Jokowi Bisa Dikalahkan?

0
2172
Jokowi bisa dikalahkan
Jokowi bisa dikalahkan

Entah apa yang ada dipikiran Yandri Susanto (Anggota Komisi II DPR RI) dari Partai Amanat Nasional saat mengucapkan kalimat “Jokowi bisa dikalahkan seperti Ahok” saat tampil diacara Indonesian Lawyers Club (ILC) tadi malam TVOne. Yandri begitu yakin bahwa meski berstatus petahana, Jokowi bisa dikalahkan.

Saya mencoba memahami kalimat Yandri sebagai sebuah keyakinan politisi, disamping berkaca pada pengalaman Pilkada DKI dan tentu saja pengalaman Pilpres 2004 lalu.

Pada Pilkada DKI, nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh koalisi gemuk PDI-P, Nasdem, Hanura, Golkar memang seolah tidak terkalahkan oleh pesaing lainnya termasuk Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Ahok bahkan disebut akan memang satu putaran di Pilkada DKI dengan mudah.

Namun apa lacur, Basuki (Ahok) dan pasanganya Djarot Syaiful Hidayat justru dipaksa main dua putaran dan kalah dari Anies Baswedan – Sandiaga Uno, calon yang diusung oleh koalisi Gerindra dan PKS.

Hal yang sama juga terjadi pada Pilpres 2004 lalu. Beberapa bulan sebelum Pilpres dilaksanakan, nama Megawati Soekarno Putri masih berada diposisi teratas sebagai Capres pilihan pada perhelatan Pilpres langsung pertama itu, Ia masih memimpin perolehan suara versi lembaga survey meninggalkan pesaingnya Amien Rais, Wiranto dan bahkan Susilo Bambang Yudhoyon yang akhirnya terpilih menjadi Presiden pertama hasil pemilihan langsung.

Jokowi bisa dikalahkan?, bisa saja, sebab politik selalu bergerak. Jokowi bisa saja tergelincir seperti hanya seniornya Megawati Soekarno Putri dan atau Mantan Wakilnya semasa menjabat sebagai Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama.

Fenomena Incumbent kalah dalam pemilihan Presiden bukan hanya pernah terjadi di Indonesia. Di negeri yang mengkalim diri sebagai Mbah-nya demokrasi Amerika Serikat hal ini pernah terjadi. Presiden Amerika Serikat Gerard Ford yang diusung oleh Partai Republik harus bertekuk lutut dihadapan kandidat Partai Demokrat Jimmy Carter pada Pilpres tahun 1977. Padahal pada masa itu, popularitas Ford terbilang tinggi karena ia berhasil melakukan rekonsiliasi politik dan membawa perubahan segar di AS pasca “Skandal Watergate” yang memaksa seniornya Richard Nixon keluar dari Gedung Putih.

Baca juga  Menteri Ekonomi Era Megawati Jadi Saksi di Sidang Skandal BLBI

Yandri tentu tidak sembarangan bicara. Bisa saja ia memiliki data dan analisa yang dalam sehingga kalimat penyemangat itu keluar dari mulutnya. Jokowi bisa dikalahkan.

Berkaca pada pengalaman diatas, baik yang di dalam negeri maupun yang diluar negeri, patut juga kiranya kita membahas kalimat Yandri itu. Memang harus diakui bahwa elektabilitas Jokowi saat ini memang masih berada di posisi teratas jika dicalonkan sebagai kandidat Presiden.

Namun patut dicatat, lawannya adalah Prabowo Subianto yang pernah dikalahkannya. Tahun 2014 lalu, dengan status sebagai penantang Prabowo, Jokowi yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta bisa mengalahkan Prabowo, apalagi kini, Jokowi adalah incumbent. Jelas ia akan dengan mudah melenggang. Begitu kira kira pikiran banyak orang.

Diam diam saya memahami juga kalimat Yandri. Hal ini setelah melihat hasil survey yang beberapa konsultan politik yan menempatkan elektabilitas Jokowi justru mengalami trend penurunan. Jika sebelumnya, elektabilitas Jokowi selalu berada diatas angka 55%, maka dalam beberapa survey terakhir angka itu cenderung menurun.

Banyak faktor yang menurut saya menyebabkan penurunan tersebut. Antara lain adalah isu utang luar negeri yang terus meningkat, pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai harapan serta yang paling memukul adalah banyaknya janji janji kampanye Jokowi yang belum terealisasi.

Hal itu kemudian diperparah dengan maraknya terjadi kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur Jokowi sehingga membuat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terpaksa menghentikan sementara proyek tersebut.

Disamping itu adalah isu politik dan keamanan yang belakangan juga mulai dirasakan masyarakat. Jokowi juga pasti tengah berhitung dengan angka angka itu. Boleh saja, Presiden Jokowi sudah ditetapkan sebagai Capres oleh PDI-P, Hanura dan NasDem. Namun lawannya kan belum muncul.

Bolehlah kita menyebut nama Prabowo Subianto sebagai pesaingnya. Namun pernyataan resmi terkait pencapresan Prabowo bahkan belum disampaikan. Hanya seorang Fadli Zon dan kader kader Gerindra yang memanaskan mesin dengan menyebut Prabowo hampir pasti dicalonkan sebagai Presiden, tapi secara resmi belum ada statemen dari Bukit Hambalang.

Baca juga  Sudah Saatnya Jokowi Bilang ke Megawati: PDIP, I’m Sorry Goodbye

Nama lain yang juga disebut sebut sebagai Calon Presiden adalah Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan serta Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono. Akan tetapi, hal itu masih wacana. Apalagi jika membaca nama nama diatas, hanya dua nama yaitu nama Zulkilfli Hasan dan Agus Harimurti Yudhoyono yang berpeluang mencalonkan dan dicalonkan karena kader partai politik. Zulhas, Ketua Umum PAN dan AHY Komandan Kogasma Partai Demokrat.

AHY memang lebih banyak disebut sebagai Kandidat Wakil Presiden. Ia bahkan menempati posisi pertama sebagai Cawapres paling dipilih versi beberapa lembaga survey. Nah, kembali ke pernyataan Yandri, jika Jokowi yang incumbent bisa dikalahkan seperti halnya Ahok dan Megawati siapakah lawannya?, tentu boleh saja saya meragukan nama Zulkilfli Hasan sebagai Calon Alternatif. Sebab untuk dicalonkan, Zul harus membangun koalisi hingga mencapai angka PT 20% sebagaimana disyaratkan dalam Undang undang. Jika demikian, Zulhas akan berat menempati posisi sebagai Capres karena perolehan suara partainya lebih kecil dibanding partai lain.

Kembali ke kalimat Yandri, jika ingin mengalahkan Jokowi tentu harus dipasang figur yang menjadi antitesis dari Jokowi sendiri dengan harapan dan kekuatan figur tersebut mampu membawa angin segar perubahan. Tapi patut pula dicatat, sinyal dari PDI-P menghadapi menurunnya popularitas Jokowi dengan memasang kriteria Cawapres adalah figur yang mampu mengangkat elektabilitas Jokowi.

Nah jika sudah begini, nama siapa yang akan jadi calon lawan Jokowi dan calon pendampingnya memang membuat politik makin menarik.

Oleh – Burhanuddin Khusairi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here