Nasib Pers Terhadap Afiliasi Kekuasaan

0
Nasib Pers Terhadap Afiliasi Kekuasaan

Tulisan wartawan senior eks Republika Hersubend Arief berjudul ‘Bunuh Diri Massal Pers Indonesia Jilid II” jadi sorotan netizen beberapa hari belakangan pasca reuni aksi 212 di Monas, Minggu (2/12) lalu.

Betapa tidak, sebagai jurnalis atau wartawan memang tidak bisa berbuat banyak atas perintah penguasa selaku pemilik modal untuk tayang atau tidak nya suatu peristiwa di media tempat kita bekerja.

Termasuk peristiwa besar yang melibatkan jutaan umat muslim berkumpul menyampaikan aspirasi di Ibukota yang bertepatan dengan tahun politik seperti sekarang ini.

Sebelum lebih substansial, penulis terlebih dulu menyepakati tulisan bung Hersubend Arief atau lebih akrab saya panggil Arief ini.

Tulisan yang benar-benar nyata diungkapkan dalam sebuah artikel online pribadi. Siapa pun bisa membaca tanpa harus membayar maupun log in ke media tersebut.

Dimana disebutkan Arief bahwa pengamatannya di beberapa media tidak menayangkan peristiwa Aksi 212 baik media televisi, cetak dan online.

Kecuali Tv One untuk Tv, sedangkan Koran hanya Harian Republika dan Rakyat Merdeka menyoroti peristiwa besar tersebut. Hal berbeda tidak berlaku bagi media Internasional yang menganggap aksi 212 merupakan peristiwa penting yang menarik untuk diulas.

Arief melihat Koran dan media di Indonesia tidak tertarik sehingga tanda-tanda pers Indonesia sedang melakukan bunuh diri massal, semakin nyata.

Sepakat bung… itu kata yang ingin saya sampaikan kepada Arief. Kenapa? Karena hari ini media tanah air sudah banyak melakukan afiliasi alias kerjasama dengan pemerintah bahkan dengan salah satu partai politik untuk melakukan seting pemberitaan kepada salah satu calon presiden.

Baca juga  Jejak Pembungkaman PDIP Atas HAM & Pengawalan Demokrasi

Disini tak ingin saya sebut siapa capres tersebut. Masyarakat sudah bisa menebak siapa yang dimaksud.

Kemudian, wartawan senior ini juga menyebutkan media Koran dan tivi selama ini coba menutup-nutupi Aksi 212 sejak jilid pertama 2016 lalu. Sejak dari sana pemil modal sudah tampak melakukan setingan seperti Kooptasi penguasa, kepentingan ideologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku, framing, dan black out.

Dirinya pun sangat terkejut setelah aksi 212 hanya tiga media nasional yang melakukan peliputan atas peristiwa besar itu. Bagi pembaca setia Harian Kompas contohnya, Arief sangat heran tidak melihat berita reuni aksi 212 di halaman pertama. Yang dinilai Arief tidak ada nilai beritanya (news Value).

Hanya saja, Koran yang di dirikan Jakoeb Oetama dan PH Oyong ini meletakan berita besar nasional ini di halaman tengah dengan berjudul datar “Reuni Berlangsung Damai”. Tak seperti biasanya, Koran yang ber kantor di Pal Merah Jakarta ini begitu adem dan tampak tak tertarik mengangkat isu aksi 212 menjadi isu utama di halaman depan.

Bukan hanya Kompas yang dibahas dalam artikel yang sudah menyebar di medsos Facebook dan medsos lainya itu. Koran Harian Media Indonesia, Koran Sindo dan Koran warta kota ikut dibahas Arief karena begitu ketara framing news dari kantor berita tersebut.

Baca juga  Sejarah Monas dan Gerombolan-Gerombolan Manusia

Seolah-olah menurut Arief Koran-koran tersebut membuat sebuah skenario menenggelamkan peristiwa Reuni 212, atau setidaknya menjadikan berita tersebut tidak relevan. Operasi semacam ini hanya bisa dilakukan oleh kekuatan besar, dan melibatkan biaya yang cukup besar pula.

Apa yang dirasakan bung Arief juga saya rasakan sejak hari H peristiwa besar 212 yang berlangsung damai dan khidmat. Disana saya hadir untuk melihat sekaligus reportase pribadi yang hendak saya sampaikan kepada orang rumah (istri), bahwa islam itu damai dan indah.

Selama ini orang seberang terus menyalahkan islam sebagai agama teroris, radikal yang dianggap sebagai musuh. Diantaranya pemerintahan Jokowi Cs yang sering mengkriminalisasi ulama dan cendekiawan muslim yang dianggap menyebarkan faham radikalisme dan ekstrim kepada masyarakat.

Semuanya terbantahkan dengan aksi 212 lalu itu. Semua umat muslim berkumpul, saling bersilaturahmi serta tolong menolong dalam menjaga akidah dalam menyampaikan kritikan kepada pemerintahan Jokowi cs yang berlangsung jelang pemilihan Presiden April 2019 mendatang.

Pemerhati Media dan Publik

 

Sukaisih Pramudjaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here