Lonceng Kematian KPK Telah Berbunyi Disaat Mereka Kesepian

0
245
KPK

Ibarat lonceng kematian, ucapan Anggota Pansus Hak Angket KPK, Henry Yosodiningrat yang mengusulkan lembaga pemberantasan korupsi dibekukan sementara waktu, sudah berdentang dengan keras. Sebagai anggota dewan yang terhormat dan berada di panitia khusus, ucapan Henri tidak bisa dianggap enteng.

Meski telah diklarifikasi oleh Sekjend PDI P, Hasto Kristiyanto tapi itu tidak serta merta menyelesaikan. Harus diingat Henry merupakan wakil rakyat, jadi dia bertanggungjawab terhadap rakyat.

Usulan pembekuan sudah sama dengan ada niat. Kalau itu terjadi, maka KPK tidak akan bisa memberantas korupsi dalam waktu yang tidak ditentukan. Henry menyebutkan dalam pernyataannya kalau butuh waktu lama dalam pembenahan. Rekomendasi tersebut akan disampaikan dalam rapat paripurna 28 September mendatang, batas waktu bekerjanya Pansus Hak Angket.

Kalau KPK dibekukan, bagaimana nasib kasus-kasus korupsi yang tengah diusut. Apakah itu akan otomatis dianulir, atau dipindahkan ke penegak hukum lainnya. Aturan apa yang akan digunakan, dan berapa lama prosesnya. Banyak pekerjaan rumah yang menanti jika memang usulan tersebut diseriusi oleh DPR RI dan Pemerintah.

Kita mengetahui saat ini KPK tengah mengusut beberapa kasus mega korupsi, seperti e-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah. Penggelapan pajak yang menyeret nama adik ipar Presiden Jokowi, dan beberapa kasus besar lainnya. Dalam kasus e-KTP, beberapa pejabat disebut-sebut namanya dalam persidangan. Mulai dari Setya Novanto, Ganjar Pranowo, Yasona Laoly, Olly Dondokambey dan beberapa nama kondang lainnya. Dari sekian nama, Setnov baru yang ditetapkan KPK sebagai tersangka. Mereka semua membantah dituding menerima duit haram tersebut.

KPK memang pada periode saat ini sering mendapatkan serangan, sebelum Pansus Hak Angket bergulir. KPK juga telah diserang dengan menyiram air keras kepada penyidik senior KPK, Navel Baswedan. Hingga saat ini kasus tersebut belum juga tuntas, dan Jokowi sepertinya enggan membentuk tim pencari fakta independen. Padahal tim itu akan sangat membantu menyakinkan masyarakat kalau pengusutan kasus penyerangan berjalan.

Baca juga  Sepucuk Surat Sakit dari si "Licin" yang Selalu Lolos

Namun serangan makin gencar kepada KPK sejak Pansus Hak Angket bergulir. Hampir setiap hari ada saja kritikan tajam yang dialamatkan kepada lembaga yang dipimpin Agus Raharjo tersebut. Salah satunya mengundang Direktur Penyidikan Direktur Penyidikan, Brigjen (Pol) Aris Budiman tanpa izin dari pimpinan KPK.

Dari keterangan Aris terungkap tentang adanya pertentangan ditubuh internal KPK. Tapi sebenarnya pertentangan dalam sebuah institusi tersebut hal yang biasa, tapi dibuat seolah-olah parah. Sedangkan dalam kabinet kerja Jokowi saja pernah terjadi silang pendapat antar menteri.

—————

Mulai dari Setya Novanto, Ganjar Pranowo, Yasona Laoly, Olly Dondokambey dan beberapa nama kondang lainnya. Dari sekian nama, Setnov baru yang ditetapkan KPK sebagai tersangka.

—————

Usulan pembekuan juga sudah menjadi sinyal kuat pelemahan KPK. Bukan sinyal juga sih, tapi sudah ancaman nyata. Ada pihak yang tidak senang dengan tindak tanduk KPK dalam menangkap para koruptor, terutama kelas kakap.

KPK Kesepian

Disaat posisinya semakin terpojok, KPK seolah berjuang sendirian. Jarang sekali terdengar suara pembelaan dari para aktivis yang dulu berdiri terdepan dalam membela KPK. Berharap dari Jokowi, sepertinya juga sulit. Untuk membentuk TPF saja belum terlaksana, apalagi melawan keinginan partai-partai yang mendukungnya di pemerintahan.

Seperti diketahui, anggota Pansus Hak Angket KPK memang boleh dikatakan hampir semua berada dalam koalisi pendukung pemerintah. Dan pembentukan Pansus tentu sepengetahuan dari Ketua-ketua partai dan tentu juga diketahui Jokowi.

Baca juga  Kunjungi Kelok Sembilan, AHY Berharap Infrastruktur Terus Dikembangkan untuk Kesejahteraan Warga

Media yang diharapkan menjadi corong, kini seperti tidak menganggap potensi pelemahan KPK sebagai isu yang seksi. Entah karena tekanan pemilik, pemasang iklan, atau memang daya kritisnya sudah mulai menghilang. ICW yang dulu sangat pedas ucapannya, kini seperti bisu. Pernah mereka mengeluarkan pernyataan, tapi setelah itu diam seribu bahasa.

Saya yakin, kalau SBY masih presiden dalam posisi KPK seperti saat ini, ICW akan berkoar-koar setiap hari. Karena dulunya ICW seperti itu, langsung mengaitkan persoalan tertentu dengan Presiden. Tapi sekarang ICW sudah mulai kehilangan daya kritis juga, atau ada pengaruh Teten Masduki dilingkaran Istana?.

Memang masih ada pihak-pihak yang mendukung KPK. Mulai dari tokoh seperti SBY, Mahfud MD, dan banyak lagi. Begitu juga dengan partai politik, ada beberapa Partai yang menolak keberadaan Pansus sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan KPK, bukan pelemahan.

Saya yakin KPK saat ini kesepian. Mereka seperti kehilangan para teman yang dulu begitu nyinyir membela, walaupun kadang hanya untuk pencitraan. Saat mereka sudah berkuasa atau mendapatkan jabatan, mereka menghilang dan membiarkan KPK sendiri.

Tapi KPK juga harus siap untuk dikoreksi, tidak ada satupun yang sempurna. KPK juga harus bebas dari kepentingan, jangan jadi alat dari pihak tertentu. Dan jangan pilih kasih dalam menetapkan seseorang terlibat atau tidak, jika pernah salah akui saja. Yakinlah akan datang teman baru untuk membela.

KPK harus diselamatkan, bukan karena mereka pernah salah. Tapi karena dibutuhkan rakya dalam membasmi koruptor.

Oleh: Tendri Wardi (Warganet di Lampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here