Kode Keras dari Seberang Istana

0
Kode Keras dari Seberang Istana

Untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun berturut turut sebuah aksi yang diikuti ratusan ribu massa digelar di pelataran Monumen Nasional Jakarta. Pada awalnya, aksi itu bermula dari “Aksi Bela Islam” yang dilakukan pada tanggal 4 November 2016 guna mendesak aparat kepolisian untuk segera memeriksa Gubernur DKI pada waktu itu dijabat oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dalam kasus penistaan agama. Aksi itu berlanjut menjadi aksi berikutnya dengan jumlah yang jauh lebih besar.

Minggu (2 Desember 2018) silam, aksi serupa kembali digelar. Meski bukan lagi sebuah aksi yang mendesak aparat untuk memproses hukum seperti yang sudah sudah, aksi hari Minggu itu adalah sebuah reuni biasa atas peristiwa besar yang pernah dilakukan pada tahun 2016 silam.

Sebagaimana biasa, pro dan kontra atas aksi itu tentu tidak bisa dihindarkan. Ada pihak yang terima dan memandang positif kegiatan dilaksanakan, namun disisi lain, ada pula yang mencibir bahkan berusha menghalangi agar aksi itu tidak dilaksanakan. Berbagai aksi penolakan juga dilakukan termasuk mendesak Pemerintah DKI dan aparat keamanan tidak memberikan izin dan rekomendasi pelaksanaan. Akan tetapi, suara penolakan itu kalah jauh.

Pro dan kontra juga terjadi paska kegiatan dilaksanakan. Ada yang menyebutkan jumlah peserta “Reuni ABI” itu hanya segelintir dan ribuan massa saja, namun ada pula yang menyebut angka fantastis. Saya tidak menghitung dan menjadikan jumlah massa itu sebagai pokok bahasan tulisan.

Dalam pandangan saya, Reuni Aksi Bela Islam 2018 silam, telah mengirim sebuah kode keras kepada Capres petahana Jokowi Widodo dan pasangannya Ma’ruf Amin. Mendekati hari pencoblosan Pilpres pada 17 April tahun depan, dan dengan berbagai versi selisih hasil jajak pendapat yang digelar berbagai lembaga survey, saya melihat peristiwa hari Minggu kemarin adalah sebuah sinyal kepada kubu petahana bahwa mereka kalah set dari pihak lawan.

Baca juga  Masyarakat Kudu Saksikan Debat Capres Perdana Hari Ini

Boleh saja pantia pelaksana Reuni Akbar membantah bahwa Reuni itu bukan aksi politik. Memang kalau kita saksikan, tidak ada satupun bendera partai politik atau simbol simbol capres yang muncul di arena pelaksanaan, namun hadirnya Prabowo dan tokoh tokoh lain yang ikut serta dimana sebagian besar dari mereka adalah kalangan oposisi sudah cukup menjadi alasan bahwa pihak petahana harus menghitung ulang peluang dan strategi mereka.

Prabowo yang diundang dan hadir memang tidak sedikitpun menyebut atau berkampanye di arena tersebut. Namun kehadirannya ditengah massa itu adalah bukti bahwa ia berada ditengah massa pendukungnya.

Tidak ada yang bisa membantah bahwa Prabowo memiliki kedekatan dengan alumni 212. Lihatlah struktur Badan Pemenangan Nasional (BPN) atau tim kampanye Prabowo-Sandi. Banyak nama nama yang ada di struktur tersebut terlibat dalam aksi Reuni Alumni 212.

Inilah pilihan sulit sebenarnya, ketika Pilpres yang akan berlangsung tahun depan hanya mampu menghadirkan dua pasang Capres yang itu ke itu saja. Rakyat tidak diberi pilihan lain selain Prabowo atau Jokowi.

Pilihan itulah yang membuat hampir sebagian besar massa pendukung aksi 212 kini menjatuhkan ketetapan pada Prabowo. Hal ini dikarenakan sikap pemerintah (petahana) sendiri. Stigma dan citra bahwa pemerintahan saat ini kerap mengkriminalisasi ulama sudah terlanjur lekat dan sulit dihilangkan. Hal itulajh dasar kenapa alumni 212 memberikan dukungannya kepada Prabowo-Sandiaga. Sebuah keputusan sebagai bentuk perlawanan petahana.

Baca juga  Harga Penerbangan Domestik Meroket, Strategi Hambat Lawan Politik?

Kembali ke Reuni Akbar Alumni ABI 212 yang kemarin digelar, saya melihatnya sebagai kode keras kepada pasangan Jokowi – Amin yang disampaikan langsung di depan gerbang kubu petahana. Kedatangan peserta aksi yang sukarela dengan biaya sendiri dari berbagai daerah, aksi yang berlangsung damai dan tertib adalah sebuah pertanda bahwa barisan pendukung Prabowo solid dan mereka akan memanfaatkan sisa waktu tersisa selama empat bulan setengah kedepan untuk menghapus jarak dengan petahana.

Sialnya, kubu petahana gagap menghadapi perlawanan ini. Mereka kerap blunder dan kebingungan menghadapi masifnya serangan kubu penantang. Statement yang disampaikan ke ruang publik terkait jumlah peserta aksi misalnya dipatahkan dengan berbagai data baik yang disampaikan oleh kubu peserta aksi maupun pihak yang cukup netral. Lihatlah timeline media sosial kita hari hari ini. Penuh dengan semangat perlawanan dan dukungan kepada Prabowo – Sandi, sementara kubu petahana malah membuat blunder dengan narasi narasi yang tak teratur bahkan jadi lucu lucuan pihak lawan.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here