Jokowi Kerja Buat Siapa; Kala Rakyat Susah, Kok Jamu IMF-Bank Dunia Rp885 Milyar?

0
1415
Jokowi Kerja Buat Siapa; Kala Rakyat Susah, Kok Jamu IMF-Bank Dunia Rp885 Milyar?
sumber: pinterpolitik.com

Tragis! Ini yang tebersit dipikiran saya membaca dana yang dihamburkan pemerintah untuk penyelenggaraan Annual Meeting IMF-Bank Dunia di Oktober mendatang. Rp885 Milyar! Wow, gile bener! Konon sekitar Rp672,59 miliar akan ditanggung Kementerian Keuangan, sementara sisanya yang dana talangan Bank Indonesia. Bisa kita bayangkan? Demi menjamu reuni bos IMF-Bank Dunia, pemerintah sampai berhutang kepada BI? Busyeet!

Katanya, event ini berdampak buat menjual sektor pariwisata di Indonesia ke luar negeri. Alangkah konyol alasan ini. Jika event ini dihelat di Sumatera Barat atau Papua Barat untuk menjual Wisata Kepulauan madeh atau Raja Ampat, kita masih bisa paham. Tapi, lokasi eventnya di Bali lho!

Bali adalah pulau pariwisata yang sudah kesohor di kalangan turis mancanegara. Pernah nonton film ‘Eat Pray Love’-nya Julia Roberts? Banyak lagi film-film asing yang shooting-nya di Bali. Lagi pula, sudah ratusan agenda internasional yang dihelat di sana. Bali sudah jadi destinasi pariwisata nomor wahid di seantero dunia, sector pariwisatanya sudah menggeliat secara alamiah.

Kalau bicara mengemas destinasi pariwisata, agaknya Jokowi  harus belajar banyak dari SBY. Telisiklah ketangkasan SBY memainkan Sail Indonesia itu. Objek wisata apa yang dijual: Banda. Wakatobi-Belitong, Morotai, Komodo, Raja Ampat! Ini adalah destinasi wisata kelas dunia yang perlu didorong pemasarannya di luar negeri. Dan memasarkan Bali ke luar negeri? Ya, ampun! Apa ini bukan seperti menghambur-hamburkan uang, padahal ada hal-hal lain yang lebih penting?

Baca juga  Mendagri Lantik Polisi Jadi Pj Gubernur Jabar, Akal-akalan Petugas PDIP di Pemerintah?

Apa hal yang lebih penting itu? Negara hadir di tengah-tengah rakyat. Menghambur-hamburkan uang rakyat sebesar Rp885 Milyar adalah satu pelecahan atas derita rakyat kecil di Indonesia. Tengok saja situasi perekonomian sehari-hari rakyat yang masih memprihatinkan.

Pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 5%. Daya beli masyarakat anjlok, pelaku UMKM menjerit dan bangkrut. Jumlah penduduk miskin di atas 26 juta orang. Ada 6,87 juta pengangguran yang luntang-lantung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Rata-rata upah buruh pada Februari 2018 berkisar Rp1,44 juta –Rp2,65 juta. Dalam kondisi serba prihatin ini, pemerintah mau menjamu bos-bos IMF-Bank Dunia sebesar Rp885 milyar? Apa-apaan?

Parahnya, Jokowi seolah-olah lupa kalau Indonesia punya sejarah buruk dengan IMF. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menerima bantuan sekaligus nasihat IMF saat krisis moneter menghantam. Tetapi kerja sama itu berbuah kontraproduktif, sampai sekarang kita masih merasakan dampaknya.

Baca juga  Revolusi Mental yang Gagal Total

Ingat, gara-gara dikte IMF, investasi asing jor-joran di Indonesia, masuk ke semua sektor dan pengurangan subsidi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, pangan dan perumahandan menghilangkan subsidi pada listrik, tarif telepon dan bahan bakar minyak sangat menyengsarakan rakyat. Gara-gara dikte IMF, BUMN-BUMN dilego ke asing.

Perlu pula dicatat bahwa IMF dan Bank Dunia sebagai lembaga-lembaga keuangan internasional yang berbasis di Washington, didominasi oleh AS dan negara-negara barat lainnya. Negara-negara ini hobi medikte Indonesia lewat tangan IMF. Makanya, dahulu, SBY sampai mati-matian membayar utang IMF agar Indonesia tak lagi didikte. Agar Indonesia punya harga diri.

Dan sekarang, pemerintahan Jokowi malah membentangkan karpet merah untuk mereka? Apakah ini bukan mental inlander? Sebenarnya Jokowi bekerja buat siapa?

Oleh: Dimas Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here