Membikin Pilpres 2019 Lebih Menarik

0
1000
Membikin Pilpres 2019 Lebih Menarik

Ingat perhelatan Piala Presiden 2018 lalu? Terlepas dari kontrovensi supporter dan panitia pelaksana, event itu terbilang sukses. Rakyat Indonesia berduyun-duyun baik secara langsung, maupun via media massa, menyaksikan laga final antara Persija Jakarta vs Bali United.

Laga ini menarik perhatian publik karena yang beradu adalah dua kesebelasan papan atas, dan punya pengalaman tak disangsikan dan supporter fanatik tersendiri. Coba kalau yang bertanding antara Persija Jakarta dengan kesebelasan level kampung entah di mana. Tentu tidak akan semeriah itu. Mengapa? Karena menyaksikan suatu pertandingan yang kita hampir-hampir bisa menebak bagaimana hasilnya tidak menarik amat. Kalaupun kita tetap menyaksikan lebih karena fanatiknya tim, atau mengharapkan kejutan-kejutan seru. Bagaimanapun bola itu bundar!

Ilustrasi ini agaknya bisa menggambarkan perihal Pilpres 2019 mendatang. Ada kemungkinan besar Jokowi vs Prabowo akan berulang. Keduanya masih “klub” ini punya supporter fanatic serta gaya bermain  dan penampilan yang bertolak-belakang. Sementara ini, Jokowi dapat skor 1-0. Bagaimana dengan Pilpres 2019, akankah skor berubah menjadi seri, 1-1?

Namun istilah “bola itu bundar”—sejak metode survei persepsi publik itu menjadi tren—hampir-hampir tidak lagi dikenal. Kompetisi politik kerapkali penuh kejutan dalam proses pemenangannya, tetapi siapa yang akan menang cenderung sudah bisa ditebak. Terlebih, dalam kasus ini, Jokowi vs Prabowo sudah pernah berjibaku sebelumnya.

Jika ditelisikpun, pergeseran supporter Jokowi dan Prabowo cenderung tetap. Tetapi, perlu dipahami bahwa jargon yang dipakai sekarang sudah beralih. Jika pada Pilpres 2014 yang muncul adalah adu “saya bisa bekerja lebih baik dari dia”, maka pada Pilpres 2019 yang terjadi adalah adu “saya bekerja” dan “saya bisa bekerja lebih baik dari dia”. Ada yang move on dan ada yang stagnan di sini.

Baca juga  Setelah Hapus Berita, Kini Asia Sentinel Tidak Bisa Diakses

Celakanya, Jokowi punya modal lebih untuk “membeli” pemain-pemain baru untuk memperkuat timnya. Sementara Prabowo masih bergantung pada orang-orang lama, atau orang-orang baru yang mengantikan orang-orang lama yang sudah masuk usia pensiun.

Dengan latar belakang ini, agaknya pertandingan Jokowi vs Prabowo menjadi tidak menarik. Jadi bagaimana agar pertandingan ini bisa menarik? Ada dua scenario yang saya tawarkan.

Pertama, Prabowo mundur dan digantikan oleh sosok muda, fresh dan segar. Nama-nama calon alternative ini sudah beredar. Tiga sosok yang paling diunggulkan adalah Agus Harmurti Yudhoyono, Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo. Kecuali mereka, juga ada kandidat yang agak hijau, semacam Muhaimin Iskandar dan Tuan Guru Bajang.

Lima nama ini patut diperhitungkan. Kecuali kapasitas kepemimpinan, masing-masing juga memiliki mesin politik yang tangguh—baik secara parpol maupun relawan. Tentu saja bila indikatornya adalah memiliki mesin politik yang paling besar,  hanya dua nama yang patut dihitung: AHY dan Muhaimin Iskandar. Keduanya punya relawan yang mengakar serta dukungan parpol: Partai Demokrat dan PKB.

Baca juga  Bungkam Kebebasan Berpendapat, Rezim Tirani Menunggu Hukuman Rakyat

Kedua, Prabowo maju dengan memilih cawapres yang tepat agar bisa mengimbangi Jokowi. Di sini sulitnya, karena Jokowi juga akan melakukan strategi serupa. Kalau lingkar dalam Jokowi ada yang sampai berpikir disandingkan dengan sandal jepit pun Jokowi akan menang, saya pikir itu over confident. Kalau ada yang bilang Jokowi sebaiknya mengambil orang-orang di “lingkar dalam” yang kapasitas, popularitas dan elektabilitas pas-pasan—ini ngaco sekali!

Sosok cawapres yang tepat artinya setengah kemenangan. Sosok yang segar akan mendongkrak semangat massa pendukung yang akan secara fanatik mendukung  dukungan secara all out. Pasalnya, sosok baru selalu cenderung memberi harapan baru. Sekiranya Prabowo sukses bergandengan tangan yang cawapres semacam itu, sementara Jokowi hanya berdampingan dengan sandal jepit—ini tak ubahnya perjudian besar. Pada posisi ini, peluang Jokowi dan Prabowo sama-sama imbang.

Aksi saling intip ini akan membuat suasana penetapan capres-cawapres menjadi panas, barangkali pada menit-menit terakhirlah pasangan ini akan ditetapkan. Nah, pada saat itulah, Pilpres 2019 baru menarik!

Oleh: Arif Rahman Hakim, warganet, bermukim di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here