Jokowi Takut Kasus Novel Terbongkar?

0
Jokowi Takut Kasus Novel Terbongkar?
Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan menggelar aksi Kamisan ke-581 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (11/4). Mereka menuntut presiden untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen untuk mengungkap kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

Presiden Jokowi balakangan ini tampak sangat menghindari pembahasan terkait kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Ia memilih pergi saat hendak dihampiri sejumlah wartawan di berbagai kegiatan. Ketika terpaksa menjawab, capres petahana ini meminta kuli tinta jangan bertanya lagi soal Novel kepadanya. Entah ia hendak melepas tanggung jawab, atau memang sengaja membiarkan kasus ini gelap.

Dua tahun sudah kasus kekerasan terhadap pejabat negara ini terjadi. Tapi tak seorang pun pelaku yang diadili. Jokowi yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini, memilih berdiam diri. Padahal dulu ia berjanji untuk menuntaskan perkara ini. Tapi kini, janji itu ia ingkari.

Seakan ada kekuatan besar di belakang Jokowi yang menghendaki kasus ini tidak dibongkar. Seperti dugaan Novel sebelumnya, ada sejumlah jenderal polisi yang menjadi dalang penganiayaan dirinya. Meski begitu, jika pun ada jenderal atau orang besar yang menjadi otak penyerangan, kenapa Jokowi seolah tak berdaya? Bukankah dia pemimpin tertinggi? Orang yang paling berkuasa di negeri ini?

Jawabannya mudah saja. Entah si dalang itu masih kroni-kroni Jokowi, atau sang ‘petugas partai’ memang tak punya kuasa penuh. Dengan kata lain hanya pemimpin boneka, yang dikendalikan oleh kekuatan besar di belakangnya. Ketua partainya misalnya, atau salah satu menteri di Kabinet Kerja, yang perannya selama ini seolah menjadi sosok utama yang menjalankan pemerintahan di negara ini.

Kejahatan Luar Biasa

Apa yang menimpa Novel sudah seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah untuk menuntaskannya. Memang, Kepolri Tito Karnavian telah membentuk tim gabungan yang terdiri dari Polri, Ombudsman, dan KPK, guna mengusut kasus ini. Tapi, itu belumlah cukup. Jika memang ada jenderal polisi yang terlibat, tentu penyidik Polri akan kesulitan bersikap independen dan netral.

Baca juga  Aa Gym : 3Sa untuk Jaga Kerukunan Bangsa

Buktinya, sejak dibentuk pada 8 Januari 2019 silam, tim kecil ini belum menghasilkan apa-apa. Tidak ada satu pun kemajuan hasil investigasi yang mereka publish ke publik. Keraguan terhadap tim ini pun hanya dijawab lewat pernyataan, bukan oleh kerja dan perkembangan penyidikan. Salah satu anggota tim, Ifdhal Kasim, misalnya, berkata tidak ambil pusing dengan keraguan Novel dalam menuntaskan kasusnya. Ia menuturkan pihaknya akan terus bekerja tanpa terpengaruh berbagai opini yang berkembang di masyarakat.

Jadi, salah satu upaya yang mungkin bisa membongkar kasus teror ini adalah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Bukan tim kecil seperti sekarang, yang berada di bawah komando Polri. TGPF itu harus berisi orang-orang independen, sehingga pengusutan kasus ini nantinya tidak tersandera oleh konflik kepentingan.

Sayangnya Jokowi enggan membentuk TGPF ini. Ia seolah lupa, Novel adalah aparat negara. Apa yang menimpa Novel ini merupakan tindak pidana teror dan kekerasan. Kejahatan terhadap Novel adalah bagian dari kejahatan korupsi, yang masuk sebagai kejahatan luar biasa. Kejahatan luar biasa memang patut mendapatkan perhatian serius karena keluasan dampaknya.

Kecuali, Jokowi memang tidak ingin kasus Novel ini terbongkar. Sebab, mungkin saja, para aktor intelektualnya merupakan kroni-kroni yang mesti dilindungi. Inilah yang terjadi jika hukum sudah tidak berdaya. Hukum hanyalah gertakan verbal yang berpura-pura mengganyang kejahatan, tetapi di belakang berkompromi karena ketidakberdayaan. Penegakan hukum di negeri ini sudah menjadi utopia, karena penguasa dan kroni-kroninya bisa berbuat apa saja, tanpa ada hukuman dan konsekuensinya.

Oleh: Patrick Wilson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here