Pertemuan Prabowo-Jokowi Picu Reaksi Kekecewaan, Nomor 4 Katakan Prabowo Tak Beradab

0

PolitikToday – Benar kata orang, tidak satu pun keputusan yang kita ambil dapat memuaskan semua pihak. Hal itu terjadi kepada Prabowo Subianto yang memutuskan untuk bertemu presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi), di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019).

Setidaknya, dari rangkuman berita ada 4 orang tokoh yang sangat menunjukkan kekecewaannya atas pertemuan Prabowo dan Jokowi tersebut.

  1. Amien Rais

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mengaku terkejut dengan sikap Prabowo yang tiba-tiba bertemu Jokowi. Amien, begitu ia akrab disapa, merasa kecolongan karena tidak ada pemberitahuan langsung dari Prabowo ihwal pertemuannya dengan mantan Wali Kota Solo tersebut.

“Sama sekali saya belum tahu. Makanya itu, mengapa kok tiba-tiba nyelonong?” kata Amien, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (13/7).

Mantan Ketua Umum PAN ini juga mengingatkan, jika Prabowo bergabung ke pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, Amien menyebut sebagai pertanda matinya demokrasi.

“Kalau pada bergabung, nanti tak ada lagi yang mengawasi, nanti suara DPR sama dengan suara eksekutif, itu pertanda lonceng kematian demokrasi, di mana-mana seperti itu,” kata Amien.

Diketahui, Amien Rais adalah salah satu tokoh di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang menolak hasil Pilpres 2019 dan mendorong ‘people power’ sebagai jalan penyelesaian sengketa kecurangan pemilu.

2. Novel Bamukmin

Juru Bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin mengatakan dirinya bersama PA 212 sudah tidak lagi berjuang bersama Prabowo Subianto.

“(Kami) sudah tidak lagi bersama Prabowo-Sandi, juga BPN-nya, karena kami tidak bisa toleran terhadap kecurangan, bahkan sampai korban nyawa, baik tragedi berdarah 21-22 Mei 2019 atau petugas KPPS kurang lebih 500-an lebih wafat tidak wajar,” kata Novel, Sabtu (13/7).

Baca juga  Kader PDIP Resmi Jadi Tersangka

Novel juga mengaku organisasi PA 212 yang pada saat Pilpres 2019 lalu mendukung Prabowo-Sandi saat ini telah mencabut dukungannya.

“PA 212 sudah kembali kepada khittah semula, yaitu sudah tidak ada lagi bersama partai mana pun, juga Prabowo atau BPN,” sambungnya.

Menurutnya, untuk langkah ke depan pihaknya masih menunggu arahan dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang saat ini masih berada di Mekkah, Arab Saudi, serta arahan dari para ulama lainnya.

3. Ryan Latief

Panglima Relawan Prabowo-Sandi Provinsi Sulawesi Selatan, Ryan Latief meluapkan kekecewaan atas pertemuan Prabowo-Jokowi dengan cara membakar spanduk Prabowo-Sandi di Makassar, Sulawesi Selatan.

Melalui video yang diunggah akun Facebook bernama Suminah, Ryan meluapkan kekecewaan dirinya dan para relawan yang telah berjuang habis-habisan untuk memenangkan pasangan nomor urut 02 itu pada Pilpres 2019.

“(Kami) sangat kecewa dengan sikap beliau (Prabowo) yang tidak menghargai jerih payah dan perjuangan relawan selama ini. Nyawa bahkan taruhan dan kami menagih komitmen Prabowo bahwa akan menolak pemilu curang dan akhirnya ternyata mereka bergabung dengan cebong,” ujarnya sembari memegang spanduk dukungan Prabowo-Sandi.

Ryan menjelaskan, aksi pembakaran spanduk Prabowo-Sandi tersebut sebagai bentuk kekecewaan dirinya bersama seluruh relawan di Sulawesi Selatan.

“Oleh sebab itu, bentuk kekecewaan kami, membakar bendera perjuangan yang selama ini kami perjuangkan sebagai tanda kekecewaan kami terhadap Bapak Prabowo, yang selama ini kami berharap dialah yang mampu membawa bangsa dan negara ini menuju lebih baik,” sambungnya.

4. Damai Hari Lubis

Ketua Divisi Hukum PA 212, Damai Hari Lubis menegaskan dirinya bersama ulama dan masyarakat yang tergabung dalam PA 212 tidak lagi berjuang bersama Prabowo. Sikap berseberangan ini diambil karena ia menganggap Prabowo tidak terlebih dahulu melakukan tabayyun dengan para ulama yang tergabung dalam PA 212 sebelum bertemu dengan Jokowi.

Baca juga  Elektoral Tergerus, Nasdem Minta Turunkan Foto Romi Bersama Jokowi

Sikap tidak tabayyun Prabowo kepada ulama PA 212 tersebut dianggap tidak beradab dan diklaim sudah mulai terlihat pasca Ijtima Ulama pertama dan kedua.

“PS (Prabowo Subianto) sudah menampakkan sikap kurang beradap sejak pasca Ijtima Ulama pertama dan kedua kepada para ulama yang melakukan Ijtima Ulama pertama dan kedua,” kata Damai, Minggu (14/7).

(bs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here