Jika Anies Maju di Pilpres 2019, Maka Sudah 2 Kali Rakyat Jakarta Dikadali

0
280
PDI Perjuangan dan Nasdem Galang Wacana Interpelasi Kepada Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, P.hD

Sebelum Anies menukagi ibu kota, ada sosok yang dengan kesederhanaannya berjanji akan membenahi Jakarta untuk menjadi lebih baik. Ya, sosok itulah yang saat ini membidani republik ini. Ir Joko Widodo yang saat itu bersama wakilnya Basuki Tjahja Purnama (Ahok) berkomitmen membangun Jakarta akan lebih baik. Semuanya itu saat itu hanya menjadi kenangan dan bahkan trend untuk menapak karir lebih tinggi.

Belum genap setahun gubernur baru DKI menjabat, Anies Baswedan dikabarkan akan mecoba peruntungan di Pilpres 2019 seperti pendahulunya. Semuanya ini berkaitan dengan sejumlah survey yang memasukkan nama Anies Baswedan sebagai salah satu orang yang akan “melantai” di bursa Pilpres 2019. Memang tidak elok menyimpulkan sesuatu itu terlalu cepat, tapi bukankah Jokowi naik dan ikut berkontestasi di Pilpres 2014 juga berawal dari survei?

Seorang jurnalis asing John McBeth menuliskan bahwa Prabowo Subianto masih berhasrat untuk maju di Pilpres 2019. Untuk calon yang akan mendampinginya, dimungkinkan Prabowo akan memilih Anis dikarenakan gubernur ini memiliki beberapa kelebihan dan cukup dikenal masyarakat. Anis memang dikenal dengan program-progaramnya yang populis sekaligus kontroversial.

Memang secara aturannya tidak ada larangan bagi seorang kepala daerah untuk maju ketingkat yang lebih tinggi seperti apa yang pernah dilakukan Jokowi. Tapi, ini mengindikasikan ambisi berkuasa di negeri ini lebih tinggi daripada ambisi pengabdian. Jika kekuasaan yang dijadikan target dalam menjabat, maka celaka dua belas lah negeri ini di tangan orang-orang seperti itu.

Baca juga  Wakil Ketua DPR Minta Semua Pihak Santai Hadapi Hastag #2019GantiPresiden

Ini semuanya hanyalah terkait dengan etika. Kata orang-orang tua dahulu, kita ini bangsa timur yang mengedepankan nilai moral dan etika dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Jika itulah yang menjadi kebanggaan kita selama ini dan hilang, maka apa yang bisa kita harapkan dan titipkan kepada generasi penerus bangsa ini.

Seorang kepala daerah tidak hanya merupakan “leader” ataupun jabatan formal lainnya. Kepala daerah juga merupakan roh model yang hendaknya diguguh dan tiru. Seorang kepala daerah harusnya menjadi cerminan kultur dan budaya yang mewakili kearifan lokal yang menjunjung tinggi tanggung jawab, moral, dan etika.

Lihat contohnya TGB, dengan prestasi moncernya menjabat Gubernur NTB ia tidak mudah tergiur tawaran untuk maju di Pilgub DKI. Padahal menurut beberapa lembaga survei, namanya salah satu nama kuat yang bisa menyaingi Ahok kala itu karena dianggap sebagai antitesa dari kepemimpinan sebelumnya. TGB merasa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam rangka pengabdiannya kepada masyarakat yang telah memilihnya menjadi gubernur.

Ada lagi Risma Walikota Surabaya. Sekalipun dia dilabeli petugas partai oleh PDI Perjuangan, tapi dengan nilai integritas yang dimilikinya ia berani menolak tugas partai yang dibebankan kepadanya. Ia berani menolak tawaran menjadi Gubernur Jawa Timur. Walikota yang dikenal “heboh” ini juga menolak penugasan partai saat dirinya ditugaskan untuk transmigrasi maju di Pilkada Kalimantan.

Baca juga  Pak Presiden dan Hastag di Media Sosial

Terakhir ada nama Agus Harimurti Yudhoyono. Sekalipun umurnya masih seumur jagung dalam dunia politik, namun kedewasaannya dalam berpolitik patut diacungi jempol. Dengan jabatan, pangkat, dan fasilitas yang dimiliki saat itu, ia berani melepaskannya demi panggilan pengabdian, bukan ambisi kekuasaan. Walaupun dirinya kalah dalam Pilgub DKI, hingga kini ia tetap menjalankan agenda pengabdian sebagai bentuk pilihannya dalam berjuang.

Seperti itulah hendaknya jiwa dan nilai yang harus dimiliki seorang pemimpin. Jangan sampai ambisi kekuasaan menghalalkan segala cara dan merusak lading pengabdian yang telah dijanjikan sebelumnya. Jika benar kedepannya Anis akan maju dalam Pilpres 2019, maka rakyat Indonesia dan masyarakat DKI khususnya harus mencatat bahwasanya kita telah dikhianati dua kali.

Abdul Gafar, Aktivis Aliansi Pembela Ideolgi Umat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here