Partai Demokrat is Demokratisme Bagi Kadernya

0

Di sidang perdana Mahkamah Konsitutusi (MK) atas gugatan sengketa pemilu presiden 2019 hari ini (Jumat, 14/6/2019) tim hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meminta agar Mahkamah Konstitusi membatalkan hasil keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Serta, dalam petitum atau pemohonan nya agar MK mendiskualifikasi paslon 01 Joko Widodo- Ma’aruf Amin. Dan apa perlu pemilu diulang agar terwujud pemilihan yang Jujur, dan adil (Jurdil).

Proses yang akan menguras tenaga dan pikiran masing-masing pihak tersebut tidak sebanding dengan dinamika politik dalam tubuh partai politik Demokrat. Dari hari ke hari, partai yang dibesut Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini kerap menghiasi berita online maupun cetak serta televisi beberapa hari belakangan.

Berbagai peristiwa yang dikemas dalam bentuk opini dari beberapa artikel yang saya baca, terendus ada niat para musuh lawan politik Demokrat agar terjadi perpecahan dalam tubuh partai berlambang mercy tersebut. Tapi tak berhasil, malahan sang ketua umum begitu sigap mengatasi hal-hal yang tak diinginkan dengan dibantu oleh para kader yang cekatan dalam membaca peta politik hari ini.

Sebagai partai yang berpengalaman dalam dunia politik selama 10 tahun (2004-2014), Demokrat langsung membentuk Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD) melalui para senior pada Kamis (13/6) kemarin. Kader senior yang mengumumkan pembentukan gerakan tersebut antara lain, Max Sopacua, Ahmad Mubarok, Ahmad Yahya dan Ishak. 

Jika dilihat, GMPPD dibentuk pada intinya dalam rangka mendorong para kader Demokrat agar setuju dilakukan suatu pembenahan organisasi. Terlebih, paska pemilu serentak April 2019 lalu. Kader senior yang sudah sering makan manis, asam dan asinnya perpolitikan tersebut berniat agar organisasi terhindar dari perpecahan. Ya, karena partai Demokrat begitu membuka asas demokratisme yang tinggi terhadap para kadernya.

Baca juga  Jokowi Bukan Manusia Setengah Dewa

Jika diingat pesan orang tua terdahulu mengatakan, riak-riak kecil lebih baik dari pada riak besar yang mampu membalikan kapal. Artinya, lebih baik ada sedikit perdebatan di awal dari pada perkelahian (konflik) yang menyebabkan kehancuran bagi sebuah organisasi.

Yoyo Tuna

Pengamat Sosial dan Politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here