Kala Sudrajat – Ahmad Syaikhu Hendak Menari di atas Perpecahan Jawa Barat?

0
1803
Kala Sudrajat – Ahmad Syaikhu Hendak Menari di atas Perpecahan Jawa Barat?

Panggung debat publik Cagub Jabar 2018 ‘ronde kedua’ yang dielat KPU Jawa Barat berujung ricuh. Pemicunya soal insiden ucapan dan kaus bertulis ‘2019 Ganti Presiden’ yang dipamerkan paslon Cagub-Cawagub Sudrajat-Ahmad Syaikhu. Dan menimbang subtansi yang melingkupi kejadian ini, saya mengajak para pendukung Sudrajat-Ahmad Syaikhu untuk mengkaji ulang kembali pilihan mereka.

Benar, perlu kajian untuk memastikan apakah Sudrajat-Ahmad Syaikhu melanggar peraturan Pilkada. Tetapi, saya bisa memastikan Sudrajat-Ahmad Syaikhu telah melanggar moral dan etika politik. Jangan dianggap enteng manuver Sudrajat-Ahmad Syaikhu, karena bila tidak diantisipasi dampaknya akan lebih negatif lagi.

Semalam kita sama-sama saksikan dampak manuver yang ‘kampungan’ itu. Tidak! Saya tidak ingin membahas terhambatnya pernyataan penutup paslon Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Ada yang lebih mengerikan dari itu, yakni massa hampir adu jotos. Banyak orang yang ketakutan.

Apa yang menjamin konflik ini tidak keluar dari acara semalam? Apa yang menjamin manuver ini tidak menyebabkan terjadi meningkatkan eskalasi pergesekan sosial politik di kalangan rakyat Jawa Barat? Tidak bisa ditafik. Sudrajat-Ahmad Syaikhu melakukan manuver yang bukan hanya berpotensi meningkatkan ketegangan, melainkan berujung pada baku fisik. Ada persatuan rakyat Jawa Barat yang dipertaruhkan di sana.

Baca juga  Terbukti Terima Gratifikasi Rp110 Miliar, Bupati Rita Divonis 10 Tahun Penjara

Ironisnya, hal ini dilakukan dalam situasi dan kondisi aras politik Indonesia yang tengah karut-marut. Tragisnya, pelanggaran moral dan etika politik ini terjadi dalam proses untuk meraup kepercayaan rakyat, untuk merebut amanat sepasang kepala daerah. Bukankah ini bisa disebut sebagai demi kekuasaan, menghalalkan segala cara?

Hal ini mengingatkan saya pada manuver keponakan saya yang minta dibelikan es krim. Untuk memaksakan kehendaknya, keponakan saya itu ngambel, menjerit-jerit histeris. Ia sengaja gaduh agar diperhatikan. Agar keinginannya dipenuhi. Manuver Sudrajat-Ahmad Syaikhu ini mirip-mirip. Sudah bukan rahasia umum bahwa Pilgub Jabar sejatinya adalah pertarungan antara Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi versus Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum. Elektabilitas kedua paslon ini jauh melangit ketimbang dua paslon pesaing lainya.

Kita bisa berkaca pada survey Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi berada di urutan pertama dengan elektabilitas 41,4 persen. Sementara pada posisi kedua ada Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dengan elektabilitas 33,5 persen. Sedangkan Sudrajat-Ahmad Syaikhu serta TB Hasanuddin-Anton Charliyan terpaut jauh di bawah. Sudrajat- Ahmad Syaikhu berada di urutan ketiga dengan elektabilitas 6,9 persen sedangkan elektabilitas Hasanuddin-Anton 2,4 persen.

Baca juga  Setelah Rumah Dirut, Giliran Kantor Pusat PLN Digeledah KPK

Artinya, paslon Sudrajat-Ahmad Syaikhu bisa dianggap hanya sekadar meramai-ramaikan kompetisi politik ini. Dan rupanya Sudrajat-Ahmad Syaikhu pakai manuver murahan untuk mengungkit popularitas dan elektabilitasnya. Di ajang Pilgub, mereka memainkan tagar #2019gantipresiden untuk menarik dukungan publik yang sudah arang dengan Presiden Jokowi. Sudrajat-Ahmad Syaikhu caper! Persis kelakukan Basuki Tjahja Purnama yang berbuat ‘aneh-aneh’ untuk memastikan media terus mengikutinya. Dan sekali lagi, secara moral dan etika politik, manuver ini jelas-jelas salah.

Jika ditarik lebih tinggi lagi, sah rasanya bila kita menilai Sudrajat-Ahmad Syaikhu rela melakukan apapun untuk memenangkan kompetisi pilgub Jabar, termasuk melanggar moral dan etika politik. Pertanyaannya, apa yang menghalangi mereka tak akan mengulanginya bila kelas terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat? Masihkah mereka bertindak waras untuk mempertahankan kekuasannya?

Oleh: Arif Rahman, warganet bermukim di Bandung.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here