Pilpres 2019; Jabar, Jateng dan Jatim adalah Kunci

0
394
DPR dan KPU Akan Tetapkan Aturan Cuti Kampanye Presiden dan Wapres

PolitikToday – Pilgub Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi yang paling disorot secara nasional. Sebab ketiga daerah tersebut adalah wilayah strategis bagi para parpol untuk menggalang kekuatan jelang pemilu legislatif dan pemilu presiden 2019. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Vox Populi Center, Pangi Syarwi Chaniago, Kamis (4/1/2018).

Menurut Pangi, jika pasangan calon bisa memenangkan kontetasi di tiga daerah tersebut, diharapkan dapat menarik massa di daerah tersebut untuk meraup suara di Pilpres.

“Jateng, Jabar, Jatim itu faktor kunci kemenangan pilpres karena itu lumbung elektoral,” katanya.

Jadi, Pangi menilai mulai memanasnya situasi politik di ketiga provinsi itu disebabkan kemenangan dalam Pilgub akan sangat berpengaruh dalam konstetasi pilpres 2019 mendatang.

“Kemenangan yang diusung di pilkada adalah kemenangan pilpres,” kata Pangi.

Terkait, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Firman Manan menilai kehati-hatian parpol dalam menetapkan paslon di Jabar, Jateng dan Jatim membuat situasi politik menjadi tidak ideal.

Baca juga  Cak Imin: Ma’ruf Amin Pemersatu Umat Islam

“Ini situasi tidak ideal. Seharusnya memang penentuan pasangan calon dan pembentukan poros koalisi tidak terlalu dekat dengan masa pendaftaran,” paparnya.

Mepetnya waktu pendaftaran paslon membuat para kandidat tidak punya cukup waktu untuk membuat dan menyiapkan visi misi serta program yang bisa menjawab tuntutan publik.

“Waktu membuat visi misi serta program terbatas. Padahal pilkada bukan persoalan pasangan calon, tapi soal kepentingan publik, kalau mepet jadi tidak ideal,” kata Firman.

Akibat kurangnya persiapan dalam menyusun visi misi serta program, kampanye menjadi kering dari nilai intelektual. Para paslon akan lebih sering memainkan isu pun saat kampanye untuk bisa menarik perhatian masyarakat. Termasuk soal agama, wilayah, dan ekonomi berpotensi besar untuk dimainkan.

“Visi misi serta program kurang tergali karena tidak terumuskan seacara baik, sehingga pola kampanye lebih pada permainan isu,” ujarnya.

Senada dengan Pangi dan Firman, pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun menilai, naiknya tensi politik belum diikuti meningkatnya tensi sosial. Sebab ia belum melihat munculnya gerakan yang dilakukan secara berkelompok untuk saling menyerang antarpendukung paslon.

Baca juga  AHY: Ada Sebagian Kalangan yang Bilang Saya Terlalu Muda, So What?

“Ini (tensi sosial, red) belum terlihat secara gamblang, masih pada tahap proses konsolidasi tim di internal pasangan calon,” kata Ubedilah.

Namun Ubedilah berharap tensi sosial ini tidak akan muncul seiring dengan berjalannya berbagai tahapan Pilkada sampai dengan tahap penentuan pemenang. Karena kemunculan tensi sosial ini membuka peluang terjadinya konflik sosial di masyarakat.

“Naiknya tensi sosial akan berdampak pada munculnya konflik, tapi sampai saat ini saya melihatnya masih wajar,” ujar Ubedilah.

(rt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here