Ketika Semua Meninggalkan Setnov

0
1202

Tidak ada yang tahu persis apa penyebab Otto Hasibuan dan Fredrich Yunadi meninggalkan Setya Novanto. Berita pengunduran diri keduanya sangat mengejutkan. Fredrich dan Otto adalah dua nama besar di kalangan para pengacara Ibukota.

Keduanya juga bahkan dianggap sebagai dua pengacara dengan reputasi besar dan tidak sembarangan menerima kasus. Namun, seperti ramai diberitakan, Otto dan Fredrich seperti se-iya se-kata meninggalkan Setya Novanto. Ibarat pepatah di tanah Minang, keduanya “Meninggalkan Nasi yang Sedang Dimasak”. Novanto ditinggal pergi saat sedang membutuhkan perhatian serius.

Otto dan Fredrich pastilah punya alasan. Alasan yang sangat kuat, sehingga keduanya menarik diri dari barisan pembela Novanto. Otto Hasibuan, selama ini dikenal sebagai pengacara sukses dan menjadi Ketua Umum Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia). Ia kenyang makan asam garam di dunia pengacara. Bahkan, untuk seorang Lawyer-pun, Otto sudah bergelar Doktor. Ia menyelesaikan kuliah S3 dengan prediket kelulusan Cum Laude.

Lalu, Fredrich Yunadi, namanya terkenal ketika mampu meyakinkan Hakim Sarpin, SH untuk membebaskan kliennya Komjen Budi Gunawan pada saat Sidang Pra Peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tahun 2015 lalu. Fredrich adalah satu dari banyak pengacara senior yang ikut dalam barisan pembela Ka BIN tersebut. Lawannya, sama dengan yang ia hadapi saat ini – KPK.

Fredrich sepertinya punya jurus jitu yang tak dimiliki oleh pengacara lain kala berhadapan dengan komisi anti rasuah tersebut. Makanya, tak heran, saat Setya Novanto dibebaskan Hakim Cepi Iskandar pada 30 September lalu, Ia banjir komentar dari netizen saat kali kedua berhasil mengalahkan KPK di Pra Peradilan.

Baca juga  Menkominfo Bantah Minta Instagram Hapus Foto Amien-Prabowo-Rizieq

Kini, Otto dan Fredrich sudah memutuskan meninggalkan Setya Novanto. Entah apa mau disebut, saat beras tengah ditanak diatas tungku, keduanya meninggalkan Setnov. Memang masih ada pengacara lain, bahkan sekelas Maqdir Ismail yang akan mendampingi Novanto di persidangan Tipikor kelak. Namun Undur dirinya Otto dan Fredrich membuat perjalanan kasus Novanto akan tidak semenarik saat Fredrich masih dalam barisan.

Golkar Tinggalkan Novanto?

Tidak hanya pengacaranya yang meninggalkan Setnov. Sebelumnya, barisan politisi yang tadinya loyal kepada Novanto di Golkar juga sudah bergegas meninggalkan dirinya. Faksi faksi selama ini ada ditubuh Golkar kali ini seperti ingin segera menggelar Munaslub. Tujuannya tak lain agar Setnov tidak lagi berada ditampuk kekuasaan partai.

Aktifitas mendesak Munaslub Partai Golkar sebenarnya dimulai oleh Ahmad Doli Kurnia. Namun selama ini selalu saja seperti membentur karang. Doli tak kuasa melawan arus di partai Golkar.

Momentum kemudian didapat. Novanto dijerat KPK. Ia menghuni ruang tahanan di Gedung KPK Kuningan. Loyalis yang tadinya membela Setnov kini seperti tersengat dan berbalik arah. Hanya Sekjend Idrus Marham dan sebagian kecil kader yang masih berupaya mempertahankan Setnov.

Tokoh senior Golkar yang juga Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah memberi sinyal agar Golkar segera menggelar Munaslub. Kader kader senior lainnya, Zainal Bintang, Akbar Tanjung dan lainnya mendesak agar Setnov segera diturunkan. Tujuannya, kata mereka untuk menyelamatkan partai.

Memang diakui, sejak Setnov ditersangkakan KPK, elektabilitas partai beringin terus merosot tajam. Apalagi sebelumnya, nama kader kader partai itu sudah sering disebut dan bolak balik menjadi pesakitan di KPK.

Baca juga  PT 20-25 Persen dan Kongkalingkong Jokowi Capres Tunggal

Kini Setnov seorang diri di ruang tahanan KPK. Pengacara dan koleganya di partai juga sudah mengundurkan diri dan mendesak ia untuk segera lengser dari kursi ketua umum. Harapannya untuk meminta perlindungan kepada Polri, TNI dan Presiden serta berlindung dibalik jubah imunitas anggota DPR tak digubris oleh KPK.

Terbaru, Hakim Kusno di persidangan pra peradilan di PN Jakarta Selatan juga memintanya untuk menarik gugatan. Setnov makin menderita. Tak pengacara, rekan separtai, hakimpun menyarankan ia menarik gugatan.

Ia seperti berjuang sendiri. Segala kemewahan yang dulu melekat kini berganti derita. Setnov semakin ke tepi. Jabatannya sebagai Ketua DPR juga diutak atik politisi Senayan. Ia dinilai tak pantas lagi memimpin lembaga negara. Kata politisi di DPR, sebaiknya Setnov mundur agar citra DPR tidak semakin buruk dimata publik. (mrz)

Lihat juga liputan khusus “Hari Anti Korupsi” Lainnya :

  1. Ketika Semua Meninggalkan Setnov
  2. Balada KPK Menjerat Setya Novanto
  3. Tatkala Tangan KPK Menjerat Ketua Lembaga Tinggi Negara
  4. Korupsi SKL BLBI lebih Merugikan Negara Dibandingkan e-KTP
  5. Daftar Kepala Daerah Dari PDI-P dan Golkar Yang Terjaring KPK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here