Hanya Kaos Oblong, Jokowi Jangan Marah

0
1014
Hanya Kaos Oblong, Jokowi Jangan Marah

Jika Prabowo tampak makin galak, Jokowi mulai terlihat galak. Prabowo memasuki masa-masa kritis. Maju untuk ketiga kalinya atau menjadi King Maker. Dorongannya sama-sama kuat. Baik teman maupun lawan. Sehingga sulit dibedakan mana dorongan tulus, mana yang menjebak.

Pada tahap itu, tak ada lagi yang dapat dipercaya. Baik teman maupun lawan. Maka wajar, Prabowo makin galak. Ia terjepit di tengah gelombang arus sejarah yang sulit. Tak hanya sekadar buat dirinya, juga buat bangsa. Galak, apakah karena stres, kalut, atau tanggung jawab? Entahlah.

Jokowi mulai terlihat galak, ini ada apa pula? Prabowo galak: Indonesia bubar 2030, para elit tak berubah: goblok, serakah, mental maling, hati beku, dll. Jokowi galak karena kaos oblong #2019GantiPresiden, utang negara yang menggunung, infrastruktur dan rumor seputar ke-PKI-an.

Kaos oblong sebetulnya Jokowi banget. Saat acara resmi saja, Jokowi santai mengenakan kaos oblong. Ini sesuai juga dengan tokoh muda dunia kaya raya, Mark Zuckerberg. Kaos oblong bermerek #2019GantiPresiden, itu nggak banget. Mana bisa kaos oblong menggantikan presiden?

Baca juga  Bawaslu Larang Jokowi Bagi bagi Sepeda Selama Masa Kampanye

Semua orang tahu itu. Lalu apanya yang mau digalakkan, dimarahi? Yang bisa mengganti presiden, rakyat. Itu betul. Kedua yang bisa mengganti presiden, Allah SWT. Itu juga betul. Tapi, mestinya dibalik: Allah SWT dulu, baru rakyat. Karena sang pembolak-balik hati itu Allah SWT.

Soal utang dan infrastruktur, sebetulnya itu bukan perhatian rakyak. Rakyat tak paham itu. Jadi tak usah diusik. Apalagi makin banyak yang bilang itu jelek, makin banyak pula yang bilang itu tak apa. Makin bingung rakyat. Justru, karena diusik begitu, rakyat jadi tahu itu ada persoalan.

Rumor ke-PKI-an telah lama muncul, malah sejak pilpres 2014. Rumor itu memenangkan, bukannya mengalahkan. Karena memang kurang logis. Dulu tanpa dijawab, tapi terjawab dengan sendirinya. Kini kok dijawab, malah digalakkan, dimarah-marahi? Wajar orang bertanya, ada apa?

Jikapun dijawab, biasanya Jokowi menjawab rumor dengan bercanda bukan dengan galak-galakkan. Misalnya, saat dibilang otoriter. Jokowi menjawab dengan amat kocak, “masak wajah begini dibilang otoriter?” Memang tak pas, walau orang kemudian membuat tafsir sendiri-sendiri.

Baca juga  Asia Sentinel Akui Fitnah, Aktor Intelektual dalam Negeri Belum Mengaku Salah?

Otoriter tak dilihat dari wajah orang, dan lain-lain. Apa pun tafsirnya kemudian, itu sudah tak penting. Jokowi di atas angin, menang, bisa mengendalikan keadaan. Soal benar-salah, sudah tak penting. Walau bukti keotoriteran itu ada, dan panjang jika diurut. Rakyat tak melihat itu lagi.

Tapi, jika ada orang Jokowi yang bilang Jokowi mirip Umar bin Khattab, itu bercanda tak lucu. Hampir semua kaum muslimin, pasti tak akan tertawa. Itu bercanda garing, tak ada lucunya.

Kegalakan Prabowo dulu menjadi salah satu faktor yang mengantarkan ia pada kekalahan. Apakah mulai galaknya Jokowi kini juga sinyal mengantarkan ia pada kekalahan, nantinya. Kaos oblong #2019GantiPresiden akan menjadi sejarahnya sendiri. Di rumah Anda, sudah ada baju itu atau belum? Saya belum.

Oleh: Erizal (Kolomnis, Tinggal di Padang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here