Memuji Kedewasaan Sandiaga Menyikapi Dukungan Kader Gus Dur

0
2192
Memuji Kedewasaan Sandiaga Menyikapi Dukungan Kader Gus Dur

Sesuai janji yang pernah disampaikan sebelumnya, akhirnya Putri Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid, mengumumkan sikap politiknya di Pilpres 2019, Yenny dan kader Gus Dur lainnya resmi menyatakan mendukung pasangan Joko Widodo-Maruf Amin. Sikap ini sudah lama diprediksi, meski diantara Gus Dur dan Prabowo sebenarnya sudah pernah terjalin sebuah hubungan yang harmonis semasa hidupnya.

Massa Gus Dur memang menjadi rebutan kedua kubu Capres/Cawapres di ajang Pilpres ini. Mereka diyakini akan mampu menjadi penambah energi bagi masing masing kandidat untuk meraih dukungan suara terbanyak di Pilpres 2019. Apalagi, basis massa ini adalah warga NU dimana Gus Dur pernah menjadi Ketua Umumnya pada masa lalu.

Sejujurnya deklarasi dukungan yang disampaikan Yenny dalam acara Konferensi Pers Konsorsium Kader Gus Dur di Jalan Kalibata Timur I, Jakarta Selatan, Rabu (26/9) itu juga tidak terlalu menarik lagi karena garis ideologisnya. Yenny seorang anak Gus Dur yang NU tentulah wajar memilih capres/cawapres yang ada NUnya. Kita ketahui bersama bahwa KH. Ma’ruf Amin adalah Ketua Rais Am PBNU saat ini. Justru yang membuat heran adalah jika Yenny Wahid dan Gusdurian justru memilih Prabowo.

Baca juga  Kalau Ma’ruf Tidak Minta Maaf, Elektabilitas Jokowi Terancam Tergerus

Memang sempat beredar di media sosial kutipan kutipan Gus Dur yang mengakui kesatriaan Prabowo. Namun hal itu menurut saya hanya gimmick belaka. Sebatas angin sorga bagi pendukung Prabowo. Kenyataannya hari ini, Yenny yang berbicara atas nama sembilan konsorsium kader Gus Dur justru menetapkan sikap sebagai pendukung Jokowi – Ma’ruf.

Pertanyaannya, seberapa efektif dukungan itu. Soal dukung mendukung, semua ormas dan warga negara boleh boleh saja melakukannya. Tentu semua berdasarkan pada kepentingan aspirasi politik mereka. Tokh keputusan terkait siapa yang dipilih di bilik suara pada 17 April tahun depan hanya Tuhan dan si pemilih yang tahu.

Pilihan politik juga tidak bisa dipaksa. Katakanlah saat ini elit di lingkaran GusDurian menyatakan sikap mendukung petahana, namun bagaimana dengan level bawahnya. Apakah akan sama?, jawabannya tentu tidak ada jaminan hal itu akan terjadi.

Saya meyakini pilihan politik tidak bisa didrive oleh elit meski bagaimanapun caranya. Saya masih meyakini, bahwa GusDurian adalah pemilug cerdas yang mampu menentukan sikap secara otonom dan tanpa paksaan.

Merapatnya Yenny dan konsorsiumnya ke Jokowi-Ma’ruf tidak akan membawa pengaruh signifikan pada perolehan suara. Sebab, pemilih yang cerdas selalu menjatuhkan pilihan politiknya berdasarkan kalkulasi politik rasional.

Baca juga  SPRI Tuntut Pemerintah: Data Sejuta Orang Miskin Bermasalah

Sikap optimis juga tergambar dari apa yang disampaikan oleh Cawapres Sandiaga Uno yang langsung mengucapkan selamat kepada Yenny Wahid beberapa saat setelah memutuskan merapat ke kubu Jokowi-Ma’ruf Amin

Pernyataan sikap Sandi yang secara jantan mengakui dan memberi selamat kepada Yenny adalah kredit point yang tak dimiliki kandidat sebelah. Ucapan selamat dan juga terima kasih Sandi saya yakini akan semakin membawanya ke level kedewasaan berpolitik yang kian mendekati kesempurnaan.

Pertarungan politik di Pilpres setidaknya telah ruang bagi pemilih rasional untuk memilih berdasarkan logika logika yang bisa diterima dan bukan sekedar ikatan emosiaonal. Ingat Pilpres ini soal nasib bangsa kedepan, bukan hanya sekedar memilih di bilik suara dan ketawa ketawa saja.

Oleh Rhoma Irama Sutan Nan Bungsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here