Kubu Jokowi Inginkan Gatot, PDIP Tebus “Dosa” ke Gerindra?

0
3924
Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menikmati pengalaman enunggang kuda di padepokan Prabowo di kawasan Hambalang Bogor.

Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik, karena politik itu adalah adalah ilmu tentang kemungkinan. Semua kemungkinan yang dulu diandaikan banyak orang, bahkan oleh politikus itu sendiri, bukan mustahil untuk bisa terwujud. Termasuk kemungkinan bercerainya Joko Widodo dengan PDI Perjuangan di pemilu yang akan datang. 

Genderang Pemilu Serentak 2019 baru saja ditabuh. Awal bulan Oktober ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah memulai tahapan dengan membuka pendaftaran bagi partai politik yang ingin menjadi peserta pemilu. Partai politik mulai berhitung langkah. Pemilu adalah perang pengaruh. Karenanya, sejak awal mereka sudah harus mempersiapkan diri untuk merebut kemenangan.

Dua calon presiden di pemilu sebelumnya, Jokowi dan Prabowo Subianto, kemungkinan besar akan kembali masuk ke gelanggang. Nama pertama telah dideklarasikan oleh sejumlah partai politik, tetapi partai politik yang menaunginya, belum juga bersuara. Nama kedua malah sebaliknya. Sebagai ketua umum, Prabowo jelas akan diusung oleh Gerindra. Meski saat ini belum ada partai politik lain yang ikut memberikan suara.

Kondisi ini menimbulkan spekulasi. Sikap PDIP yang terkesan “ragu-ragu”, menyiratkan ada hal yang belum tuntas dibahas antara elite parpol dengan kandidat petahana. Ini mengingatkan memori publik akan jelang Pemilu 2014 lalu. Saat itu Megawati Soekarnoputri yang masih bernafsu nyapres, harus rela menyerahkan tiket kepada petugas partainya. Penyerahan itu tidaklah mudah. Setelah menjalani pembicaraan yang alot dan panjang, sehingga sejumlah deal disepakati, barulah Megawati mau mengalah.

Hal serupa tampaknya hendak terulang. Tetapi perlu diingat, kondisinya sudah tidak sama dengan dahulu. PDIP mesti hati-hati. Jokowi sekarang adalah presiden yang berkuasa, bukan lagi sekedar petugas partai biasa. Ia juga sudah di-backup oleh enam partai politik, di antaranya Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Hanura, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Solidaritas Indonesia dan Partai Perindo (belum deklarasi). Jadi bargaining position Jokowi saat ini jauh lebih kuat dibanding dulu.

Baca juga  DPR Desak Kemenlu Protes ke China soal Penjualan Perempuan Muda untuk Kawin Kontrak

Informasi yang beredar, PDIP ingin memasangkan Puan Maharani, penerus trah Soekarno, untuk menjadi pendamping Jokowi. Ini sulit, karena belum tentu parpol lain legowo dengan pasangan yang sama-sama berasal dari PDIP ini. Terlebih Golkar, parpol peraih suara terbanyak kedua pada pemilu lalu dan merupakan parpol pertama yang menyatakan komitmen mendukung Jokowi di putaran kedua. Kursi orang nomor dua pastilah menjadi incaran mereka.

Meski begitu, kabarnya lagi, para pembisik Jokowi lebih menyukai Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai calon wakil presiden. Alasannya mudah ditebak, karena elektabilitas Jokowi terus menurun, sementara nama Gatot kian harum, terutama di kalangan pemilih muslim. Untuk kembali meraih simpati dan suara umat Islam, yang selama ini kerap merasa dikecewakan oleh penguasa, Jokowi disarankan untuk menggandeng Gatot.

Kondisi ini pastilah tidak disukai PDIP. Ada selentingan suara di internal mereka yang mengusulkan agar meninggalkan Jokowi. Jika saran ini dijalani, parpol berlambang banteng ini tentu akan bergabung dengan parpol oposisi. Pilihan masuk akal adalah merapat ke Gerindra, sebagai upaya menebus dosa “pengkhianatan” Perjanjian Batu Tulis. Entah bagaimana Gerindra akan bersikap, menerima atau menolak, yang jelas di tubuh PDIP desas desunya ada keinginan menduetkan Prabowo-Puan, sebagai alternatif jika nantinya mereka bercerai dengan Jokowi.

Kedua kemungkinan ini, duet Jokowi-Gatot dan Prabowo-Puan, tidak mustahil terjadi. Ada alasan konkrit yang mendukung teori ini. Pertama, elektabilitas Jokowi kian jeblok. Hanya mendapat suara 30-an persen di survei pemilih, ini terbilang gawat. Sebagai petahana seharusnya ia bisa meraih angka di atas 50 persen, apalagi saat ini kandidat pesaing belum banyak bermunculan. Bandingkan dengan presiden terdahulu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang sanggup meraup 60 persen lebih suara di periode keduanya.

Baca juga  Rezim Kalap dan Korup, Rezim Atychiphobia Syndrome?

Berduet dengan Puan, hanya akan menambah elektabilitas Jokowi semakin ambrol. Karena keduanya hanya mewakili satu partai politik dan elektabilitas Puan juga rendah. Beda dengan Gatot, yang tengah naik daun di mata umat Islam. Latar belakangnya yang berasal dari kalangan militer juga akan mendongkrak simpati rakyat memilih Jokowi kembali. Karena tidak mewakili salah satu parpol, ia akan lebih mudah diterima oleh kumpulan parpol koalisi.

Kedua, jika Megawati masih ingin garis keturunannya memimpin Indonesia, hanya saat inilah waktunya. Mumpung mereka petahana, mumpung presidential threshold 20 persen, peluang mereka paling besar dibanding parpol lain dalam mengusung kandidat. Kalau kesempatan ini lewat, langkah Puan akan semakin berat untuk kembali masuk ke dalam pusaran perebutan kursi orang nomor satu di negeri ini.

Tentu saja, semua itu tergantung Prabowo, apakah ia mau menampung Puan atau tidak. Namun, jika nanti tawaran ini benar-benar datang, Gerindra pasti akan menimbang secara matang. Kini mereka tengah terpasung PT 20 persen. Masuknya PDIP akan membuat tiket capres otomatis berada dalam genggaman. Duet Gerindra-PDIP ini juga bisa menjadi salah satu upaya guna mengatasi elektabilitas Prabowo yang juga cenderung meredup.

Semuanya bisa terjadi. Sekali lagi, politik adalah ilmu tentang kemungkinan.

Oleh – Rafael Wildan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here