Parpol Berebut Cawapres, Indonesia Alami Kemunduran Demokrasi?

0
698
Parpol Berebut Cawapres, Indonesia Alami Kemunduran Demokrasi?

Pendaftaran peserta Pilpres 2019 sudah tinggal menghitung hari. Jika tidak ada perubahan, koalisi partai politik peserta pemilu presiden akan segera mendaftarkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden mereka ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun, meski mendekati masa penting itu, perdebatan justru mengerucut pada nama nama siapa yang akan menjadi cawapres, bukan capres.

Dulu, saya pernah mengingatkan bahwa Pilpres 2019 itu seharusnya menjadi pertarungan nama nama kandidat presiden, bukan malah seperti saat ini, para politisi berebut menjadi orang kedua. Mereka dalam penilaian saya sudah tertanam di benaknya tidak akan mampu melawan incumbent.

Hal ini entah darimana asalnya, memang melawan incumbent seperti menantang matahari. Semakin dilihat, mata yang akan sakit. Namun dalam politik, hal itu tentu tidak bisa diterima.

Maka, jangan salahkan jika kali ini saya kembali menuliskan bahwa politisi sudah terlancur “merasa kalah” sebelum bertanding. Sehingga memberikan karpet merah kepada Jokowi dan Prabowo untuk kembali bertarung di Pilpres dan memilih jalan aman sebagai kandidat wakil presiden saja.

Baca juga  Bahas Pilpres 2019, Prabowo - SBY Bertemu Rabu Lusa

Tidak ada yang salah juga, namun hal ini tentu tidak baik. Jika berkaca pada hasil jajak pendapat yang digelar lembaga survey, sampai saat ini, elektabilitas incumbent belum mampu melampaui angka aman psikologis.

Jokowi cenderung stag diangka 40-an persen dan Prabowo juga tidak beranjak dari angka yang selama ini diraihnya. Maka membentuk poros ketiga adalah hal yang mungkin dilakukan. Namun entah kenapa partai politik tidak melakukan itu.

Tidak semestinya partai politik saat ini memaksa rakyat untuk memilih kehendak mereka. Partai politik, semestinya perpanjangan dan wadah rakyat untuk menyalurkan aspirasinya. Termasuk dalam hal mencalonkan pemimpin dan memberikan mereka pilihan yang terbaik dan bukan yang itu ke itu saja.

Jika kontestasi politik tahun depan tidak beranjak dari dua nama Jokowi dan Prabowo, maka dapat dipastikan demokrasi yang sudah kita jalani sejak belasan tahun pasca jatuhnya orde baru menjalani kemunduran dan kejatuhan.

Baca juga  KPK Geledah Rumah Dirut PLN

Sebab, pada awalnya para aktifis memperjuangkan reformasi adalah untuk menghindari kebuntuan suksesi nasional. Memang tidak seperti persis pada masa lalu kebuntuan demokrasi yang terjadi saat ini, namun persaingan yang hanya melibatkan figur yang sama dan bahkan menjurus pada calon tunggal adalah sebuah malapetaka demokrasi yang dihindari.

Karena itu, kepada siapapun yang hari ini berniat maju di pentas Pilpres, rubahlah arah dari sekedar menjadi cawapres menjadi capres. Sebab Indonesia bukan hanya Prabowo dan Jokowi.

Oleh Burhanuddin Khusairi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here