Ketika SBY Melawan Fitnah

0
216

Presiden RI ke Enam Susilo Bambang Yudhoyono melangkah pelan menuruni tangga Gedung Dewan Pimpinan Pusat DPP Partai Demokrat di Jalan Prokamasi no 41 Jakarta. Seperti biasa, langkahnya tegap dengan postur yang besar pula. SBY berjalan penuh keyakinan menuju tempat mobil yang akan membawanya ke Bareskrim Mabes Polri pada Senin (5/2/2018) lalu. Saya berada disana saat SBY hendak menuju ke Gedung di Jalan Medan Merdeka Timur itu.

Sesaat sebelum berangkat, SBY menggelar jumpa pers. Ia mengatakan akan segera melaporkan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya ke polisi karena tuduhan sang pengacara yang menyebut bahwa korupsi e-KTP melibatkan partai pemenang pemilu 2009. Tidak dapat disangkal, bahwa partai politik pemenang Pemilu 2009 adalah Partai Demokrat. Firman tidak bisa mengelak meski tidak menyebut nama SBY dan Partai Demokrat, bergelanggang mata dan telinga, semua tahu bahwa tahun 2009, PD adalah partai yang berada di posisi juara.

Saya berada tidak jauh dari speaker tempat SBY berpidato. Jelas, runut dan tegas. Sesekali terdengar kalimat dari kader Demokrat yang akan ikut mengantar SBY ke Mabes Polri. Suasana menjadi makin riuh saat Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu memegang mikrophone dan memulai kalimatnya.

“SBY Melawan”, tulisan ini sengaja saya beri judul seperti itu. Rasanya pantas dia melawan. Ini sudah keterlaluan. SBY tak henti didera tudingan miring bahkan fitnah yang keji. Bahkan tidak hanya saat ia sudah tidak lagi berkuasa, saat menjabat sebagai Presiden-pun, SBY juga pernah dihina rakyatnya sendiri.

Baca juga  Pasang Ngabalin, Jokowi Mainkan Jurus Silat Sambil Becanda

Suatu waktu, saat aksi demo yang diadakan di depan Istana Negara, sekelompok demonstran membawa seekor kerbau yang ditempeli sebuah tulisan bertuliskan “SBY”. Bukan cuma itu, fotonya yang memakai pakaian lengkap dibakar peserta demo. Ia dituding ikut terlibat dalam kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Tapi peserta aksi tetap menjalankan aksinya. SBY dihina, bukan oleh orang asing atau lawan negara yang dipimpinnya, tapi oleh sanak saudaranya sendiri. Memalukan.

Kembali menjadi orang biasa, Presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis pada Pilpres 2004 itu tak henti diserang. Rasanya baru kali ini, sepanjang republik ini berdiri, seorang pemimpinnya dihina dina oleh rakyatnya sendiri.

Kembali ke pidato SBY, saya mencermati setiap kalimatnya, kata demi kata hingga sampai pada kalimat yang menjadi viral. “This is My War”. Saya mahfum dengan kalimat itu. Harga dirinya terusik (kembali). SBY patut mengangkat bendera merah. Ia meniup terompet perang. Kali ini kepada Firman Wijaya, seorang pengacara yang pernah membela Anas Urbaninggrum si Mantan Ketua Umum Demokrat yang hari ini meringkuk di balik dinginnya tembok penjara.

Tali temali hubungan antara Anas dengan Firman tersambung dengan sendirinya di benak orang ramai. Firman dan Anas adalah dua hubungan. Firman adalah Lawyer dan penyedia jasa sementara Anas adalah Klien yang menikmati bantuan. Opini dan memory orang kembali ke masa lalu keduanya saat Anas tidak “diselamatkan” SBY di persidangan Tipikor. SBY sangat tegas soal hukum. Siapa yang menanam, ia yang akan menulai, tangan mencincang, bahu pula lah yang harus memikul. Anas dijebloskan ke penjara dan semua tahu pengacaranya adalah Firman.

Baca juga  Ikan Tongkol dan ‘Ganti Presiden’, Kedewasaan Berpolitik vs Provokasi di Debat Pilkada

Kini Firman seperti mendapatkan kesempatan membalas. Tapi Ia salah perhitungan. SBY bukan orang yang diam saat harga diri dan kehormatannya diusik. Jenderal bintang empat dan satu satunya kepala negara di dunia yang pernah ikut sebagai pasukan perdamaian PBB itu menunjukkan taringnya. Firman berlindung dibalik hak imunitas yang dia sendiri tidak pahami dengan baik. Ia seperti bocah jahat yang habis melempari mangga tetangga lalu bersembunyi dibalik kolong meja dapur ibunya.

SBY melawan dengan tenang. Setenang ia melangkah menuruni anak tangga gedung DPP Partai Demokrat. Ia patut melawan Karena harga diri tidak boleh diusik apalagi oleh fitnah. Disampingnya Sang Isteri dan Putranya ikut berjalan menemami hingga ke Sentra Layanan Pengaduan Mabes Polri. Ia orang biasa. Mengadu juga pakai cara rakyat biasa. SBY sama dengan kita. Ia punya rasa dan sakit benar tentunya difitnah.

Oleh – Burhanuddin Khusairi

SHARE
Previous articleHukum dan Kekuasaan
Next articleKritik Pers di Hari HPN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here