Keadilan Bagi Novel Baswedan Diantara Pasang Bongkar Tim Pencari Fakta

0
Keadilan Bagi Novel Baswedan Diantara Pasang Bongkar Tim Pencari Fakta
Penyedik Senior KPK Novel Baswedan

PolitikToday- Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih berjuang untuk mendapatkan keadilan atas kasus yang penyiraman air keras terhadap dirinya.

Kasus penyelidikan yang dilakukan oleh Polri telah berjalan, namun belum menemukan dan menentukan tersangka sebagai aktor intelektual dan eksekutor lapangan. Hal ini menimbulkan dugaan kasus ini berbelit-belit dengan mengulur waktu tanpa ada kemajuan berarti.

Kuasa hukum Novel Baswedan, Alghiffari Aqsa menilai pembentukan tim teknis dari kepolisian hanya membuat penyelidikan kasus teror air keras berbelit-belit. Pembentukan tim itu justru makin mengulur waktu untuk mengusut pelaku penyerangan terhadap penyidik senior KPK.

“Jadi berbelit-belit, jadi kebanyakan tim, dan kita perlu menduga ini jadi semakin mengulur-ulur waktu,” ujar Alghiffari di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (17/7).

Sebelumnya Tim Gabungan Pencara Fakta telah bekerja dan belum mampu mengungkap siapa pelaku atas aksi teror tesebut.

Alghiffari menilai kasus ini akan sulit terungkap bila polisi terus mengulur waktu dengan membentuk tim teknis. Pasalnya, tim semacam ini sudah sering dibentuk oleh pihak kepolisian, bahkan sejak beberapa bulan Novel diserang.

“Kemarin Polres sudah ada, Polda sudah ada, kemudian sudah satgas, apa lagi? Sudah dua tahun, sudah 800 hari lebih, kasihan juga kan orang meminta keadilan,” kata Alghiffari.

Kasus Buku Merah Jangan Dihilangkan

Tim Pencari Falta bentukan Kapolri menyebutkan enam kasus high profile yang ditangani oleh Novel Bawesdan sebagai pemicu teror air keras. 

Alghiffari tidak menampik, enam kasus yang disebutkan oleh TPF bisa menjadi motif penyiraman air keras kepada Novel. Namun menurut dia TPF lupa menyebutkan kasus buku merah. 

“Makanya tetap ada keterkaitan menurut saya. Kalau mau memasukan 6 kasus, buku merah dimasukan juga. Selain hilangnya laptop yang isinya berkas-berkas buku merah, kemudian robekan buku merah, kenapa ini kemudian dihilangkan dari dugaan-dugaan (TPF) itu? Kalau mau fair ya ada tujuh, ada buku merah,” kata Alghiffari.

Baca juga  Jokowi Takut Kasus Novel Terbongkar?

Atas dasar itu, kata Alghiffari, penyerangan terhadap Novel juga berkaitan dengan kasus buku merah, yang justru tidak disebutkan oleh TPF pada konferensi pers.

Pesimis Publik

Hal ini disampaikan anggota Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi, Wana Alamsyah, dalam keterangan tertulis, Minggu, 7 Juli 2019. Menurutnya, tim Satgas tersebut tak mampu mengungkap satu pun aktor yang bertanggung jawab atas cacatnya mata kiri Novel Baswedan.

“Sejak pertama kali dibentuk, masyarakat pesimis atas kinerja tim tersebut,” kata Wana.

Alasannya, pertama, jika ditilik komposisi anggotanya, 53 orang di antaranya berasal dari unsur Polri. Selain itu, saat pertama kali kasus ini mencuat diduga ada keterlibatan polisi atas serangan terhadap Novel Baswedan, sehingga patut diduga akan rawan konflik kepentingan.

“Oleh karenanya yang digaungkan oleh masyarakat pada saat itu yakni pembentukan Tim Independen yang bertanggung jawab kepada Presiden Joko Widodo,” kata Wana.

Wadah persatuan pegawai KPK dengan koordinator Yudi menyatakan rakyat Indonesia sejatinya menunggu hasil kerja tim pakar yang telah bekerja selama enam bulan terakhir. Saat tim pakar menyerahkan hasil pada kapolri pekan lalu, sempat muncul sinyalemen positif atas kerja mereka. Namun, masyarakat, termasuk pegawai KPK kecewa dengan hasil yang dipaparkan tim pakar.

“Ternyata hari ini kami pegawai KPK menyaksikan konferensi pers dan rakyat Indonesia hasilnya jauh panggang daripada api,” kata Yudi.

Lebih lanjut, Alghiffari mengaku pesimistis dengan tim yang dipimpin oleh Idham Azis ini. Pasalnya, Idham pernah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya dan turut menangani kasus Novel. Namun, sampai tugasnya sebagai Kapolda Metro Jaya selesai, pelaku penyerangan terhadap Novel tak juga terungkap.

“Kita meragukan, bukan kredibilitas, kita meragukan tim ini akan bisa (mengusut karena 2 tahun tuh orangnya sama (Idham Azis) itu-itu juga,” kata Alghiffari.

Tim Baru

Baca juga  Diduga Pelaku Penyerangan Novel, Polisi Amankan Miko

Kadiv Humas Polri Irjen M. Iqbal menyatakan tim teknis itu akan dipimpin Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Idham Azis.

“Tim ini akan bekerja sangat profesional, tim teknis akan segera dibentuk yang diketuai Kabareskrim,” ujar Iqbal dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (17/7).

Dalam tim tersebut, kata Iqbal, juga akan dilibatkan petugas dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Hal tersebut, katanya, menunjukkan betapa seriusnya kesulitan untuk mengungkap peristiwa teror penyiraman air keras kepada Novel yang dilakukan pada 11 April 2017 tersebut.

Dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menyikapi rekomendasi pembentukan tim teknis oleh Tim Pencari Fakta kasus air keras. Tito menugaskan Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Idham Azis untuk memimpin tim teknis itu.

Menunggu Political Will Presdien Jokowi

Manager Kampanye Amnesty International Indonesia, Puri Kencana Putri mengatakan Presiden Joko Widodo harus membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen. Ini dilakukan setelah tim pakar yang dibentuk Polri gagal mengungkap pelaku penyerangan Novel Baswedan.

“Alih-alih menemukan pelaku ataupun identitas pelaku, tim (bentukan Polri) tersebut menyematkan tuduhan yang tidak etis bagi seorang korban yang sedang mencari keadilan seperti Novel Baswedan,” kata Puri, Jakarta Kamis, 18 Juli 2019.

“Saat ini publik menanti adanya political will dari Presiden untuk menyelesaikan kasus Novel. Selama ini Presiden Jokowi selalu berdalih percayakan ke Polri. Kasus Novel tidak boleh kembali ke titik nol di mana Bareskrim sebagai tim teknis yang ditunjuk Kapolri akan memegang kendali atas kasus Novel,” ujar Putri.

“Presiden tidak boleh tinggal diam. Publik menunggu Presiden Jokowi untuk berani mengambil keputusan membentuk TPGF Independen di bawah Presiden,” kata dia.

(hz)

Baca juga  Inisiator PDIP Projo Diduga Jadi Perantara Kasus Suap Bakamla

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here