Jangan Bohongi Umat cuma demi Menangkan Prabowo

0
2949
Jangan Bohongi Umat cuma demi Menangkan Prabowo

Belakangan ini saya melihat ada upaya mendegradasi poros ketiga di Pilpres 2019. Macam-macam saja yang disebut. Mereka menyebar fitnah bahwa poros ketiga akan melemahkan barisan umat dan membuat spirit umat 212 akan kabur dan buram.

Mereka menyebut hanya Prabowo, Partai Gerindra dan PKS yang mewakili spirit umat Islam. Apalagi ada rumor bahwa poros ketiga adalah “pesanan” Jokowi untuk meluluh-lantaskan perjuangan umat Islam yang ingin menjungkal Jokowi dan menaikan Prabowo Subianto.

Strategi boleh-boleh saja, tapi jangan kebangetan lah. Pakai rasionalitas dan sopan santun ala Nusantara.

Isu-isu di atas nyata-nyata mengkerdilkan umat Islam Indonesia. Seolah-olah umat Islam Indonesia hanya kepikiran jungkal Jokowi dan angkat Prabowo. Padahal kita sama-sama paham. Jokowi itu muslim, begitu pula Prabowo.

Terlebih ada banyak nama-nama kandidat alternatif selain Jokowi dan Prabowo. Ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, Tuang Guru Bajang, dan banyak lagi tokoh muda lainnya. Semua nama yang saya sebut itu sama-sama Islam.

Jadi saya berpikir isu ini sengaja dilempar agar poros ketiga yang sedang digagas Partai Demokrat, PKB dan PAN bukan cuma gagal, tetapi juga merapat kepada poros Prabowo.

Menggariskan Pilpres 2019 sebagai jibaku umat Islam untuk menjungkal Jokowi dan menaikan Prabowo amat menyesatkan. Jikalau ini yang terjadi, mustahil nama-nama kandidat alternatif akan muncul ke permukaan. Malahan nama-nama alternatif muncul karena publik Indonesia, yang mayoritas Islam, ragu akan kepemimpinan Jokowi dan Prabowo ke depan.

Baca juga  Mengukur dan Menakar Kehendak Tuhan ala Amien

Survei-survei persepsi publik mengambarkan tren menurunnya elektabilitas Jokowi dan Prabowo dari waktu ke waktu. Suara Jokowi dan Prabowo bergeser ke kandidat-kandidat alternatif. Dan fakta tak terbantahkan adalah yang namanya survei persepsi publik secara nasional sudah pasti umat Islam Indonesia yang jadi mayoritas respondennya.

Ambil contoh survey Median Februari 2018 silam.  Elektabilitas Jokowi turun jadi 35%, Prabowo turun jadi 21,2%, dan pemilih yang belum memutuskan ada 16,1%. Tiga kandidat alternatif papan atas adalah AHY, Anies dan Gatot dengan total elektabilitas 13,3%, di mana elektabilitas mereka cenderung naik.

Apa yang bisa kita baca dari hasil survei ini?

Pertama, mayoritas pemilih Indonesia ingin presiden baru. Ini tergambar dari elektabilitas pemilih non Jokowi yang mencapai 48,9%—jauh lebih tinggi dari elektabilitas Jokowi yang cuma 35%.

Kedua, mayoritas pemilih Indonesia ingin penantang Jokowi selain Prabowo. Ini tergambar dari elektabilitas pemilih non Jokowi, tapi memilih kandidat alternatif di luar Prabowo yang mencapai 27,7%, sementara elektabilitas Prabowo cuma 21,2%.

Ketiga, adanya 16,1% pemilih yang belum memutuskan adalah bukti kegagalan Jokowi dan Prabowo. Mengapa? Karena Jokowi dan Prabowo tak bisa dibandingkan aple to aple dengan para kandidat alternatif. Jokowi adalah kandidat petahana, sementara Prabowo sudah dua kali ikut Pilpres. Kalau ada pemilih yang ragu dengan Jokowi atau Prabowo artinya wasallam buat keduanya. Alih-alih menjatuhkan pilihan kepada Jokowi dan Prabowo, mereka berpotensi besar menjatuhkan pilihan kepada kandidat alternative.

Keempat, poros ketiga adalah harapan. Dengan modal 27% suara, poros ketiga berpeluang besar menang Pilpres apabila bisa mengerucutkan nama capres-cawapres yang tepat untuk merepresentasikan poros ini. Mereka berpotensi besar pula meraup suara pemilih yang belum memutuskan, yakni 16,1%.

Baca juga  Sengkarut Tata Kelola Negara

Hasil seperti ini tak cuma berlaku di Median. Bukalah survei-survei lembaga lainnya, hasilnya tak jauh berbeda. Rakyat ingin kandidat alternatf selain Jokowi, dan kandidat itu bukanlah Prabowo.

Sehingga tiga isu menyesatkan itu terbantahkan sudah. Kesimpulan yang benar adalah umat Islam tengah mencari kandidat alternatif di luar Jokowi dan Prabowo.

Kedua, Prabowo, Partai Gerindra dan PKS tak pernah menjadi satu-satunya representasi spirit umat Islam. Spirit itu tersebar ke kandidat-kandidat alternatif yang lain, ke partai-partai yang lain. Apa kita ingin menyebut TGB dan Muhaimin Iskandar bukan representasi spirit umat Islam Indonesia. Apa kita ingin menuduh PAN dan PKB yang berafiliasi tidak langsung dengan Muhammadiyah dan NU jauh dari spirit Islam Indonesia? Ada yang salah dengan otak kita kalau sampai berpikir begitu.

Terakhir, poros ketiga tidak akan melemahkan barisan umat Islam. Malahan poros ketiga adalah jawaban apabila umat Islam Indonesia ingin Jokowi cukup sampai 2019 saja.

Oleh: Rahmat Thayib, penggiat Demokrasi Berkeadaban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here