Pilpres 2019, Memilih di antara Dua Keburukan?

0
4072
Pilpres 2019, Memilih di antara Dua Keburukan?
sumber. jatimnet.com

Lambat tapi pasti, suara-suara pemilih yang bertekad golput semakin kuat. Bahkan gerakan ini juga merongrong intenal kedua paslon. Meski yang paling diserang gerakan ini, agaknya, paslon Jokowi-  Ma’ruf Amin.

Banyak pendukung Basuki Tjahja Purnama  garis keras (Ahoker) yang menyatakan akan golput karena Jokowi mengandeng Ma’ruf Amin. Pasalnya, Ahoker banyak yang menuding Maruf Amin sebagai pangkal-awal mengapa Ahok kemudian bisa dipenjara akibat tuduhan menodai agama.

Ada pula pendukung Mahfud MD yang bertekad golput karena “jijik” dengan intrik politik yang membuat idola mereka terlempar dari kursi bacawapres pada menit-menit akhir.

Gerakan golput berpotensi membesar apabila kasus mahar Rp 1 triliun dari Sandiaga Uno, cawapres Prabowo, kepada PKS dan PAN terus bergulir. Apalagi kalau sampai terbukti!

Perlu dicatat bahwa golput muncul akibat pemahaman bahwa ada sebagian rakyat Indonesia yang tidak melihat peluang masa depan Indonesia terhadap kandidat yang ditawarkan. Mereka pesimis atas masa depan Indonesia baik di bawah kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf Amin pun Prabowo-Sandiaga. Karena tidak ada opsi yang layak, kelompok ini merasa lebih baik golput.

Lantas, apakah golput menjadi satu-satunya solusi akibat langit gelap Indonesia ini?

Baca juga  SPRI Tuntut Pemerintah: Data Sejuta Orang Miskin Bermasalah

Tidak juga ternyata. Sebelum memilih golput, ada satu solusi yang bisa saja diambil oleh rakyat Indonesia, yakni minus malum. Pengertian sederhananya memilih yang paling sedikit keburukannya di antara semua pilihan buruk.

Lawannya adalah maximum bonum yakni memilih yang paling banyak kebaikannya di antara semua pilihan baik. Agaknya prinsip minus malum cocok untuk menjawab kondisi kebatinan kelompok yang pesimis ini.

Rasionalistas yang dipakai adalah barangkali dalam pandangan pemilih Jokowi-Ma’ruf Amin dan  Prabowo-Sandiaga sama-sama tidak bisa menggeret optimism. Tetapi di antara kedua paslon ini tentu ada yang buruk dan ada yang lebih buruk. Maka, jika banyak pemilih yang golput kemungkinan yang keluar sebagai pemenang adalah yang lebih buruk menjadi semakin besar.

Dalam konteks prinsip minus malum, jika yang buruk terpilih ada potensi besar Indonesia tidak akan bertambah maju, tetapi juga tidak mundur-mundur amat  atau kembali ke masa-masa sulit.

Sebaliknya, jika yang lebih buruk terpilih, segala capaian hari ini–kemanusiaan, demokrasi, hukum dan HAM dan sebagainya yang sudah diperjuangkan rakyat habis-habisan—berpotensi besar mundur habis-habisan ke belakang. Kehidupan rakyat Indonesia pasca Pilpres 2019 bisa bertambah buruk apabila kandidat yang lebih buruk terpilih.

Baca juga  Strategi Partai Demokrat Sulit Ditiru Parpol Lain

Lalu paslon manakah yang buruk, dan paslon manakah yang lebih buruk di antara Jokowi-Ma’ruf Amin dan  Prabowo-Sandiaga? Saya pikir ini kembali pada nurani kita masing-masing.

Silakan telisik kedua paslon ini baik-baik—jika sisi baiknya benar-benar minus, maka carilah yang tidak minus-minus amat.

Jangan sampai terjebak dengan konsepsi Jokowi telah berbuat, sementara Prabowo belum bikin apa-apa. Saya pikir konsepsi ini adalah propaganda murahan yang cuma memainkan logika supir angkota yang ugal-ugalan—dia yang duluan yang menang.

Yang perlu dilakukan sebelum menentukan pilihan adalah bertanya ke dalam hati sendiri: apakah jika Prabowo menang dalam Pilpres 2014 tempo hari, Indonesia hari ini akan jadi lebih baik ketimbang segala hal yang telah dicapai atau dihancurkan pemerintah hari ini?

Jika jawabannya “ya”, maka pilihlah Prabowo. Sebaiknya, jika prediksi kita “tidak”, maka pilihlah Jokowi.

Demikianlah!

Oleh: Bagas Wicaksono, pengamat ekonomi politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here