Pasang Surut Dukungan Menjelang Pilgub Jabar

0
81
Pilkada Serentak

Secara tiba-tiba, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat mengeluarkan pernyataan yang menghebohkan terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018. Gerindra menyatakan menarik dukungan terhadap pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu yang dilakukan 16 Agustus yang lalu.

Tentu pernyataan itu tidak hanya mengejutkan Deddy Mizwar, tapi banyak pihak baik internal partai maupun publik. Ada apa sebenarnya, kenapa disaat seharusnya makin mesra malah terjadi perpecahan. Alasan pencabutan dukungan yang disampaikan Mulyadi adalah tentang belum dipenuhinya oleh si Naga Bonar persyaratan administrasi untuk mendapat KTA, kemudian menandatangani pakta integritas. Seperti yang kita ketahui, Deddy Mizwar telah bergabung dengan partai besutan Prabowo Subianto tersebut, sebagai syarat dapat diusung dalam Pilgub.

Karena persoalan administrasi yang sederhana tersebut, Gerindra tidak memberikan opsi lain terlebih dahulu. Mereka langsung mengeluarkan pernyataan untuk mencabut dukungan, padahal itu sangat berbahaya bagi Gerindra sendiri, baik itu untuk level Jabar maupun nasional.

Deddy Mizwar sendiri tidak percaya dengan pencabutan dukungan itu jika belum mendengarkan pernyataan langsung dari Prabowo. Tapi Mulyadi menyakinkan kalau dirinya diberikan kewenangan penuh terkait dengan Pilgub Jabar, bahkan dia memberikan opsi kepada siapapun yang berminat maju melalui Gerindra akan difasilitasi.

Koalisi Gerindra dan PKS sendiri sudah memenuhi syarat untuk mencalonkan pasangan kandidat. Gerindra punya 11 kursi dan PKS 12 kursi di DPRD Jawa Barat, sedangkan syarat untuk mencalonkan adalah 20 kursi. 20 persen dari total 100 kursi yang ada.

Baca juga  Bantah Pernyataan Panglima, Wiranto: 500 Senjata Bukan untuk Pemberontakan

Jika tidak menyikapinya dengan cermat, ada efek besar yang dapat terjadi jika benar-benar koalisi ini pecah. Efeknya tidak tanggung-tanggung, akan mengancam keharmonisan partai ini menghadapi Pilkada yang lain, bahkan hingga Pilpres 2019. Padahal duet partai ini terkenal solid dan terbukti telah memenangkan Pilkada paling heboh yaitu Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini Prabowo belum mengeluarkan pernyataan langsung. Publik tentu menantikan hal tersebut, jika terlalu diam maka berpotensi pendukung Deddy Mizwar dan Prabowo akan pecah. Itu akan merugikan dirinya sendiri, kalau memang masih berminat maju di Pilpres. Jabar adalah lumbung suara terbesar nasional, jumlah pemilihnya mencapai 32 juta jiwa. Karena itu Jabar akan menjadi patokan, menguji komitmen dari seorang Prabowo.

Poros Baru dan Redanya Badai ke Ridwan Kamil

Disaat Deddy Mizwar mendapatkan badai, berbeda dengan Ridwan Kamil. Bakal Calon Gubernur yang sempat khawatir tidak mendapatkan kereta partai tersebut, kini mulai banjir dukungan. Setelah Nasdem, datang dukungan dari PKB dan teranyar adalah Hanura. Jumlah total ketiga partai tersebut sudah mencapai 15 kursi. Sehingga kekurangan mereka hanya 5 kursi lagi.

Seperti yang kita ketahui, Ridwan Kamil sempat was-was karena tidak akan didukung oleh PDI Perjuangan dan Golkar. Dua partai terbesar Jabar tersebut mengaku telah menutup pintu untuk Walikota Bandung itu. Ridwan Kamil diprediksi akan kesulitan mencari partai tambahan, karena biasanya Hanura dan Nasdem akan ikut pada PDI P.

Baca juga  Ribuan Rakyat Papua Tuntut Pemerintah Stop Kriminalisasi Lukas Enembe

Tapi kini Ridwan Kamil bisa tersenyum lepas. Karena perlahan badai yang menghantamnya mulai reda, dan pintu didukung Golkar kembali terbuka pasca ucapan politisi Golkar, Nusron Wahid. Bukan tidak mungkin, Ridwan Kamil juga akan mendapatkan tiket dari PDI P. Karena partai banteng tersebut punya catatan pernah menjilat ludahnya sendiri. Lihat saja di Jakarta, mereka yang awalnya banyak menolak Ahok tapi malah mendukung pada akhirnya dengan syarat wakilnya dari PDI P yaitu Djarot.

Politik itu dinamis, dan bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Tidak ada kata tidak mungkin, meski PDI P dan Golkar awalnya menutup pintu. Mereka bisa saja bergabung bersama partai pendukung pemerintah lainnya mendukung Ridwan Kamil di Pilgub Jabar.

Sedangkan Demokrat, PAN dan PPP disebut-sebut sedang menjalin komunikasi untuk membuat poros baru. Gabungan ketiga partai tersebut juga telah memenuhi syarat yaitu 25 kursi, Demokrat punya 12, PPP 9 dan PAN 4 kursi. Mereka bisa mengusung kandidat sendiri, tapi belum ada kesepakatan nama.

Dengan dinamika yang terjadi saat ini, tidak tertutup kemungkinan calon yang akan muncul pada Pilgub mendatang ada tiga pasangan calon. Kecuali PDI P dan Golkar tetap ngotot untuk mengusung sendiri kandidat pilihan mereka, dan menutup pintu untuk Ridwan Kamil.

Oleh: Arif Kurnia (Warganet tinggal di Bogor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here