Jokowi dan Survey

0
917
Jokowi dan Survey

Tidak ada yang yang mengejutkan dalam rilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survey Median yang diumumkan kepada publik Senin (16/4) kemarin. Bagi saya, angka elektabilitas Jokowi yang masih berkutat diangka 36-an persen juga bukan berita baru. Toh diantara kebanyakan teman teman yang terlibat aktif dalam lembaga survey merek apapun, elektabilitas Jokowi memang tidak sepositif yang selama ini dicitrakan kepada masyarakat. Meminjam istilah Rocky Gerung, elektabilitas Jokowi mangkrak.

Mangkrak, adalah kosa kata yang selama ini dipakai oleh pendukung rezim Jokowi untuk menyebutkan belum selesainya pembangunan fisik dan infrastruktur dimasa pemerintahan sebelumnya. Namun, seperrti berbalik arah, kata mangkrak kali ini juga dipakai oleh lawan politik Jokowi untuk menggambarkan betapa angka elektabilitas Mantan Walikota Solo itu juga tidak bergerak naik.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada masa akan pemerintahan Presiden SBY tahun 2008 lalu, angka elektabilitas SBY memang sempat mengalami fluktuasi. Namun, tidak separah yang dialami oleh Jokowi. pada tahun 2008, setahun menjelang Pilpres, beberapa lembaga survey menempatkan SBY di posisi teratas dengan angka elektabilitas diatas 50 persen. Artinya, jika diadakan pilpres pada waktu itu, maka SBY akan sudah menang dan nyaman di tahun sebelum pilpres diadakan.

Namun yang terjadi pada Jokowi adalah sebaliknya. Setahun menjelang Pilpres, meski masih menempati posisi teratas, Jokowi belum bisa meraih dukungan diatas 50 persen pemilih. Padahal selama empat tahun menjabat, Jokowi sudah hampir melakukan semua langkah. Ia melakukan langkah revolusioner dengan memberikan porsi anggaran terbesar ke sektor pembangunan infrastruktur. Katanya, ribuan jalan tol sudah dibangun, Embung, Bendungan dan segala macam sudah dibangun dimasa pemerintahan Jokowi.

Baca juga  Pengaktifan ‘Pasukan AntiTeroris TNI' ala Moeldoko Bikin Jokowi Langgar UU?

Berbagai paket kebijakan ekonomi juga sudah diluncurkan untuk memudahkan investasi. ratusan bahkan ribuan perda sudah dibatalkan agar tidak menganggu si pembawa modal menanamkan uangnya, namun pertumbuhan ekonomi tak kunjung membaik.

Saya ikut menilai Jokowi sedang galau terkait hasil jajak pendapat beberapa lembaga survey yang telah dilakukan. Kegalauan yang disadari atau tidak telah diperlihatkan Jokowi dengan gamblang saat berpidato di Bogor tiga pekan yang lalu.

Saat menghadiri deklarasi Galang Kebangsaan itu, Jokowi boleh saja berpidato berapi api bahwa sebah hastag di media sosial dan kaos oblong tak kan bisa mengganti Presiden. Jokowi bahkan dengan nada yang lain dari biasanya terlihat kesal atau setidaknya menurut saya memperlihatkan kekesalannya dengan gerakan itu. Hastag dan kaoos memang tidak akan bisa mengganti Presiden, namun Jokowi lupa bahwa saat ini jangkauan hastag itu bukan hanya di media sosial, akan tetapi sudah memasuki dunia nyata.

Maka menurut saja, wajar dan sah saha saja Jokowi mengalami kegalauan. Ditambah lagi, hasil survey yang kian membuatnya cemas. Angka elektabilitas dibawah lima puluh persen bagi petahana itu adalah angka meresahkan.

Baca juga  Soal Efisiensi Anggaran, CBA Nilai Jokowi Langgar Janji Sendiri

Jokowi harus berhitung lagi terkait pendampingnya. Sinyal berkoalisi dengan tokoh yang mampu membantunya mengangkat elektabilitasnyapun sudah dikirim. Jokowi harus pandai pandai memilih pendamping. Bukan sekedar punya pengalaman dan menjabat sebagai ketua umum partai politik, namun juga tokoh yang memiliki basis politik dan dukungan kuat di masyarakat.

Selain mencari pendamping yang pas. Jokowi juga harus sesegera mungkin melalukan langkah perbaikan di bidang ekonomi. Sudah terlalu banyak keluhan masyarakat saat ini di sektor ekonomi. Suka atau tidak suka, bahwa makin sulitnya warga memenuhi kebutuhan pokok mereka adalah poin yang bisa melemahkan Jokowi di mata pemilih. Hal itu tentu tidak bisa diselesaikan oleh akun akun media sosial yang mencoba melawan dengan opini yang seakan akan Jokowi masih saja hebat.

Alih alih menenangkan, akun akun yang terkesan mendukung Jokowi itu justru terlibat dalam “perang opini” di medsos dan kadang menjadi sasaran bully lawan lawannya. Malah tak jarang, semakin kuat pembelaan, semakin kuat pula serangan. Terakhir cuitan Ustad Zulkarnain yang membandingkan biaya hidup di zaman SBY dengan zaman Jokowi yang diamini secara masif oleh kelompok opsisi.

Oleh – Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here