Konflik KKB di Papua: Gangguan Separatis hingga Isu Kesejahteraan Sosial

0
24

Konflik yang ditimbulkan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua menjadi persoalan lama yang seakan tidak pernah tuntas. Ada banyak permasalahan yang menjadi pemicu, mulai dari gangguan separatis hingga isu kesejahteraan sosial.

Kapolri Jenderal (Pol) HM Tito Karnavian mengatakan, salah satu permasalahan yang terjadi adalah akibat adanya pendulangan liar tailing yang merupakan limbah dari PT Freeport yang dilakukan warga lokal dan pendatang. Warga mendulang tailing di Kali Kabur.

“Di situ ada 8 ribu sampai 10 ribu pendulang liar. Pendulang liar ini ada warga lokal dan ada juga pendatang. Tapi, ditengah-tengah itu di ada KKB yang kadang-kadang mereka sebetulnya mendulang juga, tapi kadang-kadang mereka juga melakukan pemerasan kepada pendulang liar ini,” terang Tito kepada wartawan di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Baca juga  Robert Mugabe Akhirnya Dikudeta

Tito mengatakan, ada dua kelompok KKB yang menguasai wilayah Papua ini. Meski persenjataannya tidak terlalu banyak–hanya sekitar 5-10 pucuk–namun konflik yang ditimbulkan oleh KKB kerap terjadi karena mereka menggunakan modus ‘hit and run’. Warga disandera untuk dijadikan tameng.

“Mereka prinsipnya hit and run, setelah dikejar mereka menggunakan para pendulang sebagai tameng,” lanjut Tito.

Ada beberapa permasalahan yang menjadi penyebab munculnya kelompok bersenjata ini. Selain masalah kesejahteraan sosial, beberapa di antaranya membuat kekacauan untuk menimbulkan separatisme.

“Kelompok-kelompok ini ada juga yang berbau spartisnya ada. Kita lihat lebih banyak kepada motif ekonomi. Memang ini permasalahan sosial dari dulu, agar sebaiknya tidak ada lagi pendulangan disitu. Tapi masyarakat ini harus dialihkan, dikanalisasi apa mugkin dipekerjakan,” urainya.

Baca juga  Pengamat Ini Sebut PDI-P Akan Malu di Pilkada Jawa Barat

Upaya-upaya pendekatan dengan berdialog bersama pihak Freeport hingga Pemda setempat untuk mengatasi permasalahan juga belum optimal. “Pernah ada komunikasi Freeport dengan bupati-bupati dimana mereka berasal. Misalnya mendayagunakan kembali menjadi petani, kemudian dari pendatang luar papua, mereka dikembalikan tapi mereka disalurkan di lahan-lahan pertanian disitu. Ini yang belum tuntas,” ucapnya.

Pun halnya dalam segi perkuatan pengamanan dari TNI dan Polri selalu bersiaga untuk mengatasi konflik tersebut. Polri dan TNI selalu bersiaga di lokasi.

(detik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here