Jangan Memintal Angan-angan Swasembada Pangan Calon Presiden

0
Jangan Memintal Angan-angan Swasembada Pangan Calon Presiden

Pembahasan Isu swasembada pangan terutama beras dan jagung kembali mengemuka setelah calon Presiden Prabowo Subianto dengan lantang meneriakkan tidak akan melakukan kebijakan impor jika ia terpilih menjadi Presiden di Pilpres 2019 mendatang. Membaca data dan fakta, cita-cita nawacita dan gerakan revolusi mental Presiden Joko Widodo untuk swasembada pangan, ibarat panen padi sehabis terserang hama wereng.

Pergerakan harga pangan saat ini masih menjadi persoalan akibat inflasi dan spekulasi. Sebut saja, beras, jagung, telur, daging ayam, dan bawang harganya terus menanjak di tingkat konsumen. Sedangkan ditingkat produsen petani rendah dan cendrung merugikan pelaku usaha pertanian. Pergerakan harga dan produksi yang tidak tercatat baik ditingkat pelaku dan dinas terkait. Menghasilkan data yang tidak akurat, dan cenderung mengada-ada. Akibat adalah kesalahan data, kesalahan pengambilan kebijakan ditingkat pemerintah, terutama Kementerian Perekonomian.

Kebijakan impor beras lebih dari 2 juta ton beras yang menghasilkan polemik dan tetap dilaksanakan oleh Kementrian Perdagangan periode Januari-Oktober 2018. Sama dengan empat tahun Jokowi menjadi Presiden. Jumlah impor beras menanjak tujuh kali lipat dibanding tahun lalu 305 ribu ton beras. Bahkan, melampaui impor beras tahun 1998 saat Indonesia dilanda krisis moneter sebanyak 2,89 juta ton.

Menelisik sejarah era Presiden Soeharto, Prabowo dan kubunya berstatemen untuk tidak mengimpor pangan. Prabowo dan kubunya bahkan berjanji akan membawa swasembada pangan dalam kepemimpinannya kelak, jika terpilih. Janji seperti memintal angan-angan dengan data-data yang tidak mendukung dan nasib petani dikorbankan.

Setelah 16 tahun baru bisa swasembada beras.

Era Presiden Soeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun, kenyataannya tidak mudah bagi untuk berswasembada pangan. Gerakan Revolusi Hijau sebagai platfrom Presiden Soeharto, ia membawa Indonesia swasembada setelah 16 tahun memimpin, yakni pada 1984. Itu pun, tak benar-benar tanpa impor. Namun menyisakan impor laten dan kemiskinan laten bagi petani. Perbaikan ini baru terlihat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara bertahap mengurangi impor pangan.

Baca juga  Pidato Kebangsaan Prabowo Bakal Paparkan Visi Misi

Menteri Pertanian Amran Sulaiman merujuk penghargaan dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) berbentuk medali emas dengan gambar Soeharto untuk Indonesia. Namun, kenyataan impor beras masih dilakukan sebanyak 414 ribu ton. Swasembada itu hanya bertahan selama lima tahun.

Setelah itu, pemerintah Indonesia bergantung pada impor beras dari negara Vietnam, Thailand. Menginjak tahun 2000-an, impor menjadi makanan sehari-hari rakyat Indonesia. Pada 2000, impor mencapai 1,35 juta ton. Kemudian meningkat menjadi 1,80 juta ton pada 2002 dan 1,42 juta ton pada 2003.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan pencapaian swasembada beras Era Soeharto didorong upaya pemerintah memaksimalkan kebijakan subdisi tidak langsung kepada petani. Berupa subsidi pupuk, pertisida. Dimana Kementerian Pertanian melakukan bimbingan massal bagi petani ke daerah-daerah untuk mengamankan agar produksi beras tercapai. Sedangkan sekarang masih ada bimbingan massal lewat penyuluh pertanian dengan kondisi dan faktor berbeda.

Pengamat Pertanian dan Direktur Pusat Penelitian Sustainable Food Studies Universitas Padjajaran Ronnie S Natawijaya menambahkan swasembada beras masa Orde Baru juga didukung totalitas Operasi Pasar (OP) dan anggaran biaya sangat besar dan tidak terbatas.

Belajar dari sejarah menurut Rusli dan Ronnie swasembada pangan khusu beras bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan oleh pemerintah selanjutnya.

Rusli mengutakan bawah tekad swasembada pangan yang digelorakan Prabowo dan kubunya sebenarnya bisa saja terealisasi. Tekad itu didukung oleh banyak faktor. Salah satunya, lahan pertanian potensial di Indonesia yang jumlahnya bejibun. Sedangkan Ahmad Gazali pelaku dan konsultasan tanam padi sebatang panen tiga kali. Hal ini bisa diwujudkan dengan perbaikan kualitas tanah pertanian, penggunaan teknologi tepat guna, termasuk mekanisasi pertanian.

Swasembada pangan membutuhkan ada usaha besar dan pemodelan terapan setiap Propinsi sebagai sentral belajar, tata niaga dan penciptaan pengusaha bidang pertanian untuk mewujudkan tekad swasembada pangan. Bahkan perlu waktu yang tidak sebentar, sebab untuk melahirkan pengusaha dan ekosistem membutuhkan waktu minimal 10 tahun ungkap Ahmad Gazali. Disisi lain, tantangan pertumbuhan permintaan yang melesat. Maklum, pertumbuhan penduduk Indonesia boleh dibilang cukup kencang yang tidak berkeinginan untuk menjadi pelaku pengusaha bidang pertanian. Ada strotip menjadi pengusaha pertanian itu kurang keren. Maklum berkantor disawah, diladang dan tidak digedung pencakar langit.

Baca juga  Mimpi Buruk Ini Harus Dihentikan, Ganti Presiden Solusinya

Pembangunan irigasi semenjak tahun 1971 sampai sekarang dan penuntasannya masih butuh waktu. Asharul Haq pelaku dan penggiat pertanian organik terpadu di Batu Sangkar menyatakan bahwa jika harga komoditi pangan bagus dan ada manajemen rantai pasok. Maka petani dan pelaku usaha bidang pertanian akan mampu membuka lahan yang selama ini tidur dan tidak tergarap. Hal ini mengacu kepada budaya petani palawija di beberapa daerah.

Pemanfaatan teknologi digital yang populer dengan “Era Baru Pertanian 4.0” yang menyatukan antara pelaku usaha pertanian dengan konsumen terintegrasi adalah bagian dari solusi. Disamping menjadikan beberapa kebijakan mengoptimalkan HGU yang terlantar menjadi optimal yang dikelola petani dan pendampingan.

Siapapun presiden nanti, keberanian dan keberpihakan untuk mensejahterakan petani secara terpadu dan utuh adalah dasar utama. Dan kasus yang terjadi di Gunung Talang tentang penolakan masyarakat petani di dua Nagari tentang pemanfaatan energi panas bumi “Geotermal” yang memanfaatkan hutan Gunung Talang menjadi pembelajaran untuk mengambil kebijakan lebih membumi, manusiawi dan berkelanjutan dan tidak Asal Investasi Beruntung, Petani & Masyarakat Buntung (AIB PEMATUNG).

Muji Naigolan, Penggiat Pertanian Organik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here