Meraba Arah Dukungan PDIP di Pilpres 2019

0
1030
Pilkada 2018, Kisah Makar Jokowi Terhadap Megawati
Presiden Jokowi dan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri

Pemilu 2019 sudah di depan mata. Sejumlah partai politik telah berkemas untuk dapat berlayar di kancah nasional. Tarik menarik dukungan acap kali terjadi. Ini menandakan prediksi 2018-2019 akan menjadi tahun politik yang panas bisa saja terjadi.

Sejumlah lembaga survei terkemuka pun telah melakukan berbagai simulasi. Dari beberapa simulasi tersebut memperlihatkan elektabilitas Jokowi masih tetap mengungguli rival politiknya Prabowo. Hasil survei tersebut juga memperlihatkan keinginan masyarakat agar Jokowi kedepan di dampingi oleh figure yang berlatar belakang militer. Terlihat dari simulasi pasangan calon wakil Jokowi nama AHY dan Gatot bersaing ketat.

Dengan gerak cepat Jokowi dalam bekerja, tentu dibutuhkan juga seorang wakil presiden yang cekatan juga. Terbukti hari ini pak JK sedikit kewalahan mengimbangi kecepatan gerak Jokowi. Dari survei tersebut tentu sosok AHY menjadi sebuah ancaman bagi partai pengusung Jokowi terdahulu yaitu PDIP.

Di sisi lain dalam beberapa survei tersebut masih ada ceruk yang memungkinkan pemilih untuk beralih dari dua pasang nama tersebut. Cerug inilah yang memunculkan spekulasi bahwa di Pilpres 2019 akan lebih bewarna dengan munculnya calon alternatif. Spekulasi ini juga dikuatkan oleh Mendagri yang juga kader PDIP. Ia menyangsikan koalisi yang selama ini bersama Jokowi akan tetap solid di Pilpres 2019. Tjahjo juga memprediksi akan muncul tiga pasang nama yang akan bertarung.

Baca juga  Tuntut KH Ma'ruf Amin Mundur, Puluhan Santri Akan Demo Kantor MUI

Selain itu, dengan sisa waktu tujuh bulan lagi waktu pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden, PDIP belum juga menunjukkan sikap. Sementara partai-partai yang lain telah menentapkan pilihannya. Beberapa partai menyatakan dukungannya kepada Jokowi, dan beberapa partai lainnya seperti Gerindra, PKS, dan PAN telah memperlihatkan kesolidan koalisinya untuk bertarung di 2019.

Spekulasi yang mengatakan Jokowi tidak lagi harmonis dengan PDIP terus berhembus kencang. Hal itu terlihat dari asumsi publik terkait isu sandera politik yang dilakukan oleh kedua pihak. Jokowi dinilai menyandera Megawati dan PDIP dengan mencuatnya kasus BLBI yang kembali diangkat KPK dan PDIP menyandera Jokowi dengan sindiran keras Megawati terhadap posisi Jokowi yang tidak lebih dan tidak kurang sebagai petugas partai.

Belum lagi yang terbaru, sejumlah kader PDIP beramai-ramai menyerang Jokowi terkait kebijakan pemerintah tentang impor beras. PDIP yang selama ini menjadi partai yang mengusung wong cilik sebagai jargonnya, mengingatkan pemerintahan Jokowi untuk memperhatikan nasib petani. Pemerintah Jokowi diminta untuk mengevaluasi kebijakan yang diambil tersebut berhubungan dengan masa panen di banyak daerah di Indonesia.

Menurut saya, PDIP saat ini masih meraba-raba dalam menentukan siapa calon yang diusungnya. Seperti yang kita ingat, Jokowi pada 2014 bukan suara realitas PDIP. Jokowi diusung PDIP karena ada desakan publik untuk mencalonkannya menjadi presiden. Paket calon wakil presiden yang ditawarkan PDIP pun mentah pada saat itu. Hal ini pun tentu akan menjadi pertimbangan PDIP ke depan.

Baca juga  “Cicak vs Buaya” Jilid 2 di Pilpres 2019, Jokowi Bisa Tumbang seperti Megawati

Seperti kita ketahui bersama, PDIP mempunyai sistem yang unik. Semua keputusan bersumber dari ketua umum dan partai ini memakai sistem paket dalam memajukan pasangan calon. Keinginan untuk memajukan trah Soekarno masih kuat berhembus dari tubuh PDIP.

Dengan skema politik hari ini tentu tidak memungkinkan bagi Megawati untuk kembali tampil menjadi calon Presiden. Kemungkinan terbesar itu terletak pada trah Soekarno lainnya seperti Puan Maharani. Dengan siapa Puan akan dipaketkan, itu merupakan keputusan ketua umum PDIP. Tapi setidaknya saat ini telah berhembus kabar nama orang dekat Megawati yang telah dipersiapkan seperti BG. Atau bisa jadi nama Cak Imin menjadi bahan pertimbangan, mengingat dimasa lalu PDIP pernah berkongsi dengan PKB dalam memimpin republik ini.

Oleh: Rafatar Abdul Gani, analis politik Indonesia Bermartabat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here