Prabowo Nyapres, Ah, Sudahlah!

0
2784
Prabowo Nyapres, Ah, Sudahlah!

PolitikToday – Konon Prabowo Subianto akan deklarasi maju capres pada April mendatang. Sekali lagi, ini konon. Pasalnya, rumor rencana deklarasi Prabowo sudah tersiar beberapa kali sebelumnya, dan itu ternyata hanya harapan palsu.

Di lain sisi publik dihadapkan pada konstelasi menjelang Pilpres 2019 yang membosankan, bahkan prediksi-prediksi mengerikan. Betapa tidak? Mula-mula Jokowi sebagai calon tunggal, lalu turun jadi Pilpres 2019 adalah kompetisi mencari cawapres Jokowi, dan kini Pilpres 2019 ialah laga ulang antara Jokowi dan Prabowo. Yang mana pun yang terjadi, efeknya sama-sama bikin ngeri. Publik tidak punya kandidat alternative.

Padahal publik butuh kandidat alternative. Publik yang kurang cocok dengan Jokowi dan Prabowo harus diberi kesempatan untuk mendapatkan kandidat alternatif saat pemungutan suara ke depan.

Pentingnya kandidat alternative sudah disebut oleh survey-survei persepsi publik yang hasilnya mayoritas seragam: 1) elektabilitas Jokowi jauh meninggalkan Prabowo; 2) posisi Jokowi belum aman.

Misalnya survey LSI Denny JA terakhir. Jika pemilu diselenggarakan pada saat survey itu dilakukan, 48,50% responden akan memilih Jokowi, sedangkan 41,2 % pemilih akan memilih pemimpin baru dan 10,30% tidak menjawab atau tidak tahu. Artinya, ada 51,5% yang belum percaya bahwa Jokowi layak melanjutkan periode kedua.

Baca juga  Guru Besar Ilmu Politik UI Sebut Capres Masih Galau Tentukan Cawapres

Tapi in tak bisa jadi acuan bahwa kandidat lain itu adalah Prabowo. Faktualnya, selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo relatif jauh, rata-rata 15-25 %. Ambil contoh survey median yang mencatat elektabilitas Jokowi per Februari 2018 adalah 35 % dan Prabowo 21,2 %. Sampai survey terakhir, hasilnya tidak jauh-jauh berbeda.

Pendukung Prabowo berkilah bahwa elektabilitas Prabowo akan mendekati Jokowi apabila Prabowo sudah deklarasi dan mulai berkampanye. Ini pun bisa diperdebatkan.

Logikanya begini. Jika publik menilai Prabowo sebagai antithesis Jokowi, semestinya Prabowo bisa mengambil ceruk yang tak tergarap Jokowi—dalam survey LSI Denny JA artinya 51,5% itu. Atau minimal elektabilitas Prabowo tidak jauh-jauh amat tertinggal dari Jokowi—dalam survey median artinya dekat-dekat 35%. Faktalnya, elektabilitas Prabowo cenderung stagnan, bila tak ingin disebut terus menurun.

Artinya publik tak optimistis dengan Jokowi, tetapi ragu dengan Prabowo.

Masalah terbesarnya: Prabowo bukan orang baru. Prabowo tak bisa dibandingkan aple to aple dengan sosok alternative lainnya, semisal Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo. Dua kali pilpres adalah waktu yang cukup bagi publik untuk mengenal Prabowo, untuk menuntaskan keraguan atas dirinya. Jika hari ini publik masih ragu terhadap Prabowo, ini terang persoalan besar.

Baca juga  PPP: Katanya Ikuti Kata Ulama, tapi Hasil Ijtima Dilirik Saja Tidak

Kesimpulannya: publik menunggu kandidat alternative penantang Jokowi selain Prabowo.

Sayangnya perhatian publik terhalang akibat mitos laga ulang Jokowi dan Prabowo. Publik menunggu kandidat alternatif, tetapi pengamatannya teralihkan pada kegamangan Prabowo. Publik antijokowi terjebak pada konsepsi “apa boleh buat”, sisanya patah harapan atau mulai lirak-lirik kandidat alternative. Akibatnya kekuatan public antijokowi tidak solid.

Kondisi ini akan berubah apabila Prabowo legowo tidak maju lagi dalam Pilpres 2019. Sehingga secara otomatis publik antijokowi akan berusaha mencari kandidat alternative. Sekiranya Prabowo mau mendorong, pasti kandidat alternative akan semakin meroket sebagai pesaing Jokowi.

Ini lebih realistis ketimbang memaksakan Prabowo kembali maju dalam Pilpres 2019. Karena, jika yang terjadi Jokowi vs Prabowo, kemungkinan terpilih kembalinya Jokowi menjadi semakin besar. Pilpres jadi tidak meriah. Publik yang antiJokowi sekaligus ragu terhadap Prabowo bisa-bisa memilih golput.

Oleh: Ridwan Sugianto, warganet bermukim di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here