Pilkada 2018, Kisah Makar Jokowi Terhadap Megawati

0
3369
Pilkada 2018, Kisah Makar Jokowi Terhadap Megawati
Presiden Jokowi dan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri

Hampir pasti pada Pilkada serentak 2018, PDIP kembali bernasib malang. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) dari pelbagai lembaga survei, PDIP hanya unggul di 4 provinsi dari 17 pilgub yang digelar serentak, yakni : Bali, Jateng, Maluku dan Sulsel.

Kemenangan di Jateng sebenarnya terbilang mengecewakan. Pasalnya, Jateng adalah lumbung suara partai berlogo moncong putih ini. Namun, meski Ganjar Pranowo head to head menghadapi Sudirman Said, yang nyata-nyata pendatang baru, PDIP lumayan keteteran. Sudirman berhasil menyodok hingga 41,83% suara pemilih di Jateng.

Fenomena Jabar lebih tragis lagi. Di lumbung suara Pemilu 2019, PDIP kalah tarung secara telak. Paslon jagoannya menjadi juru kunci. Di Jatim, jagoan PDIP bahkan keok di Surabay dan Sidoarjo yang notabene merupakan basis suara PDIP. Padahal di Jatim, PDIP sudah nyata-nyata jualan nama besar Bung Karno.

Pilkada Serentak 2017, juga tak kalah tragis. Suara PDIP tergerus di DKI Jakarta dan Banten. Padahal sebelum hari pemungutan suara, Banteng digadang-gadang menang di dua provinsi itu. Bahkan di Jakarta, PDIP dan koalisi pendukung Cagub Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sempat unggul pada putaran pertama, sebelum akhirnya terjungkal juga.

Lucunya di tengah-tengah kepedihan itu, kompetitor jagoan PDIP, malah menyatakan siap pasang badan buat Jokowi pada Pilpres 2019. Pasca menang quick count, Khofifah di Jatim dan Ridwan Kamil di Jabar bertegas-tegas akan mendukung. Tapi tunggu dulu, jika ditelisik lebih lanjut terkesan ada “campur tangan” Jokowi dalam pemenang-pemenang Pilgub lainnya.

Baca juga  Beri Angin Abraham Samad, NasDem Tidak Serius Capreskan Jokowi?

Rival jagoan PDIP yang unggul di Pilgub Makassar, Nurdin Abdullah, diketahui sejak 2014 adalah pendukung Jokowi. Sutarmidji, yang menang di Pilgub Kaltim, dengan penuh percaya diri, menyebut menerima dukungan Jokowi. Di Pilgub Lampung, relawan Jokowi bahkan mendukung Arinal Djunaidi-Chusnunia Chalim yang lagi-lagi menang.

Fenomena ini seolah-olah mengkonfirmasi bisik-bisik bahwa pada Pilkada Serentak 2018, Jokowi telah bermain dua kaki. Dia berlagak patuh atas keputusan Megawati Soekarnoputeri selaku Ketua Umum PDIP yang mendukung kandidat-kandidat tertentu, tetapi di belakang layar, Jokowi juga menyorong kandidatnya sendiri.

Langkah Jokowi ini bisa dimaklumi. Kendati “dilecehkan” dengan sebutan petugas partai PDIP, sejatinya Jokowi adalah orang nomer satu di republik ini. Besar kemungkinan Jokowi tak bisa terima “pelecehan” ini. Apalagi, selama ini PDIP terkesan arogan. Misalnya, meskipun Jokowi nyata-nyata kader banteng, PDIP baru memberikan tiket Pilpres 2019 setelah parpol-parpol lain melakukannya.

Sehingga amat wajar bila pada Pilkada Serentak 2018 ini, Jokowi bermanuver diam-diam. Kasarnya, petugas partai ini telah melakukan makar terhadap Megawati, terhadap PDIP. Lewat manuver ini, Jokowi hendak menegaskan posisinya kepada Megawati, kepada PDIP bahwa dirinya bukan sembarang petugas partai melainkan Presiden Republik Indonesia yang perlu dihormati dan dihargai.

Baca juga  Cak Imin: Kalau Tidak JOIN Bahaya

Dan agaknya, Megawati dan PDIP gagal membaca isi hati Jokowi ini. Pasalnya, sebagai petugas partai Jokowi senantiasa terkesan patuh. Dia selalu selalu hadir di setiap Rakernas dan perhelatan akbar, seperti HUT. PDIP, dan lain-lain; meski mendapat perlakukan yang tak semestinya. Namun, dibalik itu semua, Jokowi  piawai membangun kharisma poliktiknya, serta memperkuat loyalitas kalangan pendukungnya di luar internal PDIP.

Agaknya makar ini terbilang sukses. Jokowi berhasil membuat parpol-parpol mendukung pencapresannya, sehingga sejatinya dia tak butuh-butuh amat dukungan PDIP untuk dapat tiket capres. Basis politiknya pun semakin kuat dengan keberhasilannya “mendudukan” gubernur-gubernur baru pada Pilkada Serentak 2018 ini. Dengan modal politik ini plus status kandidat petahana, Jokowi niscaya lebih gampang menolak keinginan Megawati yang kabarnya hendak memasangkan Puan Maharni atau Budi Gunawan sebagai cawapres Jokowi pada Pilpres 2019. Apa ini akan jadi makar ketiga?

Well done, Mr. Jokowi! Makar Anda sudah sukses besar. Sekarang, mari kita biarkan Megawati dan PDIP untuk merenungi kesalahan akibat arogansinya.

Oleh: Yohannes Sembiring, analis media, mukim di Medan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here