Menebak Langkah Maju Mundur Prabowo

0
976
Menebak Langkah Maju Mundur Prabowo

Pendaftaran capres-cawapres baru di bukan di awal Agustus, tetapi pertempuran sudah memanas. Prabowo babak-belur dihajar. Kisah masa lalunya ditelanjangi, kelakukan masa kininya habis dibully.

Siapa sangka perkara obor rakyat muncul lagi lewat narasi Ketum PPP Romahurmuziy? Menjelang peringatan reformasi ini, peluru isu HAM sudah mulai ditembakan ke arah Prabowo. Bagaimana dengan aksi telanjang dadanya?

Tetapi, isu-isu itu barangkali tidak sebanding dengan pukulan telak terkait posisi Prabowo dalam Pilpres mendatang.

John McBeth, jurnalis senior menulis sebuah artikel di Asian Times (atimes.co) berjudul “Indonesia moving toward a one-horse race,” Minggu (15/4/2018). Dia menyebut telah dapat bocoran bahwa Prabowo bersedia menjadi cawapres Jokowi, tetapi sebagai syaratnya dia minta posisi militer dan tujuh (7) kementerian berada di bawah kendalinya. Permintaan ini disampaikan kepada Luhut Binsar Pandjaitan.

Tidak dijelaskan kementerian apa yang diminta. Apa pula maksud militer di bawah kendali Prabowo. Apakah dia menjadi cawapres dan merangkap dengan memegang kendali Kementerian Pertahanan yang secara UU membawahi TNI?

Yang publik paham, Luhut menjelaskan kepada media bahwa dia mendorong Prabowo maju, dan kemudian diralatnya. Dia mengaku hanya mempersilakan bila Prabowo ingin maju. Kesimpulannya, ada ruang kosong dari pernyataan Luhut ini.

Baca juga  Pasang Ngabalin, Jokowi Mainkan Jurus Silat Sambil Becanda

Pasca pertemuan itu, Prabowo akhirnya menerima mandat dari Gerindra untuk maju pada Pilpres 2019. Pertanyaan baru pun muncul. Apakah ini deklarasi benar-benar? Atau cuma akal-akalan untuk memasang posisi tawar?

Jika benar bocoran McBeth, celaka 12 sudah buat Prabowo. Bagi kelompok penentang Jokowi, bisa-bisa Prabowo dianggap pengkhianat. Sebab mereka menggadang-gadang Gerindra-PKS menjadi kendaraan politik untuk menantang dan mengalahkan Jokowi.

Maklum, berbagai survei yang menunjukkan pemilih Indonesia lebih banyak yang menginginkan presiden baru, dan antusiasme publik menyambut gerakan #2019GantiPresden, semakin menambah keyakinan itu. Tinggal mencari figur yang tepat sebagai capres-cawapres. Artinya, pilpres mendatang dianggap momentum paling tepat untuk mengalahkan Jokowi.

Bila benar ada lobi-lobi, maka mengharapkan Prabowo akan menjadi kompetitor utama Jokowi menjadi sulit. Prabowo sudah terjebak dalam strategi “Rangkul dan Pukul” tim pemenangan Jokowi, sebuah strategi ganda.

Di satu sisi coba merangkul untuk menciptakan sebuah skenario calon tunggal. Namun ketika tidak berhasil, mereka melancarkan jurus pukul, untuk menutup peluang rebound elektabilitas Prabowo. Dengan munculnya isu Prabowo sangat ngebet menjadi cawapres Jokowi diharapkan kepercayaan publik kepada Prabowo runtuh.

Baca juga  Kembali Cari Gara-Gara, Jokowi Masih Juga Salah Diagnosis Masalah Bangsa

Dampaknya, elektabilitas Prabowo yang rendah, akan semakin rendah. Prabowo akan kesulitan meyakinkan mitra koalisi, kesulitan mencari figur yang bersedia menjadi cawapres, dan yang paling parah, tak ada bandar yang bersedia menjadi investor politik.

Dalam kondisi seperti ini, opsi yang dipilih Prabowo pasti bukan bergabung dengan Jokowi untuk menyelamatkan diri. Besar kemungkinan Prabowo akan berpaling ke figur alternatif seperti Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, atau Agus Harimurti Yudhoyono. Dan apabila Prabowo memutuskan jadi king maker, ini terang satu skenario yang paling ditakuti Jokowi dan para pendukungnya.

Oleh: Arief Rahman Hakim, warganet bermukim di Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here