros yang diprediksi bersaing ketat ini terjungkal. Pertama yaitu kemuakan masyarakat melihat konflik antara Megawati dan Gus Dur yang saat itu representasi warga Nahdiyin. Duet Gus Dur dan Megawati yang sebelumnya dianggap akan memberikan angin segar bagi perkembangan demokrasi dan ekonomi pada saat itu hanya sebatas retorika semata.

Pada kenyataan dan perjalanannya, kedua sosok ini hanya memperlihatkan intrik-intrik politik untuk salin jatuh menjatuhkan satu sama lainnya. Perang kedua kubu akhirnya membuat masyarakat mencari sosok alternative yang memungkinkan bisa membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Dan sosok itu berkemungkinan didapatkan dari sosok duet militer sipil yang saat itu menang, SBY-JK.

Baca juga  Aman Abdurrahman Pantas Dihukum Mati, Korbannya Anak-Anak

Kedua, ternyata koalisi gemuk yang dibuat oleh dua kubu ini ternyata bak gajah yang lamban dalam bergerak. Berbeda dengan SBY-JK yang saat itu hanya didukung PD dan PBB yang hanya memiliki suara 11 persen dari suara dewan. Namun, strategi mereka pada saat itu adalah memilih berkoalisi dengan rakyat dengan sedapat mungkin menyambangi semua daerah yang ada di Indonesia. Koalisi rakyat inilah yang mengantarkannya menjadi pemenang di 2004. Strategi yang sama juga diterapkan Jokowi pada 2014, dengan koalisi rakyat Jokowi berhasil menjadi Presiden setelah sebelumnya meredam syahwat politik Megawati yang ingin kembali mencalonkan diri.

Bagaimana dengan Pilpres 2019?

Konflik pribadi Prabowo dan Megawati yang sampai hari ini masih awet, tidak tertutup kemungkinan akan membuat masyarakat menjadi muak. Lihat saja kondisi factual hari ini, Gerindra dan koalisinya banyak diasosiasikan sebagai partai yang mengedepankan politik identitas dengan membawa isu agama. Sementara di wilayah yang berseberangan, PDIP diasosiasikan sebagai partai yang anti dengan islam.

Kedua isu inilah yang dikhawatirkan akan menjadi ladang konflik pada pemilu 2019. Jika ini tetap diawetkan menjelang 2019, maka tidak tertutup kemungkinan kondisi pada Pilpres 2004 akan kembali terulang. Masyarakat akan memilih calon-calon alternatif yang jauh dari dua asosiasi negative tersebut. Siapa mereka? Menarik untuk ditunggu.

Rafatar Abdul Gani, Analis Politik Indonesia Bermartabat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here