Poros Ketiga di Pilpres 2019?

0
1046
Poros Ketiga di Pilpres 2019?

Tidak dalam waktu yang lama lagi, tahapan pilpres 2019 akan segera dimulai. Tepatnya bulan Agustus 2018 mendatang, lonceng tanda pertarungan politik menuju Pilpres resmi diperdengarkan. Namun, dibalik itu, suasana politik yang sudah panas dan menusuk sudah dimulai. Api pertarungan politik menuju Pilpres serentak dengan Pileg itu sudah menyembur sebagai penanda bahwa semua kandidat sudah melakukan pemanasan menuju pertarungan yang sebenarnya pada 2019 yang akan datang.

Sebenarnya, peta politik menuju Pilpres sudah bisa dibaca sejak gelaran Pilkada DKI pada tahun 2016 lalu. Pada waktu itu, sebuah koalisi besar yang didukung oleh partai berkuasa mengusung pasangan Cagub/Cawagub melawan kandidat yang diusung oleh kelompok oposisi. Dan sebagaimana diketahui, koalisi berkuasa gagal melenggang ke kursi Gubernur DKI

Banyak yang berpendapat bahwa Pilkada 2017 lalu, adalah pemanasan menjelang pelaksanaan Pilpres 2019 yang akan datang. Benar atau tidak, tapi indikasi ke arah itu sudah terbaca. Dua kekuatan politik besar yang bersaing di level nasional terlibat pertarungan sengit di Pilkada adalah salah satu indikasi tersebut.

Baca juga  Ini Tiga Alasan Megawati Mesti Nyapres Gantikan Jokowi

Bola panas usai Pilkada itu juga masih terasa hingga saat ini. Saling serang dan berbalas lemparan bola panas sudah mulai terjadi di bulan Maret 2018. Seperti bermain badminton, smash-an dan manuver pukulan dan tangkisan shuttle cock terjadi begitu saja, mengalir bak air disungai di musim penghujan.

Pergumulan politik ini semakin hari dirasa semakin tidak berkesudahan dipertontonkan oleh masyarakat, yang akhirnya hanya akan melahirkan generasi sakit hati dan generasi anti move on.

Kini ditengah wacana Rematch Jokowi vs Prabowo tersebut muncul ide baru untuk mengajukan Capres alternatif. Wacana itu sudah lama didengungkan dan semakin mendapatkan reaksi setelah peta politik Pilpres makin meruncing oleh persaingan dua nama Prabowo dan Jokowi.

Kenapa poros ketiga ini perlu dihadirkan?, sederhana saja mereka tengah berpikir moderat dan objektif. Disaat situasi menjadi serba salah dan isu-isu sensitif selalu dicari untuk diangkat dan disebarluaskan guna mengalahkan lawan, maka diperlukan alternatif lain selain kedua tokoh yang bersaing.

Baca juga  Mesra dengan Golkar, Sinyal Jokowi Tolak Puan atau Budi Gunawan Jadi Cawapresnya?

Poros ketiga menjawab kebutuhan akan seorang figur alternatif yang bisa memecah kebuntuan diantara dua kubu. Satu paslon lagi di pilpres 2019 harus dihadirkan. Hadirkan seseorang yang memiliki keterwakilan. prestasi dan visioner yang tertinggi dan mampu menyentuh akar dan merengkuh awan.

Angka probabilitas untuk memenangkan kontestasi justru mengerucut jika paslon ketiga mampu melihat celah kosong yang tidak/belum diisi oleh dua kubu, seperti halnya dalam film-film fiksi India. Ketika ada dua kubu yang bersaing hangat, yang mendapatkan hasil justru satu kubu yang hanya melihat dan menyaksikan bahkan tanpa berkata satu kata.

Oleh – Firmansyah Indragani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here