Prabowo Nyapres, Siapa yang Diuntungkan?

0
3094
Prabowo Nyapres di pemilu 2019, Siapa yang Diuntungkan?

Tahapan Pemilu 2019 sudah dekat. Sejumlah partai politik tengah bersiap-siap menyusun strategi untuk ambil bagian. Tidak sedikit juga partai politik yang mengambil jalan aman dengan merapat ke petahana saat ini, yaitu Jokowi.

Terhitung saat ini sudah ada 7 partai yang menyatakan diri akan mendukung Jokowi. Dari 7 partai tersebut Jokowi telah mengantongi 290 kursi dukungan parlemen. Rinciannya antara lain PDI Perjuangan 109 kursi, PPP 39 kursi, Hanura 16 kursi, Golkar 91 kursi, dan nasdem 35 kursi. Sedangkan dua partai pendukung lainnya merupakan partai baru, yakni Perindo dan PSI yang baru akan mencoba peruntungan di pemilu 2019.

Beberapa Lembaga survei menggadang-gadang pertarungan politik di 2019 akan kembali diisi oleh wajah lama. Artinya Jokowi diperkirakan akan kembali bertarung melawan Prabowo Subianto dalam memperebutkan kursi RI I tersebut. Walaupun sebenarnya Lembaga-lembaga survei tidak menutup kemungkinan akan terjadi poros ketiga selain pertarungan antara Jokowi dan Prabowo.

Poros ketiga diprediksi mungkin terjadi karena jumlah kursi yang tersisa cukup besar. Masih ada 270 kursi yang masih bisa dibagi. Apalagi kelima partai tersisa ini mempunyai jagoannya masing-masing. Tawar menawar dan tarik menarik serta adu gagasan pun akan tersaji dalam perebutan kursi ini.

Terlepas dari wacana poros ketiga tersebut, menarik menurut saya melihat pertimbangan Prabowo Subianto untuk kembali maju. Dengan usianya yang tidak lagi muda, dan hampir dipastikan lawan-lawannya di Pilpres 2019 adalah anak-anak muda. Apakah Prabowo tidak minder?

Untuk sisi kecintaan Prabowo terhadap Tanah Air, sudah barang jelas tidak perlu kita ragukan lagi. Latar belakang militer dan sejarah keluarga telah membuktikan bahwa begitu besar pengorbanannya untuk bangsa ini. Namun dengan umur dan lawan yang akan dihadapinya, apakah iya Prabowo akan tetap maju? Lalu jika Prabowo maju, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan?

Baca juga  Staf Ahli Wapres Sebut Beberapa Anggota Kabinet Akan Mundur

Jika Prabowo Subianto kembali maju, tentu ini mencerminkan lemahnya kaderisasi kepemimpinan nasional di dalam partai politik. Apalagi diketahui Prabowo telah 2 kali maju dalam kontestasi politik nasional. Sebelumnya tahun 2009 Prabowo maju sebagai wakil Megawati dan kalah, kedua pada tahun 2014 Prabowo kembali harus merasakan pil pahit ketika dikalahkan Jokowi yang relative lebih muda. Sungguh hal yang tidak elok tentunya jika Prabowo mengakhiri karir politiknya kedepan dengan kekalahan yang ketiga kali.

Akan berbeda jika Prabowo pada Pilpres 2019 hanya menjadi kingmaker. Prabowo memang dikenal banyak relasi dan jaringan yang kuat. Tentunya tugas berat adalah kepada siapa harapan itu akan dijatuhkan.

Memang sampai saat ini sejumlah kader Partai Gerindra masih “kekeuh” mendukung Prabowo untuk maju. Menurut saya, jika itu terjadi, maka yang diuntungkan dari majunya Prabowo adalah para “broker” politik. Ya, orang-orang yang hanya ingin menguras harta kekayaan Prabowo.

Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini memiliki harta tidak bergerak berupa 4 bidang tanah senilai Rp 105.892.190.000, 8 unit alat transportasi senilai Rp 1.432.500.000, usaha peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pertambangan, dan usaha lainnya senilai Rp 12.196.000.000, serta barang-barang seni dan antik yang dimilikinya senilai Rp 3.000.500.000.

Baca juga  Pengamat: Pertemuan AHY dan Puan Buka Peluang Demokrat dan PDI-P Berkoalisi

Prabowo juga memiliki harta bergerak lain sebanyak 127 jenis dengan nilai Rp 1.221.727.000, surat berharga Rp 1.526.182.000.011 dan USD 7.500.000. uang tunai, deposito, tabungan, giro dan setara kas lainnya Rp 20.496.657.361 (4 rekening) dan USD 3.134 (1 rekening). Namun dia juga memiliki utang sebesar Rp Rp 28.993.970.

Bukankah pada Pilpres sebelumnya ada analisa, bahwa salah satu sebab kekalahan Prabowo disebabkan oleh ketulusan dan kepercayaan Prabowo yang dikhinati oleh orang-orang ring satunya. Tentunya ini harus menjadi pertimbangan juga. Menimbang ketulusan Prabowo, saya menilai Prabowo lebih cocok menjadi negarawan ketimbang politisi.

Selain itu, hal yang paling ditakutkan ketika Prabowo maju adalah terbukanya kembali luka lama di antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Apalagi akhir-akhir ini Prabowo dikabarkan dekat kelompok yang mengusung politik identitas. Inilah yang dikhawatirkan, benturan di antara masyarakat ke depan tentunya tidak terelakkan. Yang merasakan dampak kerugian paling besar adalah masyarakat kalangan bawah yang selama ini tidak tahu menahu dengan politik.

Apa Prabowo yakin akan menjadikan rakyat tidak bersalah sebagai tumbal demi kepentingan politiknya atau kepentingan politik koleganya? Tentunya ini menjadi pertanyaan mendasar. Apakah Prabowo telah berubah karena ego politiknya? Semoga tidak demikian adanya.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here