Misteri “Cap Jempol” di Amplop “Serangan Fajar”

0
Misteri “Cap Jempol” di Amplop “Serangan Fajar”
Penyidik didamping Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, menunjukkan barang bukti hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso, saat memberikan keterangan pers, di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Kamis (28/3/2019). Uang senilai Rp8 miliar yang dibagi dalam 84 kardus atau 400 ribu amplop dengan pecahan Rp20.000 dan Rp50.000 tersebut diduga suap untuk pelaksanaan kerja sama Pengangkutan Bidang Pelayaran antara PT.Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dan PT.Humpuss Transportasi Kimia (HTK), dan diduga digunakan untuk membantu biaya Kampanye 2019. ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc.

Ada yang janggal dalam press conference yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penangkapan Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso. Wakil Ketua KPK Basariah Panjaitan terlihat gelagapan saat seorang wartawan memintanya menunjukkan slah satu isi amplop uang suap yang disita dari Bowo. Ia menolak membukanya dengan alasan takut merusak barang bukti.

Padahal, awak media curiga, amplop tersebut berkait erat dengan “serangan fajar” untuk Pilpres. Pasalnya, saat tim KPK menunjukkan beberapa amplop yang berada di luar kardus, terlihat tanda seperti cap ujung jempol warna hijau di sisi luar amplop. Kuat dugaan “cap jempol” ini terindikasi sebagai bentuk salam dari salah satu kandidat pilpres.

Adalah capres petahana, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, yang memiliki gaya kampanye salam jempol. Gaya tersebut menggantikan salam satu jari telunjuk. Gerakannya tak cuma mengangkat sebelah satu ibu jari. Namun, jika ada dua orang, salam jempol itu saling bertemu. Makna salam jempol adalah rule of thumb dan ingin agar rakyat hebat dan berhasil. Gambar salam inilah yang dicurigai awak media, terdapat dalam 400.000 amplop uang suap “serangan fajar” tersebut.

Kecurigaan ini cukup beralasan. Sedikitnya ada dua indikasi uang tersebut bakal digunakan untuk mempengaruhi pemilih di pilpres. Pertama, Bowo merupakan politikus Golkar. Partainya pendukung kandidat petahana. Posisi Bowo di partainya juga sebagai Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I kepengurusan DPP Golkar.

Alasan kedua, jumlah uang dan kuantitas amplop terlalu banyak untuk “serangan fajar” calon anggota legislatif. Uang suap yang diterima Bowo totalnya mencapai Rp 8 miliar. Uang dalam pecahan Rp 20000 dan Rp 50000 itu dimasukkan ke dalam 400.000 amplop dengan 84 kardus. Dengan asumsi satu amplop untuk satu pemilih, jumlah 400.000 amplop tersebut terlalu berlebihan untuk seorang caleg petahana dapil Jateng II.

Baca juga  Koalisi Adil Makmur yang Kian Semrawut

Berkaca pada Pemilu 2014, dapil Jateng II yang terdiri dari Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Kudus memperebutkan tujuh kursi di Senayan. Dengan 1.579.820 suara sah dari total pemilih yang menggunakan hak pilihnya 2.150.169, Partai Golkar menduduki peringkat teratas dengan raihan 448.420 suara disusul PKB dengan 230.157 suara dan Gerindra dengan 177.111 serta PDI-P dengan 175.036.

Atas raihan suara tersebut, Partai Golkar langsung mendapat satu kursi di DPR RI dan diduduki caleg dengan perolehan tertinggi Nusron Wahid 243.021 suara. Sementara Bowo Sidik Pangarso sendiri melenggang ke Senayan dengan raihan suara 66.909. Sangat tidak masuk akal ia mau menghamburkan begitu banyak amplop, jika dengan seperenamnya saja ia sudah bisa kembali merangkul kursi di DPR.

Karena itulah, kita sangat berharap ke depan KPK bisa lebih transparan. Jika dugaan awak media itu benar, uang tersebut terkait dengan “serangan fajar” kandidat petahana, maka ini tidak bisa dibiarkan. Harus diusut tuntas. Bagaimana mungkin kita bisa membiarkan calon presiden yang curang, untuk memimpin bangsa besar ini. Relakah kita membiarkan nasib anak cucu di tangan pemimpin korup? Kalau untuk mendapatkan kekuasaan saja ia sudah menipu, tentu ketika berkuasa nanti ia akan menjadi lebih culas lagi.

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here