Menangisi Penampilan Gatot Nurmantyo di ILC Semalam

0
Menangisi Penampilan Gatot Nurmantyo di ILC Semalam
Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo

Kecewa! Kecewa saya menyaksikan penampilan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo di Indonesia Lawyer Club (ILC) semalam. Gatot terkesan ragu, normatif, dan irit bicara. Akibatnya, aura kepemimpinan Gatot meredup dalam acara talkshow terfavorit yang disaksikan jutaan rakyat Indonesia itu. Sungguh disayangkan!

Gatot terkesan ragu. Dan istilah ‘menjemput takdir’ ini memperkuat kesan tersebut. Gatot ragu dengan posisi yang kelak akan diambil. Apakah dia akan maju sebagai capres, atau cawapres. Apakah merapat ke Prabowo, Jokowi atau punya poros sendiri.

Keraguan Gatot ambruk jadi mengenaskan saat ia menyebut dirinya punya ‘rencana cadangan’. Normatif memang jawaban mantan Panglima TNI ini, tetapi saya yakin publik bisa menebak arahnya. Gatot siap maju bersama siapa pun—baik Prabowo atau Jokowi. Dalam posisi apapun—capres atau cawapres.

Membaca ‘rencana cadangan’ Gatot ini membikin saya pesimis. Gatot tidak maju untuk idealismenya. Gatot maju untuk merebut kekuasaan semata.

Karena, jika Gatot benar-benar hendak maju untuk memperjuangkan idealismenya, semestinya dia lekas bersikap tegas. Dalam forum itu, Gatot akan berkata, “Saya siap maju sebagai capres! Hanya sebagai capres!”

Nyatanya, hal ini tidak dilakukan. Gatot asyik dengan bahasa bersayapnya, yang bisa kita maknai dengan ’kalau tak dapat capres, cawapres pun tak mengapa.’ Tampak sekali sikap menduanya. Gatot tidak berani menyerang Prabowo, sekaligus ambil aman saat ditanya penilaiannya tentang kinerja Jokowi selama ini.

Baca juga  Pembangunan Tanpa Utang, Mungkinkah?

Sikap cari aman ini membuat Gatot tak berbeda dengan politisi kebanyakan. Dia rela menekan idealismenya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Terserah sebesar apa yang didapat, tetapi pokoknya harus dapat. Model politisi cari aman begini adalah satu masalah di ranah politik tanah air. Dan celakanya, pasca menanggalkan seragam militer, Gatot malah ikut-ikutan menyalin-tempel model beginian.

Bagaimana dengan visi-misi Gatot? Ini apalagi. Hanya bahasa-bahasa normatif yang keluar. Aura Gatot yang paham masalah bangsa, negara, termasuk detail memahami ancaman-ancaman asing, sama sekali tak nampak.

Stategi-strategi teknis yang disampaikan Gatot seolah-olah berada di dalam ruang hampa. Gatot sama sekali tidak mengulas bagaimana cara mengatasi tantangan dan ancaman yang mengiringi strateginya itu.

Mau tak mau saya teringat dengan pemikiran Rocky Gerung itu: Orang yang pakai power point, biasanya tak punya power, tak punya poin. Ini yang terkesan dari penampilan Gatot yang serba terbata-bata itu. Sebagaimana kita ketahui, Gatot sering muncul dalam diskusi-diskusi publik bermodalkan power point yang ciamik.

Alhasil, malam tadi, saya—mohon maaf—seolah-olah mendengar seorang mahasiswa tahun pertama yang berbual-bual tentang model ekonomi dengan catatan segala pranatanya sudah ada dan semuanya berjalan baik.

Padahal kita sama-sama paham, persoalan di Indonesia bukan hanya kebijakannya yang kerap salah, tetapi menyusun kebijakan tidak dengan mengantisipasi resiko hambatan dan ancaman yang mengiringinya.

Boleh jadi ragu, normatif, dan irit bicara Gatot semalam karena dia paham posisi. Gatot belum punya tiket pencapresan. Gatot tidak punya koalisi parpol yang sudah nyata-nyata siap mendukungnya. Sehingga, posisinya sekarang ibarat air di daun talas. Amat tergantung pada simpati parpol, atau yang lebih parah, belas kasihan Jokowi dan Prabowo. Karena itu, Gatot amat berhati-hati. Ia tidak mau menyinggung parpol apalagi Jokowi dan Prabowo yang disebut-sebut kompetitor Pilpres terkuat.

Baca juga  Mangkir Lagi di Sidang, KPK Akan Jemput Paksa Wakil Ketua DPR dari PDIP

Sah-sahnya bila itu yang Gatot sasar. Tapi, jika begitu, hal ini semakin mengonfirmasi bahwa Gatot sudah menjadi politikus. Dia bukan lagi Jendral TNI yang tegas, dan siap adu gebuk jika idealismenya dipertaruhkan. Gatot sudah menjadi seorang politikus yang hendak mengadu nasib di Pilpres mendatang. Begitu saja!

Oleh:  Arief Rahman Hakim, pengamat sosial politik, bermukim di Bandung

BACA JUGA:

Dirjen Pajak Harus Dalami Kabar Gatot Nurmantyo Punya Duit Triliunan Buat Nyapres

Menelisik Maksud Puisi ‘Tapi Bukan Kami yang Punya’ Gatot Nurmantyo

Membaca Drama Jokowi-Gatot Dalam Kacamata Langkanya Daging dan Telur

Jenderal Gatot dan Budaya Politik Indonesia

Kubu Jokowi Inginkan Gatot, PDIP Tebus “Dosa” ke Gerindra?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here