Pilpres 2019, Jokowi vs Prabowo Jilid II?

0
257

Tahun 2018 baru saja dimulai, pengamat dan politisi menyebutnya sebagai tahun politik. Hal itu bisa dibenarkan karena di tahun 2018 ini akan ada perhelatan politik besar menjelang “Grand Final” pada tahun 2019 yang akan datang. Dapat dimaklumi karena di tahun ini, akan ada 17 pelaksanaan Pilkada di tingkat propinsi dan 171 Pilkada di level Kabupaten dan Kota. Meriah?, sudah pasti.

Bukan berarti mengecilkan pelaksanaan Pilkada 2018, namun yang lebih menarik hari ini adalah membahas siapa kandidat yang akan bersaing di level kepemimpinan nasional pada tahun 2019 yang akan datang. Mengutip pernyataan seorang teman, pada tahun 2019 itu akan terjadi “Parang Basosoh” (Perang Besar) diantara semua kandidat dan partai pendukungnya. Karena pertama kali dalam sejarah, pelaksanaan Pemilihan Anggota Legislatif akan dilakukan serentak dengan pelaksanaan Pemilu Pemilihan Presiden Wakil Presiden. Semua akan berjalan serentak.

lalu, siapakah calon Presiden yang saat ini tengah mempersiapkan diri menjadi kandidat. Dua nama lama tentu akan bersaing kembali, Nama Sang Petahana Joko Widodo dan kompetitornya Prabowo Subianto akan bersaing kembali dengan ditingkahi nama nama baru.

Tetapi, pekerjaan besar kandidat Presiden dan Wakil Presiden bukan saja pada proses pemilunya saja, namun juga perjuangan untuk meloloskan angka Presidential Threshold yang saat ini masih disidangkan di Mahkamah Konstitusi. Maklum, UU yang sudah ditetapkan DPR, masih memberlakukan angka Threshold 20 Persen, sesuatu yang melecehkan akal sehat ketika Pilpres dan Pileg serentak, para anggota legislatif justru berpikir mundur dengan memberlakukan ambang batas pencalonan.

Berandai andai, jika Hakim Mahkamah Konstitusi menerima Judicial Review yang diajukan koalisi masyarakat sipil dan partai politik hingga akhirnya ambang batas persyaratan ditiadakan, maka perhelatan Pilpres bisa dipastikan akan diikuti oleh banyak calon Presiden, bukan hanya Jokowi dan Prabowo saja. Namun jika para Hakim MK berpikir sebaliknya, maka hampir dapat dipastikan, Pilpres akan dikuti oleh tiga pasang Capres/Cawapres saja.

Baca juga  Ketika Syamsuddin Haris Bagaikan Emak-emak Nyinyir

Lalu, marilah kita membahas kembali soal siapa Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden yang aan bertarung merebut suara di tahun 2019. Dua nama seperti Jokowi dan Prabowo kembali menempati utusan teratas dalam pikiran kita. Rivalitas keduanya yang dimulai sejak 2018 lalu, akan menemui kembali jalannya pada 2019 yang akan datang. Dipastikan?, hampir dipastikan.

Jokowi sudah hampir pasti kembali jadi Calon Presiden. Pasalnya sudah banyak partai politik yang mencalonkannya. Golkar, Hanura dan Nasdem adalah tiga partai kloter pertama yang akan mengusung Jokowi. PDI-P?, meski berasal dari partai berlambang Banteng Moncong Putih, namun nama Jokowi belum sekalipun muncul dalam pembicaraan untuk dicalonkan. Tapi riskan untuk menyebut PDI-P tidak akan mencalonkan (lagi) Jokowi di tahun 2019.

Lalu Prabowo Subianto. Sampai saat ini, Partai Gerindra belum memutuskan Prabowo sebagai Calon Presiden. Meski berstatus sebagai Ketua Umum dan disebut sebagai penantang kuat Jokowi, Prabowo belum diputuskan sebagai Capres. Tapi sama halnya dengan Jokowi, Prabowo hampir dipastikan akan kembali bertarung di Pilpres 2019.

Nama lain nantilah. Sebab kontestasi politik tahun 2019 terfokus pada dua nama, Jokowi vs Prabowo jilid II. Nama yang muncul justru berebut posisi untuk menjadi Wakil Presiden. Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menempati posisi pertama bersaing ketat dengan Gatot Nurmantyo. Namun AHY memiliki modal politik lebih dari Gatot. Ia punya sokongan kuat dari Partai Demokrat, sementara Gatot, pensiun dari TNI, meski disebut akan berlabuh ke partai politik namun belum satupun yang kongkrit.

Baca juga  KPK Cermati dan Sesuaikan Setiap Pengakuan Novanto

Pesaing lain bisa saja memunculkan nama Muhaimin Iskandar, Anies Baswedan dan Yusril Ihza Mahendra. Nama terakhir dikabarkan tidak begitu diminati. Bahkan beberapa lembaga survey tidak memberinya angka yang signifikan. Yusril boleh punya pendukung fanatik, tapi tidak besar. Kekuatan Masyumi yang disebut berada dibelakangnya tidak cukup kuat untuk mengantarnya ke posisi depan. Yusril juga disebut kurang disukai sebagian pihak.

Namun, bisa saja kejutan demi kejutan akan terjadi. Semisal Jokowi akan berpasangan dengan Prabowo. Survey SMRC menemukan fakta itu. Publik justru menginginkan Prabowo lebih baik berpasangan dengan Jokowi sebagai Cawapres daripada memaksakan diri maju sebagai Presiden.

Menariknya, lembaga survey dalam beberapa kali pelaksanaan survey menempatkan posisi AHY pada posisi pertama sebagai Cawapres jika dipasangkan dengan Jokowi. Sudah barang tentu ini akan menjadi perbincangan hangat. Jokowi yang muda dan disokong oleh Partai Golkar akan berpasangan dengan AHY yang disokong oleh kekuatan Partai Demokrat. Angkanya pun cukup tinggi berdasarkan hasil survey beberapa lembaga penelitian.

Tapi politik bukan hitungan tambah kurang diatas kertas. Semua bisa berubah. Kita lihat saja.

Oleh – Fauziah Noura

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here