Memahami Sikap Demokrat terhadap Jokowi

0
Memahami Sikap Demokrat terhadap Jokowi

Pidato Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Rapimnas Partai Demokrat di Sentul Bogor, Sabtu (10/3) lalu kalau didengarkan sepotong-potong, orang bisa salah tafsir. Seolah-olah Demokrat akan atau pasti berkoalisi dengan PDIP. Tapi apa iya memang seperti itu?

Kalau didengarkan secara utuh pidato itu, sikap demokrat sangat jelas. Artinya dalam Rapimnas di Sentul ini, Demokrat belum mendeklarasikan dukungan pada Capres manapun. Bahkan dalam pidatonya dihadapan ribuan kader PD serta Presiden Joko Wdodo, SBY meminta agar Pers dan Media bisa bersabar dulu.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa SBY dan Demokrat dilobby habis-habisan oleh sejumlah pihak untuk segera menunjukkan posisinya dan segera mencalonkan Jokowi sebagai Presiden mendatang. Di sisi lain, Bukan cuma itu, Partai Demokrat juga dilobby untuk membentuk poros ketiga.

Namun, terhadap lobby dan desakan itu, SBY menunjukkan karakternya yang tenang dan tidak tergesa gesa. Sebagaimana karakter SBY yang kita ketahui bersama, dia tidak mudah untuk dipengaruhi apalagi dipaksa. Justru seperti biasanya, SBY tidak mau gegabah mengambil keputusan dan selalu berpikir secara rasional.

Kalau tiba-tiba harus mencalonkan Jokowi sebagai Presiden, tentu tidak segampang dan sesederhana itu. Bahkan, dari segi waktu tidak ada alasan apapun untuk segera mencalonkan seorang Jokowi sebagaimana yang dilakukan Golkar, Nasdem, Hanura dan belakangan PDIP. Demokrat di luar pemerintahan sehingga secara politik tidak ada keharusan untuk segera mencalonkan Jokowi sebagai Presiden mendatang.

Baca juga  Strategi Kriminalisasi Oposisi Kembali Diulangi?

Ajakan atau desakan untuk segera mendeklarasikan Poros Ketiga, bagi SBY yang pernah menang 2 x dalam Pilpres (2004 dan 2009), beliau sangat mengerti bahwa tanpa elektabilitas yang tinggi tidak mungkin seorang Capres akan berhasil. Apalagi dalam UU Pemilu sekarang ini untuk mengusung Capres/Cawapres harus punya 20%.

Jadi, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa SBY dan Demokrat BELUM memastikan dukungannya terhadap Jokowi. Dan disamping itu, SBY dan Partai Demokat juga belum memastikan akan membentuk Poros Ketiga.

Hal lain yang dapat kita ambil kesimpulan lain dari pidato SBY di Sentul adalah, tidak ada pernyataan secara eksplisit bahwa Demokrat pasti berkoalisi dengan PDIP. Yang dikatakan SBY, bisa saja Demokrat bersama-sama Jokowi (bukan PDIP) asalkan ada kecocokan. Nah, kecocokan yang dimaksud SBY adalah tiga syarat yang disampaikan di Sentul.

Syarat pertama, adalah kebersamaan Demokrat dengan Jokowi apabila kerangka kerjasamanya jelas. Misalnya Jokowi maju, Cawapresnya siapa. Tanpa kejelasan tentang Cawapres itu, SBY yang punya pengalaman dua kali jadi menjadi Capres tentu tidak mungkin begitu saja membangun kebersamaan (koalisi).

Baca juga  Orang Gila di Kegilaan Tahun Politik

Syarat kedua adalah kebersamaan dengan Jokowi dimungkinkan apabila ada kesamaan visi, misi dan platform Pemerintahan 2019-2024 mendatang. Artinya SBY yang punya pengetahuan dan pengalaman memimpin Indonesia selama sepuluh tahun tentu tidak mau begitu saja berkoalisi dengan calon yang visi misi dan platformnya jauh berbeda dengan yang dimiliki Demokrat.

Sedangkan syarat ketiga adalah justru kalau Demokrat berkoalisi dengan partai lain, hubungan antar partai harus baik. Justru disinilah hambatan Demokrat begitu saja bisa mendukung Jokowi sementara hubungan SBY dan Megawati tidak baik.

Setelah pidato SBY banyak komentar dari sejumlah kalangan yang salah mengartikan pidato SBY. Seolah-olah Demokrat pasti berkoalisi dengan PDIP. Padahal justru hubungan yg belum baik antara Demokrat dan PDIP (terutama sikap Megawati terhadap SBY dan Demokrat), justru itulah yang akan jadi penghalang kemungkinan kebersamaan Demokrat dengan Jokowi.

Oleh – Resti Sari (Netizen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here