Mesra dengan Golkar, Sinyal Jokowi Tolak Puan atau Budi Gunawan Jadi Cawapresnya?

0
1706
Mesra dengan Golkar, Sinyal Jokowi Tolak Puan atau Budi Gunawan Jadi Cawapresnya?
Presiden Joko Widodo bersama relawan Golkar Jokowi (Gojo) di Kantor DPD Golkar DKI Jakarta pada Rabu (23/5/2018)

Heboh! Demikian reaksi publik saat Ali Mochtar Ngabalin merapat ke istana. Padahal Ngabalin dahulu adalah pendukung ‘diehard’-nya Prabowo di Pilpres 2014. Ngabalin pun diketahui dahulu kerap mengkritik Jokowi. Nyatanya, sekarang ini Ngabalin resmi menjabat tenaga ahli utama di Kantor Staf Presiden.

Apa alasan Ngabalin ditarik ke istana? Untuk mencairkan komunikasi dengan para aktivis garis keras penentang Jokowi di komunitas ‘hijau’ menimbang status Ngabalin sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Mubaligh Seluruh Indonesia (Bakomubin)? Wah, alasan ini jelas gampang didebat. Pasalnya, PDIP punya lembaga Baitul Muslimin untuk menjawab tugas itu. Kalau tak yakin bisa bergeser ke PKB dan PPP. Kedua parpol koalisi pemerintah ini punya stock politisi berlabel Islam yang mumpuni, yang tak kalah dibanding Ngabalin.

Sehingga, saya menilai masuknya Ngabalin ke lingkar istana tak bisa dilepaskan dari semakin ‘kuning’-nya sang Presiden. Dan memang belakangan ini Jokowi kerap tertangkap mengenakan baju kuning. Dia beberapa kali bertemu Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. Partai Golkar pun tampaknya pandai mengendus suasana. Kita tahu iklan relawan Golkar Jokowi (Gojo) sudah muncul di mana-mana.

Kemesraan Jokowi dan Golkar ini mesti dibaca sebagai signal politik Jokowi kepada induk semangnya, PDIP, dan tentunya sang Ibu, Megawati. Kalau dilustrasikan, kira-kita begini bunyinya: “Jangan tekan-tekan saya saat kelak memilih cawapres. Kalau ngotot, pintu partai Golkar terbuka lebar buat saya!”

Baca juga  Revolusi Mental yang Gagal Total

Artinya, kemesraan Jokowi dan Golkar ini merupakan rencana cadangan sang presiden apabila PDIP hendak memaksakan kehendak terkait cawapres yang dipilih Jokowi kelak. Saya pikir, kita sudah bisa memprediksi Megawati via PDIP akan menawarkan Puan Maharani atau Budi Gunawan sebagai cawapres Jokowi. Alasannya, kita sudah sama-sama maklum. Yang satu puteri Megawati, dan yang lain dekat dengan sang ibu.

Bagaimana potensi penerimaan Jokowi? Kecil agaknya. Bisik-bisik menyebut Jokowi kurang ‘sreg’ dengan figure Puan. Bahkan dahulu, kita tentu sempat mendengar rumor Puan Maharani pernah mendamprat Jokowi karena satu dan lain hal. Jangan lupakan pula figure Puan tak sepenuhnya bersih dari masalah. Setya Novanto pernah menyebut Puan Maharani kecipratan duit e-KTP.

Bagaimana dengan Budi Gunawan? Apalagi! Dari awal saja, Jokowi sudah memainkan bola panas akan jenjang karir jenderal polisi ini. Rumor menyebut, gara-gara masuk rapor merah KPK, Jokowi mencoret Budi Gunawan dari daftar menteri. Jokowi pun terkesan enggan saat menyodorkan Budi Gunawan sebagai calon Kapolri, walau kemudian menunjuknya sebagai Kepala BIN.

Baca juga  Ngabalin Ngibul Lagi?

Intinya, kedua figure ini bermasalah. Dengan derasnya gerakan pemberantasan korupsi, riskan rasanya bila Jokowi memilih satu diantaranya. Belum lagi potensi penolakan dari parpol-parpol koalisi.

Partai Golkar bisa jadi solusi Jokowi untuk mengatasi masalah ini. Apalagi bila menimbang Golkar sebagai parpol yang tergolong fleksibelitas permainan politiknya sudah teruji. Berdasarkan catatan, permainan politik Golkar memang lebih matang, tidak emosional, dan cukup dewasa.

Sehingga kalau pun kelak Airlangga tak jadi ‘diambil’, gejolak di Golkar tak akan sebesar di PDIP. Apalagi Airlangga kesohor sebagai figur yang tak meledak-ledak dan relatif tidak terlalu ngotot dan ambisius merebut tiket cawapres untuk dirinya. Urusan kursi cawapres ini bisa dinegosiasikan. Barangkali diganti kursi sejumlah menteri?

Kalau sudah begini, pasti PDIP langsung kebakaran jenggot. Tapi, ini pun kalau Jokowi berani ‘melawan’ Megawati, berani mengoyak baju petugas partai yang disandangnya.

Oleh: Ridwan Sugianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here