Ketika Jawara Korupsi Bicara soal Gurunya…

    0
    Ketika Jawara Korupsi Bicara soal Gurunya…
    Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan sambutan ketika pembukaan pembekalan calon legislatif (caleg) DPR gelombang III di Kantor PDI Perjuangan, Jakarta, Kamis (15/11/2018). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

    Semua orang tahu, korupsi di Indonesia serasa tak ada habisnya. Kemaren gubernur itu yang digelandang ke penjara, esoknya bupati ini yang jadi tersangka. Apalagi wakil rakyat, tak satu dua yang menjadi terpidana. Tak salah kiranya jika Prabowo Subianto menganggap korupsi di negeri ini ibarat penyakit kanker stadium 4, karena saking parahnya.

    Namun, kubu penguasa tidak sepenuhnya setuju dengan pengibaratan tersebut. Mereka justru berdalih apa yang terjadi pada bangsa ini, merupakan dosa presiden terdahulu, Soeharto. Bahkan pemimpin Orde Baru mereka cap sebagai ‘guru korupsi’.

    Pernyataan itu dikemukakan oleh Politikus PDI Perjuangan, Ahmad Basarah. Menurutnya, guru dari korupsi Indonesia sesuai Tap MPR Nomor 11 tahun 1998 itu adalah Soeharto, yang notabene merupakan mantan mertuanya Prabowo. Setelah Soeharto tumbang, barulah dimulai sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia.

    Tak hanya itu, Basarah juga berupaya melempar tanggung jawab dengan mengkambinghitamkan perbuatan elite zaman lalu, atas kesalahan yang terjadi saat ini. Kata dia, kasus korupsi yang merebak di zaman Soeharto itulah yang mengakibatkan bangsa Indonesia masih menanggung akibatnya sampai saat ini.

    Mungkin di satu sisi pernyataan tersebut benar, tapi di sisi yang lain, ada pula kesalahannya. Bisa jadi, korupsi gila-gilaan memang terjadi di rezim Soeharto. Namun, menganggap banyaknya skandal korupsi yang terjadi saat ini merupakan dosa pemimpin masa silam, itu yang keliru.

    Bagaimana mungkin, elite politik sekarang ini yang berlomba-lomba merampok uang rakyat, yang salah Soeharto juga? Jika dianggap Soeharto yang mengajarkan untuk mencuri kas negara, itu lain soal. Pertanyaannya, kenapa pula mereka mau ikut-ikutan menjadi pencuri?

    Ini yang namanya lempar tanggung jawab. Apa karena PDIP mendapat label jawara korupsi, lantaran menjadi partai politik penyumbang koruptor terbanyak sejak Era Reformasi, sehingga menyalahkan orang lain guna menutupi aib diri? Itu sikap seorang banci.

    PDIP Jawara Korupsi

    Sejak reformasi bergulir hingga saat ini, PDIP memang digdaya berkuasa di urutan pertama sebagai parpol terkorup di Indonesia. Parpol besutan Megawati Soekarnoputri ini unggul telak dari pesaing terdekatnya, Partai Golkar. Bahkan, Partai Demokrat yang kerap dituding menyumbang banyak kader korup, hanya berada di posisi ketiga dengan jumlah kasus sepertiga dari torehan mereka.

    Mengutip data dari Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Detik.com, sejak Era Reformasi bergulir, tepatnya dari 2002 hingga 2017, tercatat telah terjadi 341 kali perkara korupsi yang dilakukan oleh kader dari 12 partai politik. Kader PDIP menjadi jawara dengan menyumbang 120 kasus, lalu disusul Golkar dengan 82 kasus dan Demokrat 42 kasus.

    Bahkan jika ditelisik selama tiga tahun terakhir, dominasi PDIP dalam skandal rasuah kian kentara. Buktinya, untuk jumlah kepala daerah yang terjerat korupsi, PDIP telah menyumbang 14 orang kadernya. Tiga orang koruptor di tahun 2016, tiga koruptor pula di 2017, dan delapan kader koruptor di 2018.

    Jadi, sekali lagi, mungkin saja Orde Baru dulu memang merupakan rezim yang korup. Sebuah era yang identik dengan istilah KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Tapi, melanjutkan kejahatan mereka, dengan terus melakukan pencurian terhadap uang negara, itu juga sama bejatnya. Ibarat kata, andai dianggap Soeharto adalah guru korupsi, maka PDIP sudah pasti menjadi murid terbaiknya, murid korupsi yang paling berprestasi.

    Oleh: Muhammad Fatih

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here