Kokoh Dihadang Badai, Demokrat Kembali Menapaki Jalan Menuju Puncak

0
3679

Tepat hari ini 16 tahun yang lalu, satu partai politi baru didirikan. Demokrat itulah nama yang diberi oleh para pendiri, dan sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan salah seorang inisiator. Saat itu SBY menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan pada era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Berstatus sebagai partai baru, Demokrat pada tahun 2004 berani mengusung kadernya sendiri yaitu SBY untuk bertarung dikancah Pemilihan Presiden (Pilpres). Berkoalisi dengan partai PBB dan PKPI pada putaran pertama, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla menjadi pemuncak. Begitu juga pada putaran kedua, mereka menumbangkan Megawati yang merupakan kandidat petahana.

Kemenangan kader Demokrat pada Pilpres 2004 membuat nama partai makin melambung. Terbukti pada 2009 Demokrat menjadi jawara di Pemilihan Legislatif (Pileg), mereka meraup suara hingga 20 persen di Senayan. Seiring dengan hal tersebut, Demokrat juga kembali berhasil mengantarkan kader utamanya yaitu SBY kembali menjadi pemimpin Indonesia untuk periode kedua.

Kemenangan Demokrat tidak saja untuk DPR RI, tapi juga DPRD. Ketua DPRD banyak dikuasai Demokrat, sebagaimana yang diatur didalam UU MD3 tentang pemenang pemilu otomatis mendapat jabatan pimpinan secara otomatis. Tentu fakta itu menjadikan Demokrat sebagai partai terbesar di Indonesia mengalahkan partai mapan seperti Golkar, PDI P dan PPP.

Tapi pada tahun 2014, perolehan suara Demokrat anjlok hingga 100 persen. Jika pada tahun 2009 mendapatkan 20 persen, pada 2014 mereka hanya mendapatkan 10 persen. Dari posisi pertama turun ke posisi empat, mereka dibawah PDI P, Golkar dan Gerindra. Tapi hasil tersebut menurut para pengamat politik masih terbilang bagus, karena dari prediksi sebelum pemilu, Demokrat berada pada angka dibawah lima persen.

Demokrat Diterpa Badai Dari Segala Arah

Anjloknya perolehan suara Demokrat tidak terlepas dari badai yang menerpa partai tersebut, baik dari internal maupun eksternal. Satu persatu kader Demokrat menjadi pesakitan dalam kasus korupsi, dan puncaknya saat Ketua Umum saat itu Anas Urbaningrum juga terseret. Badai besar makin menjadi menerpa Demokrat, dan dari beberapa kali survei, suara partai tidak pernah mencapai angka lima persen.

Baca juga  Sikap Ksatria SBY yang Konsisten Tolak Pelemahan KPK

Dalam kondisi diambang kehancuran, Demokrat mengambil langkah berani dengan menyematkan amanah Ketua Umum kepada SBY, disaat dia masih menjabat sebagai Presiden. Keputusan yang tentu saja sudah difikirkan secara matang, karena jika salah mengambil kebijakan maka Demokrat akan terdegradasi dan tidak lolos ke Senayan.

Bertahun-tahun lamanya Demokrat menjadi bulan-bulanan media. Isu utama yang digoreng adalah persoalan korupsi yang menjerat kader-kader Demokrat, dan upaya tersebut berhasil mencoreng nama partai. Persepsi masyarakat menjadi terbentuk, kalau Demokrat adalah partai terkorup. Itu kata yang paling melekat dalam ingatan masyarakat saat ditanya tentang Demokrat. Walaupun fakta sebenarnya lain, karena dari data yang dirilis Metro TV dan ICW Watch, partai paling banyak kadernya tersangkut korupsi itu adalah PDI P dan Golkar sejak era reformasi bergulir.

Tapi karena yang disorot itu adalah Demokrat, maka yang muncul dalam persepsi masyarakat lain dari fakta sebenarnya. Entah itu memang diskenariokan seperti itu untuk menghancurkan Demokrat, atau karena media yang tidak jeli dan utuh dalam menyampaikan informasi.

Melihat dari banyaknya kader yang terjerat kasus korupsi disaat mereka berkuasa, Demokrat sepertinya tidak berupaya melindungi. Padahal untuk mengamankan kadernya Demokrat bisa saja, karena mereka menguasai eksekutif dan legislatif. Tapi hal berbeda dilakukan Demokrat, mereka menyerahkan proses hukum berjalan dengan sendirinya tanpa ada tekanan. Bagi kader yang terjerat tentu akan marah, karena tidak dilindungi. Tapi bagi kita masyarakat diluar partai akan senang karena tidak ada tekanan terhadap penegak hukum oleh penguasa.

Baca juga  Pansus Kehabisan Waktu, KPK Diserang Membabi Buta

SBY sebagai ikon utama Demokrat juga tidak lepas dari serangan. Kritikan hingga aksi diluar kepatutan pernah diterimanya sebagai seorang Presiden. Tapi tidak ada yang ditangkap dengan tuduhan makar, padahal itu bisa saja dilakukannya. Tidak sulit kok, sama seperti yang dilakukan rezim saat ini kepada para tokoh nasionalis. Ditangkap dengan tuduhan makar, tapi tidak juga jelas penyelesaian kasusnya.

Menapaki Kembali Jalan Menuju Puncak

Dengan usia yang sudah menginjak 16 tahun, Demokrat sepertinya sudah menjadi partai yang matang. Proses regenerasi ditubuh partai terus dilakukan, lihat saja bagaimana saat ini banyak pengurus dan kader Demokrat yang berusia muda. Politisi senior tetap diberikan tempat, tapi tidak lagi sebagai eksekutor tapi pengayom.

Langkah ini tentu mendapatkan respon positif dari publik. Banyak yang bergabung karena menyadari apa fakta sebenarnya terjadi tentang korupsi dan sikap Demokrat menyikapi hal tersebut.

Cara Hinca Panjaitan sebagai Sekjen juga layak diberi poin plus. Dengan pendekatan yang berbeda, Hinca berhasil membuat terobosan-terobosan yang menarik. Kader Demokrat kembali bergairah, rasa optimis akan kembali menapaki jalan menuju puncak makin tinggi. Terlebih lagi SBY sebagai Ketua Umum memberikan keleluasaan dan demokratis dalam menentukan pilihan strategi.

Dan yang tidak kalah penting adalah munculnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam berbagai survei yang dilakukan, AHY makin moncer saja ditengah publik. Dia mengalahkan nama-nama senior dalam dunia politik, bukan karena AHY anaknya SBY. Tapi karena AHY punya segudang prestasi dan diakui dunia internasional.

Dengan potensi yang ada saat ini, Demokrat punya peluang untuk kembali ke puncak setelah selamat dari badai. Selamat ulang tahun Demokrat, tetapkan menjadi partai harapan rakyat Indonesia.

Oleh: Murdifin (Peneliti di Perhimpunan Masyarakat Cinta Demokrasi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here