Kandidat PDI P Untuk Bali Akrab Dengan KPK

0
274

Anggota DPR RI, I Wayan Koster resmi ditetapkan PDI Perjuangan menjadi kandidat Calon Gubernur (Cagub) Bali. Penetapan I Wayan dibuat meriah, suasana kantor partai berlambang banteng tersebut disulap jadi miniatur Bali. Untuk menetapkan siapa yang akan diusung, PDI P tidak akan asal usung. Karena Pilkada 2018 mendatang, mereka berambisi merebutkan kembali kursi kekuasaan setelah kalah di Pilgub 2013.

Sosok I Wayan Koster sangat identik dengan PDI P, terutama untuk Bali. Karena dia adalah ketua DPD PDI P Bali dan telah beberapa periode menjadi anggota DPR RI asal daerah tersebut. I Wayan Koster menyisihkan kandidat lain yang sempat disebut-sebut bakal maju lagi yaitu Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Sosok yang diusung PDI P ini kalah dalam Pilgub 2013 dari I Made Mangku Pastika.

Secara popularitas nama I Wayan Koster tidak perlu takut maju di Bali. Karena dia sudah dikenal masyarakat dan mendapat dukungan dari PDI P sebagai partai pemenang pemilu. Belum lagi Bali merupakan daerah basis suara PDI P yang terkenal loyal.

Tapi PDI P terbilang cukup berani mencalonkan I Wayan, karena dia pernah terseret dalam kasus korupsi. Namanya berulangkali disebutkan dalam persidangan kasus korupsi, mulai dari Wisma Atlet, anggaran pendidikan hingga pembangunan gedung olahraga Ponjok Batu di Buleleng.

Baca juga  Sekjen DPR Bukan Sekretaris Pribadi Setnov

Dalam persidangan kasus proyek pengadaan barang dan jasa di 12 universitas negeri di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemndiknas), dia dituding ikut menikmati uang pelicin bernilai miliaran rupiah. Untuk pembangunan gedung olahraga, dia dilaporkan Komunitas Buleleng Bangkit Bersatu (KBBB) ke KPK. Untuk Wisma Atlet, nama I Wayan disebukan dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Menurut Jaksa, seperti yang tertulis dalam dakwaan, kesepakatan itu berawal dari pesan yang disampaikan Wafid Muharram melalui Paul Nelwan kepada Mindo Rosalina Manulang. Pesan itu berisi, Angie dan Wayan Koster yang menjabat sebagai Pokja di DPR RI meminta uang kepada Perusahaan Nazaruddin. I Wayan juga pernah dicekal oleh KPK, tapi telah dicabut sejak beberapa tahun silam.

Dengan ramainya pemberitaan yang mengaitkan I Wayan dengan kasus korupsi tentu dapat berpotensi merusak citra sang kandidat. Karena sampai saat ini dirinya tidak ditetapkan sebagai tersangka, artinya dia boleh dikatakan bersih. Memang dia tetap terpilih pada Pileg 2014, tapi untuk Pilkada akan berbeda. Dia tidak bisa hanya mengandalkan suara PDI P semata seperti menjadi anggota DPR. Tapi harus menarik simpati seluruh kalangan, baik itu pemilih PDI P maupun tidak. Pemilih di Bali sendiri hampir mencapai 3 juta jiwa.

Baca juga  Menunggu Hasil Uji Materi UU Pemilu di MK

Pengalaman 2013 lalu bisa menjadi pertimbangan untuk I Wayan dan PDI P. Karena mereka dikalahkan oleh kandidat yang tidak diusung oleh partai besutan Megawati Soekarnoputri tersebut.

Masyarakat Bali tentu sudah banyak yang mengetahui tentang sisi I Wayan. Dan mereka juga tidak akan asal memilih pemimpin, karena berkaitan dengan erat masa depan daerah yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata itu.

Tapi I Wayan juga boleh percaya diri, meski dirinya mendapat sorotan media karena sering bolak-balik ke KPK, tapi dia tetap lolos ke DPR pada Pileg 2014 lalu. Itu membuktikan I Wayan punya kans untuk menjadi Gubernur periode 2018-2023.

Oleh – Prananda W

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here