Menghitung Hari dan Menakar Ramalan Fahri Hamzah

0
2899
Menghitung Hari dan Menakar Ramalan Fahri Hamzah

Pesta demokrasi pertama telah usai. Pilkada serentak 2018 telah menjadi barometer bagi partai peserta pemilu yang akan berlaga di 2019. Semua partai politik saat ini tengah merancang strategi untuk memenangkan hati rakyat di Pilpres maupun Pileg 2019.

Tahapan menuju 2019 sudah di depan mata. Kurang lebih sebulan kedepan kita sudah akan melihat siapa berhadapan dengan siapa yang akan berlaga di 2019. Jika merujuk kepada beberapa lembaga survei, nama Jokowi sebagai petahana dikabarkan akan kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto.

Analisa lembaga survei tersebut sudah dikeluarkan dari beberapa bulan yang lalu. Namun yang menarik adalah ramalan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Entah memakai skema dan alat ukur apa, Fahri jauh-jauh hari meramalkan koalisi Jokowi akan pecah dan atau Jokowi akan kehilangan tiket berlaga di 2019.

Tanpa disadari, analisa pengamat pasca Pilkada Serentak 2018 sepertinya mengaminkan ramalan Fahri Hamzah. Manuver Jokowi dalam Pilkada Serentak membuat beberapa elite PDIP menjadi geram. Sampai-sampai, salah seorang mantan kader PDIP memberi warning kepada partai banteng moncong putih dengan menulis “Jokowi Milik Siapa”.

Jika Jokowi dianggap membangkang, lalu siapa menguasai Jokowi? Spekulasi bisa jadi mengarah ke Golkar Cs (Golkar, Nasdem, dan Hanura). Namun, bisa jadi Jokowi bukan milik siapa-siapa.

Baca juga  Gabung Timses Oposisi, Kwik Kian Gie Dongkrak Elektabilitas Prabowo-Sandi

Jika dipakai analisa yang pertama, tanpa PDIP pun Jokowi masih bisa tetap maju melenggang di pencalonan Pilpres 2019. Golkar cs saja sudah cukup modal di atas ambang batas presidential threshold 20 persen. Ditambah jika PPP masih tetap bergabung, 33,26 persen suara dukungan parpol sudah di tangan Jokowi.

Dengan skema pecah kongsi ini, yang paling dirugikan adalah PDIP. Seperti diketahui Jokowi lahir dari Rahim PDIP. Mulai dari nol, PDIP membesarkan Jokowi hingga saat ini menjadi Presiden RI.

Dalam konteks demokrasi di Indonesia, pindah-pindah parpol untuk melanggengkan kekuasaan merupakan hal biasa. Banyak contohnya pejabat negara yang melakukan hal serupa. Seperti Tuan Guru Bajang yang awalnya kader Partai Bulan Bintang, diperiode kedua dia maju menjadi Gubernur NTB ia memilih perahu Demokrat untuk mengantarkannya menjadi Gubernur.

Analisa kedua Jokowi bukan milik siapa-siapa bisa jadi mebuat Jokowi tidak mendapatkan tiket untuk maju di Pilpres 2019. Meninggalkan Jokowi didetik terakhir mungkin sangat berat diambil oleh partai pengusung Jokowi. Secara, nilai jual Jokowi sebagai seorang petahana tentu sangat tinggi.

Analisa ini bisa terjadi jika Jokowi salah langkah alias arogan dalam menentukan siapa wakil yang akan mendampinginya. Lima partai pengusung Jokowi tentu punya harapan lebih Jokowi akan memilih kader terbaik mereka untuk mejadi wakil Jokowi di 2019.

Baca juga  Prabowo-Sandi Disarankan Juga 'Garap' Emak-Emak Milenial

Golkar sudah mempersiapkan relawan GoJo dan menyandingkan foto Jokowi bersama Airlangga dimana-mana. Begitu juga dengan PPP, foto Romy sudah dipajang dengan polesan milenial mengikuti trend Jokowi yang metal. Tidak ketinggalan juga PDIP, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dikabarkan dipersiapkan untuk jadi wakil Jokowi. Pada dasarnya, semua partai politik berharap Jokowi memilih wakil presiden dari internal politiknya.

Kesilapan Jokowi dalam menentukan wakilnya inilah yang akan diprediksi membuat malapetaka kepada Jokowi. Soal Jokowi tidak dapat tiket dan waktu yang tinggal sedikit? Lagi-lagi politik itu cair dan dinamis. Semua kita tentu ingat dengan nama AHY yang muncul dalam bursa Pilgub DKI Jakarta yang muncul disaat last minute. Apakah ramalan Fahri akan terwujud? Tinggal waktu yang akan membuktikan.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here