Karhutla PR Pemerintah yang tak Pernah Selesai

0

PolitikToday – Pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhyono menjabat sebagai Presiden RI ke Enam periode 2004 – 2014 silam, sesaat akan memimpin sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan Jalan Medan Merdeka Utara, Presiden SBY melontarkan kemarahan kepada para menterinya yang sempat bercengkrama sebelum sidang kabinet dimulai.

SBY begitu berang karena kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan bencana kabut asap yang terjadi di beberapa titik di Sumatera dan Kalimantan telah menganggu negara tetangga Singapura, Malaysia dan Thailand. Kemarahan SBY itu membuat para menteri yang bersiap untuk ikut rapat jadi kuncun dan terdiam.

Persoalan kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Indonesia memang bukan persoalan mudah dan gampang diatasi. Asap tebal yang terjadi akibat kebakaran lahan menyebabkan terganggunya berbagai rencana penerbangan dan bahkan menganggu hubungan antar negara di kawasan ASEAN.

Kini, kabut kebakaran hutan dan lahan kembali melanda. Asap pekat yang timbul akibat aksi pembakaran lahan itu bukan hanya menganggu masyarakat di daerah sekitar, namun juga melanda daerah lain dan negara tetangga. Namun sebagaimana dikatakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari ini tak ada asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang keluar dari wilayah batas negara atau ‘transboundary haze’ ke wilayah Malaysia.

Dikatakan Pelaksana Harian Pusat Data dan Informasi BNPB, Agus Wibowo, berdasarkan data trajektori dan asap, menggunakan data satelit Himawari-8, antara pukul 09.00 WIB dan 10.00 WIB, Jumat (9/8), kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia belum mencapai wilayah luar negeri.

“Berdasarkan data citra Satelit Himawari-8 per tanggal tersebut, asap terdeteksi hanya di wilayah Riau dan Kalimantan Tengah. Arah angin di Riau dan Kalimantan Tengah ini mengarah dari tenggara ke barat laut,” kata Agus Wibowo lewat keterangan tertulis.

Baca juga  Dana Hibah Tak Kunjung Cair, Pilkada Biak Terancam Molor

Agus mengatakan berdasarkan data citra satelit ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) pada, Kamis (8/8) terdeteksi ada 3 titik panas atau hotspot di wilayah Malaysia.

Di samping itu, kata Agus, ada potensi polusi di wilayah Malaysia yang berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah tersebut. Demikian juga, sebaran asap di wilayah Pulau Kalimantan yang tak sampai masuk ke wilayah Malaysia.
Lihat juga: Jokowi Bertemu Mahathir Saat Kabut Asap Kepung Malaysia

Menurut Agus, berdasarkan data trajektori dan asap per pukul 09.00 WIB hari ini memang terpantau asap di wilayah Kalimantan Tengah. Namun demikian tidak terdeteksi ‘transboundary haze’.

“Pantauan arah angin di Kalimantan Tengah menunjukkan dari arah tenggara ke barat laut, sedangkan sebaran asap pada umumnya menyebar ke arah barat laut,” ujarnya.

Presiden Malu

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengaku malu saat ingin melakukan kunjungan kerja ke Malaysia dan Singapura, karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan kembali masuk ke wilayah kedua negara tersebut. Ia menyebut akan berkunjung ke Malaysia dan Singapura pada pekan ini.

Diungkapkan Jokowi saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2019, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8).

“Saya kadang-kadang malu. Minggu ini saya mau ke Malaysia dan Singapura. Tapi, saya tahu minggu kemarin sudah jadi headline, jadi HL, jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita. Saya cek jerebu ini apa, ternyata asap (kabut),” kata Jokowi.

Jokowi mengingatkan para peserta rapat untuk menyelesaikan masalah kebakaran hutan dan lahan dimaksud. Menurutnya, kedua negara tetangga itu sudah senang tak ada kabut asap kebakaran hutan selama empat tahun ke belakang, namun kembali muncul pada tahun ini.

Baca juga  KPU Minta Pemilih Ikut Awasi Penyusunan dan Pemutakhiran DPT

“Sehingga bapak ibu dan saudara-saudari semuanya saya kumpulkan untuk mengingatkan lagi pentingnya mengatasi kebakaran hutan dan kebakaran lahan,” tuturnya.

Disisi lain, BNPN melalui Plh Kapusdatin dan Humas, Agus Winbowo mengatakan berdasarkan citra satelit modis-catalog.lapan.go.id periode 24 jam terakhir, keberadaan titik panas terpantau di beberapa wilayah Indonesia.

Ia menyebut titik panas dengan kateogri tinggi atau tingkat kepercayaan di atas 80 persen tersebar di wilayah Sumatera dan Kalimatan, yaitu Aceh 10 titik, Jambi 8, Lampung 1, Riau 56, Sumatera Selatan 1, dan Sumatera Utara 3.

Sementara itu, titik panas di wilayah Kalimantan teridentifkasi di wilayah Kalimantan Barat 27, Kalimantan Selatan 2, dan Kalimantan Tengah 29.

Senada dengan Agus, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG A. Fachri Radjab menyampaikan hal senada bahwa tidak ada ‘transboundary haze’ atau asap yang keluar dari batas wilayah negara yang disebabkan oleh karhutla dari wilayah Indonesia.

(gg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here