Pilpres 2019: Jokowi vs Prabowo vs Poros Ketiga?

0
908
Pilpres 2019: Jokowi vs Prabowo vs Poros Ketiga?

Prabowo Subianto resmi menerima mandat dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) untuk kembali bertarung di ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 mendatang. Jika terealisasi, maka Pilpres tahun depan itu dipastikan akan menjadi petaruhan terakhir Sang Jenderal di pentas politik nasional mengingat usianya yang sudah tidak lagi muda. Prabowo pasti tengah berhitung cermat terkait peluangnya. Salah sedikit, ia akan kembali menjadi orang kalah politik, namun jika cermat dan jeli, ia bisa menjadi jawara.

Pilpres pertama bagi Prabowo adalah tahun 2009 lalu, saat ia berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri. Prabowo menjadi Cawapres Megawati menantang duo petahana Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang sama sama maju sebagai Capres pada waktu itu. Sayang, nasib, belum berpihak kepadanya, Pasangan Mega-Pro , demikian masyarakat menyematkan akronim bagi keduanya, kalah satu putaran oleh pasangan SBY-Boediono.

Lima tahun berikutnya dalam duel Pilpres 2014 Prabowo kembali mengadu peruntungan. Kali ini, ia maju sebagai Capres berpasangan dengan Ketua Umum PAN Hatta Radjasa. Hasilnya, sama sama diketahui, Prabowo kembali harus menelan pil pahit dan mengubur mimpinya menjadi orang nomor satu di republik ini. Ia kalah oleh orang yang dicalonkannya menjadi Gubernur DKI tahun 2012, Joko Widodo yang berpasangan dengan Wakil Presiden RI ke 10 Jusuf Kalla.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 April 2018, Prabowo kembali menerima mandat dari partainya yang menghendakinya untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019. Dalam suasana meriah dan terkesan sangat heroik, Prabowo yang bertelanjang dada dengan dipanggul oleh ratusan kader Gerindra sambil diiringi lagu bernuansa perang.

Pencalonan Prabowo saat ini meski sudah dideklarasikah oleh Gerindra terkesan masih adem ayem. Tidak ada pemberitaan yang masif terkait pencalonan itu sebagaimana pemberitaan saat Prabowo maju sebagai Capres pada tahun 2014 lalu. Di Hambalang, kediaman Prabowo, wartawan juga tidak diperkenankan masuk dan menghadiri event akbar tersebut. Rakornas partai sebesar Partai Gerindra jauh dari hinggar binggar publikasi dan sorotan kamera media.

Yang menjadi pertanyaan, benarkah Prabowo dicalonkan sebagai Presiden. Memang pertanyaan ini berulang kali dibantah dan dimentahkan oleh kader kader militan Prabowo. Namun, tetap saja pertanyaa itu terus bergelayut. Apakah benar Mantan Danjen Kopasus itu akan kembali mengadu kebolehan di Pilpres 2019 melawan Jokowi atau malah seperti yang ramai diprediksi, Prabowo akan menjadi “King Maker”.

Menjadi “King Maker” pernah dilakoni oleh Megawati Soekarnoputri saat ia merelakan tiket Capres yang selalu berada dalam genggamannya diserahkan kepada Jokowi. Mega tidak melihat peluang akan kembali ke Istana yang pernah didudukinya. Karena itu, realistis, pada tahun 2014, ia menunjuk dan memberikan tugas kepada kadernya untuk menjadi Presiden. Maka jadilah Jokowi sebagaimana selama ini di-meme-kan di media sosial sebagai Presiden Petugas Partai. Sebuah sebutan yang selalu disampaikan oleh Megawati dan kader PDI-P kepada Jokowi. Miris terdengar, namun sulit dibantah.

Baca juga  Bertemu Prabowo, SBY Komitmen Turun Gunung untuk Kampanye dan Tak Campuri Cawapres

Prabowo saat ini juga disebut tengah berada dipersimpangan jalan. Kawan dekatnya, Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen TNI (Pur) Kivlan Zein berulang kali memberi kode keras agar Prabowo menyerahkan tiket pencapresan kepada Mantan Panglima TNI Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo. Alasan Kivlan yang selama ini dikenal sebagai “Die Hard” Prabowo adalah faktor logistik dan kesiapan menghadapi pertarungan panjang di Pilpres yang berlangsung serentak dengan Pileg. GN atau Gatot disebut Kivlan memiliki cadangan logistik kampanye yang jauh lebih besar daripada sejawatnya itu.

Kini, memang belum ada pernyataan resmi dari Prabowo terkait pencapresannya. Ia bahkan disebut sebut belum menimbang siapa nama yang akan berpasangan dengannya di Pilpres kelak. Meski beberapa nama nama disodorkan, namun Prabowo belum bereaksi.

Koalisi Prabowo juga belum final. Beberapa suara menyebutkan bahwa Gerindra akan berkoalisi dengan PKS yang menyodorkan sembilan nama untuk dipilih. Namun disisi lain, PAN sebagai koalisi dekat lainnya juga menyodorkan nama Zulkifli Hasan. Sementara nama nama lain diluar koalisi sejatinya, muncul nama Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo dan yang terakhir dan patut diperhitungkan adalah nama Agus Harimurti Yudhoyono yang kini menduduki posisi sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat. AHY, dibanding beberapa nama tadi memiliki modal politik jauh lebih besar dibanding Zulhas, kader kader PKS bahkan Muhaimin Iskandar yang kini mulai bergerilya menawarkan diri menjadi Cawapres.

Berkembang juga isu bahwa Prabowo saat ini tengah dirayu menjadi Cawapres Jokowi. Namun, kabar itu buru buru ditolak oleh kader Gerindra. Akan tetapi, isu terlanjur bergulir di masyarakat. Reaksinyapun beragam. Ada yang pro dengan alasan penghematan dan rekonsiliasi, ada pula yang kontra dengan alasan jelas tidak mungkin menyatukan dua kekuatan yang selama bertahun tahun ini terbelah dan terlibat dalam perang opini tak berkesudahan di media sosial.

Tidak ada yang menjamin Prabowo akan kembali menjadi Capres, bahkan meski ia telah mengantongi rekomendasi dari partainya sendiri. Sebab, tak tertutup kemungkinan Gerindra akan mengusung capres lain selain Prabowo. Sebab itungan itungan politik harus dibahas secara cermat dan teliti. Meski Prabowo menyatakan sanggup menjadi capres dari Gerindra yang disampaikan dalam pidatonya yang selalu berapi api, politik tetaplah tidak sestatis yang dibayangkan.

Pun demikian, jika Prabowo kemudian mengambil langkah diluar dugaan, katakanlah ia menerima pinangan Jokowi menjadi Cawapres, apakah Prabowo akan bersedia, lalu jika ia bersedia, demi apa dan apa alasannya. Sebab sebagaimana tadi dituliskan, saat ini pendukung Prabowo dan Jokowi sangat sulit disatukan. Bisa bisa jika Prabowo menjadi Cawapres Jokowi, ia malah akan menerima arus balik dari pendukungnya yang selama ini terlanjur membuat garis pemisah dengan pendukung Jokowi.

Baca juga  Pengamat Nilai Suara NU Akan Terpecah di Pilpres

Poros Ketiga?

Ditengah persaingan diantara Prabowo dan Jokowi, wacana untuk memunculkan calon aternatif selain Jokowi dan Prabowo terus bergulir. Wacana ini juga diperkuat dengan kemunculan Hastag #2019GantiPresiden yang diinisiasi oleh politisi PKS Mardani Ali Sera. Memang maksud dari hastag itu jelas menolak Jokowi kembali menjadi Presiden, namun karena disampaikan oleh Mardani, maka arahnya sedikit membuat publik meyakini bahwa itu adalah bentuk dukungan kepada Prabowo. Sebab PKS disebut masih akan berkoalisi dengan Gerindra.

Namun, dibalik itu, keinginan untuk memunculkan figur lain selain Prabowo dan Jokowi juga kian deras. Di media sosial dan di masyarakat, meski tidak sehinggar binggar taggar buatan Mardani, keinginan untuk membentuk capres dari poros ketiga juga semakin mendapat simpati. Entah mungkin disebabkan publik tidak menyukai Jokowi dan Prabowo, namun hemat saya, ini disebabkan adanya ceruk pemilih yang bisa dimanfaatkan.

Dalam setiap pelaksanana survey, selalu disebutkan angka pemilih yang belum menentukan pilihan berkisar diangka 30 – 40 persen. Artinya celah ini sangat lebar untuk dimanfaatkan. Kenapa publik harus terpaku pada dua nama yang itu ke itu saja. Saya melihat gerakan yang memainkan isu “Poros Ketiga” ini perlu diamplifikasi secara masif agar 250 juta rakyat melek dan tidak hanya disodorkan nama capres yang itu ke itu aja. Ada nama baru yang lebih fresh semisal AHY, GN, YIM, Cak Imin dan lainnya.

Apalagi, jika mengacu pada angka survey itu serta ceruk pemilih yang nantinya akan diikuti oleh kaum pemilih muda, maka usia Prabowo dan Jokowi tidak bisa lagi disebut sebagai usia muda. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh para politisi itu dengan menghadirkan kaum muda yang mewakili generasi milenial. Dan kita akan lihat pada Agustus mendatang, apakah Prabowo akan menjadi King Maker, Capres, Cawapres atau muncul calon lain selain Jokowi vs Prabowo vs Calon Poros Ketiga.

Kita tunggu

Oleh Burhanuddin Khusairi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here