Pendukung 2019 Ganti Presiden, Bersatulah!

0
1844
Pendukung 2019 Ganti Presiden, Bersatulah!
Relawan mendeklarasikan jargon hashtag #2019GANTIPRESIDEN di kawasan Monas Jakarta, Minggu (6/5). Para deklarator meminta kepada para relawan dan masyarakat pendukung untuk melakukan politik santun dengan tidak menyebarkan kebencian, kebohongan dalam penggunaan #2019GANTIPRESIDEN demi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal).

Perhelatan Pilkada 2018 bisa menjadi pelajaran yang amat berharga bagi partai politik oposisi penguasa. Setahun tersisa jelang Pilpres 2019, banyak hal yang perlu dibenahi, jika masih bercita-cita ingin menjungkalkan petahana. Termasuk meredam egoisme para elite politik, yang selama ini terkesan bersikap eksklusif dan enggan berkompromi. Tidak ada strategi lain yang lebih jitu, selain dari para oposisi pemerintah ini agar bersatu. Jika tidak, 2019 ganti presiden hanya akan menjadi pepesan kosong, impian yang tinggal kenangan.

Ada dua kasus menarik yang bisa dijadikan perbandingan. Pilkada Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Di Jabar, suara oposisi pemerintah terbelah. Partai Gerindra, PKS, dan PAN mengusung Sudrajat-Ahmad Syaikhu. Sementara Partai Demokrat memajukan Deddy Mizwar yang didampingi Dedi Mulyadi. Meski pasangan pertama masih memiliki kans untuk menang, tetapi untuk sementara, berdasarkan hasil hitung cepat hampir semua lembaga survei, mereka kalah dari pasangan kandidat pendukung kekuasaan.

Kondisi berbeda terjadi di Pilkada Sumut. Semua parpol di luar koalisi pemerintah, bersatu mendukung pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah. Hasilnya, mereka mampu menumbangkan jagoan Istana yang sengaja dikirim dari Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus. Meskipun pasangan PDI Perjuangan ini sudah menghalalkan segala cara dalam meraih kemenangan. Salah satu yang paling gamblang adalah upaya bagi-bagi sembako kepada warga selama masa tenang kampanye. Sebuah kecurangan yang dulu juga pernah ia lakukan saat berkompetisi di DKI Jakarta.

Dua peristiwa politik ini kian membuktikan hegemoni kekuasaan saat ini hanya bisa ditumbangkan jika semua parpol oposisi menyatukan kekuatan. Bahkan dulu di Pilkada Jakarta, parpol oposisi juga mengalami kekalahan di putaran pertama. Untung ada putaran kedua, sehingga pemilih dari dua kubu bisa bersatu. Jika tidak, tentu nasib mereka akan serupa dengan kejadian di Jabar. Walau sama-sama mendapat suara lumayan besar, namun tak ada artinya, karena lawan memperoleh hasil suara sedikit di atas mereka.

Ini yang sangat disayangkan. Karena ambisi berkuasa, elite oposisi ini terkesan tak mau berkompromi. Parahnya lagi, mereka kemudian menasbihkan diri dengan membangun koalisi eksklusif. Merangkul segelintir parpol, dan mengucilkan yang lainnya. Dari sinilah munculnya wacana poros ketiga. Lagi-lagi, yang diperebutkan hanyalah suara rakyat yang tak ingin lagi petahana berkuasa. Jika nanti kondisi ini benar-benar terjadi, maka hasil pilpres sudah bisa ditebak sejak dini, oposisi akan berlanjut dua periode.

Jadi sudah saatnya para pemimpin partai oposisi ini, baik Gerindra, PKS, PAN, maupun Demokrat, untuk kembali duduk bersama. Membuka pintu dialog untuk menciptakan rekonsiliasi guna mewujudkan harapan mengganti kepemimpinan. Meski kita tahu, hingga kini Gerindra dan PKS masih bersikeras agar Prabowo Subianto kembali diusung sebagai capres. Sebuah wacana yang belum bisa diterima Demokrat, lantaran merasa tidak yakin Capres 2014 itu akan mampu mengalahkan Joko Widodo.

Perbedaan pandangan ini jangan terus-menerus dijadikan alasan pertikaian, melainkan harus segera dicarikan titik temunya. Bisa jadi dengan cara Demokrat mengalah, dukung Prabowo di Pilpres 2019. Atau sebaliknya, dicari bersama capres alternatif yang memiliki peluang menang lebih besar. Intinya, mayoritas rakyat kini sudah bercita-cita mengganti presiden. Jangan lagi suara mereka dipecah, karena itu hanya akan membuat perlawanan semakin lemah. Bersatulah oposisi!

Oleh: Patrick Wilson

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here