Jejak Rekam Megawati Bisa Gerus Kepercayaan Publik Terhadap Jokowi

0
2563
Jejak Rekam Megawati Bisa Gerus Kepercayaan Publik Terhadap Jokowi

Megawati merupakan Presiden Republik Indonesia ke-5. Dirinya ditetapkan menjadi Presiden menggantikan Abdurahman Wahid pada 23 Juli 2001 melalui Sidang Istimewa MPR. Sayang, sisa waktu yang didapatkan Megawati gagal dimanfaatkannya dengan baik. Berbagai catatan minor membuat putri Proklamator ini harus kalah di Pilpres 2004.

Prestasi minor Megawati yang pertama adalah menjual gas tangguh Indonesia secara murah ke China. Gas tangguh tersebut dijual Megawati pada tahun 2002 dengan harga 5% dari harga minyak. Lebih parahnya lagi, perjanjian yang dibuat dengan China ini berdurasi 25 tahun dengan harga tetap.

Kedua, menjual asset negara. Indosat menjadi perusahaan telekomunikasi yang digadaikan Megawati. PT Indosat sendiri dijual Megawati kepada Singapore Technologies Telemedia (STT). Hal ini menurut berapa pakar menjadi kerugian besar bagi Indonesia. Tidak hanya kerugian secara material, tapi kedaulatan Republik Indonesia juga dipertaruhkan saat data pribadi pelanggan Indosat dipegang pihak asing.

Selain Indosat, Megawati juga menjual asset strategis lainnya seperti kapal tanker milik Pertamina. Lucunya, setelah dijual Megawati malah menyuruh Pertamina untuk menyewa dengan harga yang tidak jauh berbeda. Bank BCA, Bank International Indonesia, dan Bank Danamon juga merupakan korban dari keganasan Megawati dalam menjual asset negara.

Baca juga  Pengamat Sebut Cita-cita Jokowi Bisa Sia-sia

Ketiga yaitu dalam hal ketenagakerjaan. Bagi kelompok buruh pasti tidak akan melupakan hal ini. Megawati merupakan rahim dari kelahiran praktik outsorcing.

Outsourcing merupakan praktek memeras keringat di atas keringat orang lain. Kebijakan Megawati ini membuat nasib buruh menjadi lemah. Tidak ada jenjang karir yang bisa dicapai. Pihak yang paling diuntungkan dari kebijakan Megawati ini adalah para pengusaha. Megawati dalam hal ini gagal menjadi representasi pembela Wong Cilik.

Kegagalan Megawati keempat adalah lepasnya Pulau Sipadan dan Legitan. Hal ini tentunya kerugian besar bagi Republik Indonesia. Kerugian itu mencakup kerugian territorial dan material. Secara territorial, Malaysia membuat batas laut territorial sepanjang 200 mil sehingga menembus ZEE Indonesia. Klaim yang dilakukan Malaysia tersebut dihitung dari pulau Sipadan dan ligitan sepanjang 70 mil yang membuat klaim baru kepemilikan 12 mil laut disekitar pulau karang Ambalat.

Secara ekonomi pulau- pulau ini diduga memiliki kekayaan alam bawah laut yang sangat indah dengan ribuan habitat penyu dengan tebaran karang menjalar dari utara ke selatan dan diduga memiliki kandungan bahan-bahan mineral, minyak dan gas bumi. Kegagalan mempertahankan kedua pulau ini tentunya menjadi dosa besar Megawati dalam menjaga kedaulatan territorial NKRI.

Baca juga  UNO dan Permainan Politik

Kelima adalah hal yang fundamental. Megawati dianggap sebagai sosok yang melindungi koruptor. Tidak tanggung-tanggung pernyataan tersebut diutarakan Ketua KPK saat itu, Abraham Samad.

Secara statistik, PDIP memang menjadi partai terkorup di Indonesia. Hal itu dilihat berdasarkan laporan KPK Watch. Kader-kader PDIP merupakan nominator terbanyak yang menyandang predikat pejabat korup. Aneh bin ajaibnya, Megawati malah mengatakan alasan banyaknya kader yang terjerat korupsi dikarenakan kehidupan dimasa lalu yang miskin. Pernyataan ini seakan-akan mengaminkan perilaku kader PDIP yang koruptif.

Lima aspek yang melekat PDIP ini tentunya menjadi catatan hitam sejarah. Catatan ini tentunya juga akan berdampak negatif kepada suara Jokowi yang didukung Megawati. Salah satu cara ampuh untuk menyelamatkan suara dukungan rakyat kepada Jokowi adalah dengan mereformasi internal PDIP, termasuk menggantikan kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum yang sudah kehilangan taji.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here