Manuver Bimbang, Minder dan Paranoid Jokowi dalam Memilih Cawapres

0
2288
Manuver Bimbang, Minder dan Paranoid Jokowi dalam Memilih Cawapres
Calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Nasdem, PKB dan Hanura, Joko Widodo (dua kiri) bersama sejumlah ketua partai pendukung saat berkumpul sebelum deklarasi, di kediaman Megawati Soekarno Putri, Jakarta, Senin (19/5).

Jujur saya tertawa ngakak saat membaca pernyataan Sekjen Partai Nasdem Jhony Plate yang prestisius itu. Cawapres Jokowi pasti buat gempar Indonesia! Pernyataan-pernyataan senada ini banyak banget muncul sepekan terakhir ini. Umumnya dimainkan oleh para elit parpol koalisi pendukung Jokowi.

Targetnya apalagi kalau bukan buat pencitraan seolah-olah Jokowi itu kandidat yang keren habis, yang keputusannya dalam memilih cawapres akan membikin rakyat Indonesia bersorak-sorai: gila, enggak nyangka gue!

Padahal semua pernyataan itu cuma omong kosong. Yang sebenarnya terjadi adalah Jokowi sedang kelimpungan, sedang bingung habis! Dia berada pada posisi serba salah, bak makan buah simalakama.

Hari ini kita bisa melihat bahwa Jokowi nyata-nyata bukan decision maker yang tegas.Dia seorang peragu, bimbang, dan paranoid. Ada tiga paranoid yang kini bergulung-gulung di otak Jokowi. Dia paranoid akan ditinggal parpol koalisi sehingga di sisa pemerintahannya ini kabinetnya akan gonjang-ganjing. Dia paranoid akan berhadapan dengan karisma Megawati yang masih menjadi penentu di tubuh PDIP. Dia paranoid akan kalah Pilpres 2019.

Dipikirnya tiga kecemasan ini akan menyata jika Jokowi salah memilih cawapres pendamping. Akibat kelemahan sisi kepemimpinan ini sampai sekarang isu cawapres Jokowi simpang-siur. Sampai bosan publik membaca narasi yang itu-itu saja. Tragisnya, gara-gara berkutat di titik keraguan Jokowi ini, isu-isu pro rakyat yang sesungguhnya jauh lebih penting malah terpinggirkan.

Baca juga  Membaca Elektabilitas dan Peluang Jokowi di 2019

Ada isu Jokowi sudah pegang satu nama; ada yang bilang masih mesti menyeleksi 10 nama. Ada yang ngotot semacam Muhaimin Iskandar dengan PKB-nya, ada yang manuvernya santai semisal Airlangga Hartarto, ada yang tetap pede walau secara elektabilitas sosok dan parpolnya relatif tertinggal semacam Romahurmuzy.

Sementara itu relawan masing-masing kandidat itu dibiarkan bergerilya, membikin gerakan ini-itu—ada Join, Gojo, Barjodi dan lain-lain. Belum lagi calon-calon yang diusung-usung relawan non parpol. Dan belakangan muncul nama Mahfud MD dan Sri Mulyani.

Kalau Jokowi sudah saklek dengan satu nama, mengapa dia biarkan orang-orang berkoar-koar dirinya akan diambil sebagai pendamping Jokowi? Ini menggambarkan Jokowi pakai strategi test the water. Ibarat nelayan, Jokowi melakukan manuver menjala ikan secara berulang-ulang. Harapannya dia bisa menemukan sosok yang benar-benar bisa diterima publik, harapannya dia bisa dapat ikan yang besar.

Dalam strategi politik, mereka yang pakai jurus test the water mengkonfirmasi gejala keraguan dan takut kalah berkompetisi. Celakanya, jurus  test the water ini pun tidak diimbangi dengan kematangan dalam berpikir dan berstrategi. Akibatnya, alih-alih jadi nahkoda yang tangguh, kapal Jokowi itu malah diombang-ambingkan lautan.

Baca juga  Romahumuziy Sebut Pengumuman Nama Cawapres Jokowi Tunggu "Koalisi Sebelah"

Alasan Jokowi menunggu cawapresnya Prabowo lebih lucu lagi. Lha, sejak awal lembaga survey-survei itu selalu menempatkan Jokowi di titik tak terkalahkan. Katanya Prabowo bakal jadi sekadar  tukang sorak dalam Pilpres 2019 kelak. Katanya gubernur-gubernur yang baru terpilih itu orang-orangnya Jokowi. Terus kok Jokowi masih ketar-ketir?

Kalau modal politik Jokowi sudah semegawah itu, buat apa mengintip-intip cawapres Prabowo? Kalau sudah yakin menang, mengapa tidak langsung putuskan saja? Strategi politik, mbahmu! Fakta ini amat terang. Jokowi tidak percaya diri! Jokowi takut kalah pilpres! Jokowi paranoid!

Tapi sebenarnya, manuver Jokowi ini tak perlu diributkan. Ini cuma fenomena gunung es. Dari jauh-jauh hari Indonesia  memang sedang apes sehingga dapat presiden yang peragu, bimbang, tak tegas dan paranoid semacam Jokowi. Tidak perlu jauh-jauh menelisik. Sudah nampak jelas saat pemerintah ngotot memaksakan presidential threshold 20% yang nyata-nyata menelikung akal sehat itu.

Oleh: Hermansyah Wibisana, pengamat politik, mukim di Surabaya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here