Rusuh Pilpres: Dari Penumpang Gelap, Monster Sampai Setan Gundul

0
Wasekjen PAN Saleh Daulay

PolitikToday – Waketum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad bikin heboh. Tiga bulan lebih pasca Pilpres 2019, Dasco mengungkap keberadaan penumpang gelap dalam gelaran Pilpres 2019 tempo hari. Secara blak-blakan, Dasco menyatakan penumpang gelap tersebut mencoba memanfaatkan Prabowo demi kepentingan mereka. Namun Dasco juga menegaskan apabila penumpang gelap itu macam-macam, Prabowo bisa saja meninggalkan mereka.

“Soal penumpang gelap, bukan karena kita singkirkan. Prabowo jenderal perang Bos. Dia bilang sama kita, kalau diadu terus, terus dikorbankan, saya akan ambil tindakan tidak terduga. Dia banting stir, dan orang-orang itu gigit cari,” tutur Dasco di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8/2019).

Dasco menyebut Prabowo sudah melakukan dua kegiatan yang membikin penumpang gelap gigit jari. Pertama, Prabowo melarang pendukungnya berdemo di Mahkamah Konstitusi ketika sidang sengketa Pilpres 2019. Lalu Prabowo menghadiri pertemuan dengan Presiden Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus. Sayangnya Dasco enggan menyebut siapa sesungguhnya penumpang gelap itu.

Namun jika konteksnya mengorbankan para pendukung agar negara rusuh, barangkali yang dimaksud Sufmi adalah kerusuhan di Bawaslu yang lantas menelan beberapa korban jiwa. Ketika itu Persaudaraan Alumini 212 (PA 212) berunjukrasa terkait kecurangan Pemilu. Prabowo pun sempat menyatakan menolak hasil rekapitulasi meski tak turun ke jalan. 

Menyasar HTI

Isu penumpang gelap umumnya ditanggapi secara normatif oleh petinggi Partai Gerindra. Namun, Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono mengarah pada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Meskipun dia tidak secara langsung menyebut organisasi yang telah dilarang pemerintah Indonesia itu sebagai pihak yang dimaksud.

“Kelompok-kelompok penumpang gelap itu kan banyak. Misalnya waktu itu, misalnya banyak beberapa tokoh HTI yang ikut dalam pemenangannya Pak Prabowo-Sandi. Tapi saya tidak mengatakan mereka negatif ya,” kata Arief yang ditayangkan oleh Kompas TV, Minggu (11/8/2019).

Baca juga  Prabowo Pesimis, Indonesia Butuh Pemimpinan Muda yang Dapat Merubah Paradigma

Maksudnya, kata Arief, para tokoh HTI memiliki perjuangan yang sama dengan tim pemenangan Prabowo-Sandiaga. Pasalnya sebelum itu pemerintah Joko Widodo (Jokowi) telah membubarkan HTI sebagai ormas melalui penerbitan Perppu Ormas.

“Artinya mereka kan dengan sukarela, mungkin, mereka mungkin punya perjuangan yang sama. Artinya ketika misalnya HTI ditutup, artinya mereka kan menjadikan Joko Widodo musuh bersama mereka,” lanjut Arief.

Arief pun mempersilakan penumpang gelap keluar dari kubu Prabowo Subianto. Apalagi seluruh struktur pemenangan seperti BPN Prabowo-Sandi telah dibubarkan.

Cerita Setan Gundul

Tak pelak isu penumpang gelap mengingatkan publik pada cuitan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Kala itu Andi mensinyalir ada kelompok ‘Setan Gundul’ di kubu Koalisi Adil Makmur. Andi menuding kelompok setan gundul tidak rasional dan memberikan masukan sesat kepada Prabowo tentang kemenangan Pilpres 2019 mencapai 62 persen. Bahkan Andi mengancam jika Prabowo lebih mendengar ‘Setan Gundul’ daripada partai koalisi, maka Demokrat menempuh jalannya sendiri.

“Dalam koalisi adil makmur ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan Gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen,” kata Andi Arief dalam cicitannya, Senin (6/5/2019).

Cuitan Andi Arief direspon oleh politikus Partai Demokrat lainnya. Politikus Partai Demokrat Benny Kabur Harman menilai sebutan ‘monster demokrasi’ lebih tepat ketimbang ‘setan gundul’.

Baca juga  Catatan rusuh di Kemendragri: Presiden Jokowi Bekerja Buat Siapa?

“Bukan setan gundul tapi monster demokrasi atau genderuwo, tangan-tangan kotor yang tidak kelihatan yang menjadi benalu demokrasi. Namanya benalu yahlama-lama makan tuannya sendiri!,” tulis Benny dalam akun resminya. 

Tapi lagi-lagi tak jelas siapa yang dimaksud Andi sebagai ‘Setan Gundul’. Memang selain diisi orang-orang parpol, BPN Prabowo Sandi juga diisi oleh tokoh-tokoh masyarakat, ormas dan perkumpulan. Dua yang cukup menonjol adalah PA 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U)

Belakangan Ketum PA 212 Slamet Maarif mengaku tidak paham dengan yang dimaksud Andi Arief. “Saya bukan paranormal jadi bukan maqom saya lihat setan, saya fokus ke dunia manusia saja, saya tidak mau masuk dunia setan, karena kami bukan setan,” kata Slamet saat dimintai konfirmasi, Senin (6/5/2019).

Strategi Merapat ke Jokowi?

Wasekjen PAN Saleh Daulay meminta Gerindra mengungkap siapa penumpang gelap yang dimaksud. Pasalnya, para penumpang gelap itu disebut berencana membuat Indonesia chaos. “Mereka ingin Indonesia ribut dan pada akhirnya menyalahkan Jokowi. Karena penumpang gelap ini potensial mendatangkan bahaya bagi keutuhan bangsa,” katanya, Senin (12/8/2019). 

Saleh juga khawatir jika sosok penumpang gelap tak segera diungkap akan timbul saling curiga. Padahal masyarakat kita saat ini sudah sangat tenang. Tidak ada riak-riak pasca-penetapan pemenang pilpres.

Saleh berharap jangan sampai publik menilai isu penumpang gelap hanya strategi Gerindra untuk merapat ke Jokowi. Apalagi isu tersebut baru muncul setelah pilpres usai. 

“Adapun sikap politik Gerindra, yang sepertinya akan bergabung dengan Jokowi, itu adalah hak yang tidak bisa dipersoalkan. Namun rencana mau bergabung tersebut janganlah seakan-akan dibarengi dengan isu adanya penumpang gelap,” tuturnya.

(rt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here