Luhut Bertemu Prabowo, Golkar Keluar Barisan Pendukung Jokowi?

0
6750
Luhut Bertemu Prabowo, Golkar Keluar Barisan Pendukung Jokowi?

Pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan dengan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto memunculkan teka-teki baru. Apakah Luhut sudah mulai gerah dengan sejumlah mantan elite militer yang berada dijajaran kabinet dan seputaran Jokowi? Atau apakah mungkin Luhut bisa menggirig Golkar keluar dari barisan Jokowi dan memunculkan calon sendiri demi kebaikan partai dan atas nama Suara Golkar Suara Rakyat?

Dalam sebuah kesempatan, Jokowi pernah mengakui bahwa di Golkar ada grup atau kubu yang mempunyai tarikan yang kuat. Hal itu terlihat saat Pemilu 2014, dimana saat itu Jusuf Kalla lebih memilih Jokowi bersamaan dengan Luht B. Pandjaitan. Sementara Abu Rizal Bakrie saat itu memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Kendati dukungan partai didapat oleh Prabowo, namun tidak sedikit kader partai yang menyebrang membantu Jusuf Kalla dan Luhut untuk memenangkan Jokowi. Begitulah adanya dinamika di tubuh partai berlambang beringin ini. Dukungan partai tidak selamanya menentukan arah dukungan kader di lapisan bawah.

Berjalannya pemerintahan Jokowi, di bawah kepemimpinan Setya Novanto Golkar merubah haluan. Koalisi yang dibangun dengan Koalisi Merah Putih (KMP) ditinggalkan. Bergabung dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan masuk dalam pemerintahan merupakan strategi untuk memberikan dukungan penuh kepada kadernya, Jusuf Kalla dan Luhut.

Baca juga  Bungkam Kebebasan Berpendapat, Rezim Tirani Menunggu Hukuman Rakyat

Jauh sebelum memasuki pilpres 2019, Golkar telah memberikan dukungan penuh kepada Jokowi. Ketika Setya Novanto masuk bui, terpaksalah Airlangga yang melanjutkan tongkat estafet dukungan partai Golkar kepada Jokowi. Padahal saat ini elektabiltas Jokowi mandeg di bawah 50 persen dan Golkar punya potensi sebagai partai pemenang kedua pemilu 2014, untuk mengusung calonnya sendiri.

Kemungkinan-kemungkinan itu agaknya sudah terbaca oleh sejumlah elite Golkar. Apalagi selama ini tradisi di Golkar adalah memunculkan kandidat disetiap kali gelaran pilpres berlangsung. Menang kalah itu terakhir, yang terpenting kandidat yang dimunculkan juga dapat mendongkrak peraihan suara partai di parlemen.

Terlihat riak-riak dukungan kader Golkar untuk mendorong Jusuf Kalla untuk kembali maju bersama Jokowi. Hal ini memang agak aneh, seakan kader partai sebesar Golkar tidak paham dengan konstitusi yang mengatur massa jabatan seseorang menjadi presiden atau wakil presiden. Terlepas dari itu, ini juga mengindikasikan ada upaya mengacaukan konsentrasi Golkar secara internal.

Terbaru, pertemuan Luhut dan Prabowo yang membuat banyak pihak bertanya-tanya. Sah-sah saja sejumlah pihak mengatakan itu merupakan silaturahmi politik yang biasa. Namun yang harus dicermati adalah irisan mereka berdua yang sangat kuat. Kedua tokoh ini merupakan mantan Kopassus, Prabowo juga menantu dari keluarga Cendana (Soeharto) dan Luhut merupakan loyalis Golkar yang dibangun oleh rezim orba di bawah kekuasaan Soeharto.

Baca juga  Langkah Tepat Demokrat Melawan Fitnah Terhadap SBY

Dalam politik hal berbeda itu merupakan hal yang biasa. Tapi ketika berbicara kepentingan kelompok, irisan, gerbong, dan sebagainya, semua akan bersatu. Hal tersebutlah yang biasanya membuat perbedaan pandangan politik menjadi mencair.

Sebenarnya, tidak ada ruginya juga bagi Golkar meninggalkan Jokowi. Karena menurut beberapa lembaga survei, dukungan terhadap Jokowi hanya menguntungkan bagi PDIP dalam pemilu legislatif. Mayoritas masyarakat hari ini lebih mengasosiasikan Jokowi ke PDIP ketimbang partai Golkar. Angkanya pun jauh berbeda, 42 persen PDIP sedangkan Golkar hanya 13 Golkar.

Sudah semestinya Airlangga sebagai pemegang kendali mempertimbangkan hasil Rapimnas Golkar pada tahun 2016. Apakah hal tersebut sudah sesuai keinginan kader dan masyarakat atau hanya ambisi politik Setya Novanto saat itu. Apalagi Golkar memasang tagline Suara Golkar Suara Rakyat, harusnya Golkar turun langsung mendengarkan keinginan dan kehendak rakyat.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here