Omong Kosong Politik Tanpa Mahar

0
4183
Omong Kosong Politik Tanpa Mahar

Sebuah ungkapan bernada pongah terlontar dari mulut Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh. Ia membanggakan diri telah berhasil menerapkan politik tanpa mahar di tiga kali pilkada. Ia mengaku parpol yang didirikannya tak meminta bayaran untuk mendukung kandidat. Bahkan ia mengklaim untuk uang saksi, dirogoh dari koceknya sendiri. Tapi apa benar itu yang sesungguhnya terjadi?

Praktik transaksi mahar politik dalam pilkada, memang sulit dibuktikan. Namun, sejumlah indikasi kecurangan yang diduga dilakukan parpol “tanpa mahar” ini, tetap saja bisa diketemukan. Dalam penetapan Ridwan Kamil (Emil) misalnya. Mantan Wali Kota Bandung yang memiliki elektabilitas cukup tinggi ini, malah memilih Nasdem ketimbang PKS atau Gerindra, maupun PDI Perjuangan, sebagai partai pengusung.

Emil sendiri yang mengungkapkan alasannya. Parpol besutan Surya Paloh itu punya media dan kuasai jaksa, sehingga berbahaya jika ditolak pinangannya. Begitu pengakuannya. Ia khawatir, jika menolak, mudharatnya akan jauh lebih besar. Ini tentu saja indikasi adanya tekanan terhadap Emil agar bersedia menuruti kehendak dari pimpinan Nasdem.

Hal tersebut seakan menegaskan rumor yang selama ini berkembang di masyarakat; Kejaksaan sudah menjadi alat politik dari salah satu parpol tertentu. Bagaimana tidak, institusi negara ini dipimpin oleh seorang kader parpol, sehingga sangat sulit diharapkan netralitasnya. Banyak sudah bukti kecurangannya bertebaran di mana-mana.

Kembali ke soal mahar, beberapa hari belakang berkembang rumor tak sedap soal permainan politik uang yang diduga diterapkan parpol yang mengaku paling bersih ini. Praktik curang itu adalah politik mahar dalam penetapan calon anggota legislatif untuk Pemilu 2019. Namun, sedikit berbeda dengan politik mahar di pilkada, bukan kandidat yang harus membayar parpol, tapi sebaliknya. Parpol yang membiayai para caleg potensial, dengan uang puluhan miliar rupiah.

Cara berpolitik Nasdem ini terasa kian tak elok, karena para caleg yang diberi mahar puluan miliar, merupakan kader-kader potensial dari parpol lain. Ibarat sebuah klub sepakbola, Nasdem jor-joran membeli pemain jelang penutupan jendela transfer awal musim. Sejumlah kader yang memiliki nama, baik dari kalangan profesional, pengusaha, seniman dan olahragawan, ditawar degan sejumlah harga. Mulai dari Rp5 miliar hingga Rp20 miliar. Uang itu sebagian diperuntukkan untuk kompensasi meninggalkan parpol lama, sisanya untuk biaya pencalonan sebagai wakil rakyat periode mendatang.

Sejumlah nama yang disebut-sebut telah berhasil direkrut adalah penyanyi senior Anang Hermansyah. Politikus yang dibesarkan oleh PAN ini rumornya mendapat uang mahar Rp15 miliar agar berkenan ganti kostum parpol. Lalu mantan pembawa acara TV, Okky Asokawati, dari PPP yang dilabeli mahar Rp10 miliar, dan pemain sinetron Venna Melinda dari Demokrat dengan mahar Rp5 miliar.

Kemudian artis Krisna Mukti dari PKB, Ida Riyanti dan petinju Chris John yang keduanya dari Demokrat. Nama terakhir padahal baru beberapa waktu lalu terjun ke dunia politik. Memang, kalau sudah berbakat sebagai kutu loncat, tak perlu menunggu lama untuk gonta-ganti parpol. Begitulah jika berpolitik tanpa etika, semuanya akan dilakukan, terlebih ada iming-iming puluhan miliar rupiah, akan mudah jadi gelap mata.

Selain nama-nama yang viral di media sosial itu, sebenarnya ada nama lain yang mengaku ikut dibujuk oleh Nasdem. Beberapa nama bahkan menjabat posisi strategis di parpol masing-masing. Namun, mereka bergeming dengan tawaran mahar tersebut. Mungkin saja mereka ini adalah para politisi yang masih memegang etika berpolitik, atau bisa juga mereka menolak karena tidak melihat masa depan yang cerah di Nasdem ini.

Semua orang tahu, elektabilitas Nasdem kini sedang terjun bebas. Berdasarkan survei Litbang Kompas pada April 2018 menunjukkan elektabilitas Nasdem hanya 2,5 persen. Angka itu jauh di bawah ambang batas parlemen sebesar 4 persen. Jadi buat apa saat ini punya uang miliaran, jika tahun depan tak bisa lagi duduk di Senayan.

Oleh: Muhammad Fatih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here